REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Solidaritas Indonesia terhadap Palestina kembali ditegaskan dari lingkungan akademik. Universitas Indonesia (UI) menilai dukungan terhadap kemerdekaan Palestina bukan sekadar persoalan konflik di Timur Tengah, melainkan bagian dari konsistensi Indonesia terhadap prinsip anti-kolonialisme dan hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi buku dan pameran bertajuk Towards Palestinian Liberation: Anti-Colonialism Solidarity from Indonesia for Palestine yang digelar di Gedung Mochtar Riady, FISIP UI, Kampus Depok, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar Klaster Solidaritas Selatan, Pembangunan dan Transformasi Tata Kelola Berkeadilan, Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI, bersama Transnational Institute, UI Palestine Center, KontraS, BDS Indonesia, Republika, Adara, SMART 17, INADIS Horizon, Amnesty International, CHIKIGO, Aqsa Working Group, dan Student Justice for Palestine (SJP) UI.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa, dan Alumni UI; Prof. Hamdi Muluk, saat membuka acara mengatakan, isu Palestina tidak dapat dipandang sebagai persoalan yang jauh dari Indonesia.
Menurut dia, persoalan Palestina berkaitan dengan kemanusiaan, keadilan, hak menentukan nasib sendiri, serta jejak kolonialisme yang masih memengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
“Solidaritas Indonesia terhadap Palestina dapat kita pahami sebagai bagian dari konsistensi terhadap prinsip tersebut: bahwa setiap bangsa memiliki hak untuk hidup merdeka, menentukan masa depannya sendiri, dan menikmati kehidupan yang bermartabat,” ujar Hamdi.
Ia mengutip Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
Hamdi menekankan, solidaritas terhadap Palestina tidak semestinya berhenti pada simpati. Dukungan tersebut perlu dibangun berdasarkan pengetahuan dan pemahaman yang utuh mengenai persoalan kolonialisme serta perjuangan kemerdekaan Palestina.
Palestina dan sejarah anti-kolonial Indonesia
Ketua Klaster Riset Solidaritas Selatan FISIP UI, Asra Virgianita, mengatakan kegiatan solidaritas terhadap Palestina bukan hal baru bagi Departemen Hubungan Internasional FISIP UI.
“Kami sudah menjalankan kegiatan seperti ini sejak tahun 2024, dan berharap dapat terus berkembang menjangkau seluruh kalangan masyarakat,” ujarnya.
Asra menegaskan, perjuangan kemerdekaan Palestina merupakan persoalan kemanusiaan, bukan semata-mata isu keagamaan. Karena itu, menurut dia, isu tersebut perlu terus dibicarakan dalam ruang akademik dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Perspektif anti-kolonial juga menjadi benang merah dalam diskusi buku Towards Palestinian Liberation: Global Perspective on Anti Colonial Resistance & Solidarity.
Penulis buku sekaligus perwakilan Transnational Institute, Hamza Hamouchene, mengatakan buku tersebut berupaya memperkaya pengetahuan mengenai perjuangan pembebasan dan praktik solidaritas, bukan hanya untuk rakyat Palestina, tetapi juga generasi mendatang.
Ia menilai perjuangan Palestina tidak cukup dipahami sebagai persoalan kemanusiaan. Perjuangan tersebut juga berkaitan dengan persoalan politik dan perlawanan terhadap kolonialisme serta kepentingan imperialis.
“Sebagai bagian dari perjuangan membangun dunia yang lebih baik, buku ini berupaya mendokumentasikan dan menganalisis kenyataan demi mengubahnya,” kata Hamza.
Menurut dia, teori tanpa praktik tidak cukup untuk mendorong perubahan. Karena itu, dokumentasi dan analisis mengenai berbagai gerakan pembebasan perlu dihubungkan dengan praktik solidaritas.
Pandangan serupa disampaikan editor Abi Bae. Menurut dia, buku tersebut berupaya menghubungkan kembali berbagai perjuangan antikolonial dan solidaritas transnasional dengan belajar dari sejarah perjuangan pembebasan Palestina di berbagai belahan dunia.
Abi juga menyoroti kembali semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 sebagai bagian penting dari sejarah solidaritas negara-negara Global South.
