REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Desakan agar Amerika Serikat kembali membuka pintu jet tempur siluman F-35 bagi Turki semakin menguat. Namun, di balik perdebatan mengenai sanksi dan hubungan dua sekutu NATO tersebut, terdapat persoalan yang jauh lebih besar: keseimbangan kekuatan militer di Timur Tengah.
Tujuh organisasi Turki-Amerika mengirim surat kepada anggota Kongres Amerika Serikat meminta Washington mendukung penjualan F-35 kepada Ankara sekaligus mencabut sanksi Countering America's Adversaries Through Sanctions Act atau CAATSA yang dikenakan terhadap Turki.
Surat tersebut telah dikirim kepada lebih dari 50 anggota Kongres pada Juli. Para penandatangan antara lain Assembly of Turkish American Associations, Turkish American Coalition, Federation of Turkish American Associations, Turkish American National Steering Committee, MUSIAD USA, Turkish American Chamber of Commerce of the South, dan ASKON USA.
"Sebagai sekutu NATO selama hampir 75 tahun dan mitra keamanan serta diplomatik di garis depan, akses berkelanjutan Republik Turki terhadap sistem pertahanan AS melayani kepentingan strategis inti Amerika," demikian salah satu bagian surat tersebut.
Menurut kelompok-kelompok itu, penjualan F-35 bukan semata transaksi senjata. Mereka menyebutnya sebagai investasi untuk kohesi NATO, stabilitas kawasan, dan hubungan strategis Amerika-Turki, Anadolu Agency dan Daily Sabah pada Rabu (19/8/2026).
Argumen lainnya cukup strategis. Membuka kembali akses F-35 dinilai akan mempertahankan Ankara di dalam ekosistem persenjataan Amerika dan NATO ketimbang mendorong Turki mencari alternatif di luar Barat. Tetapi ada satu negara yang sangat tidak nyaman dengan kemungkinan itu: Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka meminta Washington tidak memberikan F-35 kepada Turki.
Dalam wawancara dengan CNN pada 7 Juli 2026, Netanyahu mengatakan: "Itu akan menghancurkan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah karena Turki memiliki aspirasi yang agresif," kata Netanyahu, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 8 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa F-35 bagi Ankara bukan hanya persoalan modernisasi angkatan udara. Jet itu berpotensi mengubah kalkulasi strategis antara dua kekuatan militer terbesar di kawasan.
Persaingan Turki-Israel Kian Nyata
Kekhawatiran Israel terhadap penguatan militer Turki juga semakin relevan jika melihat perkembangan terbaru di Suriah. Pada Selasa (18/8/2026), Israel menyerang Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Suriah barat laut. Serangan terjadi beberapa jam setelah delegasi Turki mengunjungi fasilitas tersebut untuk melihat pekerjaan rehabilitasi pangkalan.
Israel menyebut kemungkinan penempatan pasukan Turki di sana sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya. Turki menolak alasan tersebut dan mengecam serangan Israel. Amerika Serikat bahkan kini berupaya membangun mekanisme dekonflik formal antara Turki, Israel, dan Suriah agar benturan militer yang tidak disengaja dapat dicegah.
Dengan kata lain, kekhawatiran Israel terhadap F-35 Turki tidak muncul dalam ruang hampa. Kedua negara semakin berhadapan dalam sejumlah arena geopolitik, terutama Suriah. Ankara memperbesar pengaruhnya terhadap pemerintahan baru Suriah, termasuk melalui kerja sama keamanan dan pelatihan militer. Sementara Israel berusaha mencegah munculnya kekuatan militer di Suriah yang dianggap dapat mengancam kebebasan operasinya.
Jika Turki kemudian memperoleh pesawat siluman dengan kemampuan penetrasi pertahanan udara seperti F-35, kalkulasi Israel terhadap Ankara akan menjadi sangat berbeda.

10 hours ago
6
















