“Sejak terjadinya genosida, kita telah menyaksikan kebangkitan kembali gerakan global. Salah satu komponen utama gerakan ini adalah solidaritas Selatan-Selatan untuk kembali ke makna internasionalisme dunia ketiga dan sejarahnya,” ujarnya.
Dari Bandung ke Palestina
Dari perspektif Indonesia, akademisi Departemen HI FISIP UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D., menilai buku Towards Palestinian Liberation hadir pada momentum yang penting.
Menurut Shofwan, perjuangan kemerdekaan Palestina memiliki keterkaitan erat dengan sejarah panjang perjuangan anti-kolonial Indonesia.
“Kemerdekaan Palestina terkait erat dengan sejarah panjang perjuangan anti-kolonial Indonesia. Soekarno selalu menegaskan Indonesia sebagai aktor sentral dari gerakan kemerdekaan global, dan tatanan kolonial itu sesungguhnya masih ada hingga kini,” ujarnya.
Sementara itu, Nadine Sherani Salsabila dari KontraS mengingatkan pentingnya memahami persoalan Palestina dalam rentang sejarah yang lebih panjang, terutama sejak 1948, bukan hanya sejak eskalasi perang pada Oktober 2023.
Menurut Nadine, berbagai bentuk dukungan terhadap Palestina tetap memiliki arti penting. Namun, ia mempertanyakan bagaimana solidaritas tersebut dapat dipelihara sehingga tidak berhenti sebagai respons sesaat.
“Sekecil apa pun yang kita lakukan untuk Palestina, itu tetap terhitung sebagai bentuk solidaritas. Namun pertanyaannya, apa langkah selanjutnya agar memori kolektif ini terus kita jaga dan narasikan,” katanya.
Diskusi yang dipandu Agung Nurwijoyo, M.Sc., dari Klaster Riset Solidaritas Selatan itu juga melibatkan pelajar dan mahasiswa dalam sesi tanya jawab.
Sejumlah isu dibahas, mulai dari keberlanjutan gerakan solidaritas Palestina di tengah dinamika politik domestik Indonesia, gerakan boikot terhadap produk yang terafiliasi dengan Israel, hingga hubungan eksploitasi sumber daya mineral kritis dengan kedaulatan negara-negara Global South.
Perwakilan Transnational Institute, Rachmi Hertanti, turut mengangkat isu ekstraksi sumber daya mineral kritis dan kaitannya dengan kedaulatan negara-negara Selatan.
Solidaritas melalui seni
Selain diskusi, kegiatan tersebut menghadirkan pameran *Solidarity through Art* di Selasar Gedung Mochtar Riady lantai 1. Pameran menampilkan karya dari Republika, Adara, SMART 17, Asosiasi Fana, dan Amnesty International.
Sejumlah booth juga menyediakan merchandise yang seluruh hasil penjualannya didonasikan untuk Palestina.
Solidaritas juga disampaikan melalui musik. Bella Fauzi, perwakilan Tanah Para Nabi Movement, membawakan dua lagu, yakni “Tanah Para Nabi” dan “Our Power”. Lagu terakhir merupakan karya kolaborasi Indonesia-Malaysia yang terinspirasi dari gerakan Global Sumud Flotilla.
Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa solidaritas terhadap Palestina dapat diwujudkan melalui berbagai medium, mulai dari riset dan pendidikan, seni, musik, kampanye publik hingga gerakan masyarakat sipil.
Pada akhir diskusi, para peserta diajak melihat perjuangan Palestina bukan sebagai rangkaian peristiwa yang berdiri sendiri. Perjuangan tersebut ditempatkan dalam sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.
Penyelenggara berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai diskusi sehari. Jejaring pengetahuan dan solidaritas antara akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, serta publik diharapkan terus berkembang.
Bagi UI, dukungan terhadap Palestina sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga prinsip Indonesia yang sejak awal berdiri menolak kolonialisme dan mendukung hak setiap bangsa untuk merdeka.

6 hours ago
7
















































