Tragedi Ceuta: Sukses Lolos Perbatasan Malah Berujung Kuburan

9 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lebih dari dua pekan setelah puluhan ribu orang menerjang perbatasan Maroko-Spanyol, tragedi Ceuta belum selesai. Orang-orang memang tak lagi berbondong-bondong berenang menuju wilayah Eropa itu. Pagar kembali dijaga. Polisi ditambah. Penghalang terapung telah dipasang di laut.

Tetapi di sebuah pemakaman Muslim di pinggiran kota, pekerjaan lain justru sedang dilakukan. Lebih dari 60 makam disiapkan di kompleks Sidi Embarek untuk korban gelombang migrasi akhir Juli. Hingga 14 Agustus 2026, sebagian besar jenazah yang akan dimakamkan di Ceuta belum memiliki identitas yang diketahui. Kurang dari 20 jenazah lain yang disebut berasal dari Afrika sub-Sahara direncanakan dimakamkan di pemakaman Katolik kota tersebut.

Hanya enam korban yang telah teridentifikasi hingga tanggal itu. Tiga dikenali lewat sidik jari, tiga lainnya melalui DNA. Data yang dikumpulkan sebelumnya menyebut keenamnya adalah pria dewasa berkewarganegaraan Maroko.

Mereka yang belum dikenali tidak akan sekadar dikubur lalu dilupakan. Setiap jenazah didaftarkan menggunakan kode personal dalam catatan sipil. Setiap makam diberi nomor identifikasi dan segel pengaman. Jika keluarga suatu hari berhasil membuktikan identitas korban melalui DNA atau cara lain, jasad dapat dieksumasi dan dipulangkan setelah mendapat izin hakim.

Itulah wajah lain tragedi Ceuta: perjalanan menuju Eropa yang bagi sebagian orang berakhir bukan dengan pekerjaan atau kehidupan baru, tetapi dengan sebuah nomor di atas makam, sebagaimana diberitakan La Republicca pada Senin (17/8/2026).

Krisis Belum Berakhir

Pada Ahad, 16 Agustus, ratusan migran yang masih berada di Ceuta menggelar aksi di sebuah pantai kota. Mereka meminta suaka dan menolak dikembalikan ke Maroko.

Reuters memperkirakan masih terdapat sekitar 5.000 hingga 8.000 migran di Ceuta. Sebagian tinggal dalam kondisi serba terbatas di Pantai El Trampolín dan kawasan pinggiran kota.

Sehari kemudian, Senin, 17 Agustus, Pemerintah Spanyol mengumumkan empat fasilitas tambahan untuk penanganan kemanusiaan dengan kapasitas total 1.500 orang. Tiga akan dikelola pemerintah pusat dan satu oleh Pemerintah Kota Otonom Ceuta.

Lebih dari dua pekan telah berlalu sejak gelombang manusia menerjang kota tersebut. Namun Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara dengan penduduk sekitar 80 ribu jiwa, masih mencoba memahami bagaimana sebuah perbatasan yang selama bertahun-tahun dijaga ketat mendadak dilalui puluhan ribu orang dalam waktu sangat singkat. Terutama, berapa banyak yang sebenarnya tidak pernah berhasil mencapai seberang.

72 Ribu Orang dalam Sekitar 24 Jam

Ceuta bersama Melilla merupakan dua kota otonom Spanyol di Afrika Utara. Keduanya membentuk satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika. Karena itulah Ceuta selama bertahun-tahun menjadi salah satu titik yang diburu orang yang ingin mencapai wilayah Eropa.

Gelombang terakhir mulai membesar pada 29 Juli. Sehari kemudian, jumlahnya meledak. Rekaman pada 30 Juli memperlihatkan ratusan orang berenang atau mengapung menggunakan ban dari pantai Maroko, sementara sebagian lainnya menerobos jalur darat. Reuters juga melihat kelompok-kelompok pemuda berjalan ke utara dari wilayah Maroko menuju perbatasan.

Angka awal terus berubah seiring kekacauan berlangsung. Pemerintah Spanyol semula menyebut sekitar 50 ribu orang masuk. Pemerintah lokal Ceuta memperkirakan hingga 60 ribu.

Setelah data diperbarui, Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska pada 4 Agustus menyebut 72 ribu orang masuk secara tidak teratur ke Ceuta dalam gelombang tersebut. Lebih dari 70 ribu di antaranya saat itu telah meninggalkan kota, sebagian besar kembali ke Maroko.

Reuters kemudian juga menggunakan estimasi sekitar 72 ribu orang yang memasuki Ceuta dalam periode sekitar 24 jam. Jumlah tersebut hampir menyamai seluruh populasi kota yang mereka masuki. Tetapi orang-orang yang muncul di pantai Ceuta hanyalah mereka yang berhasil. Di laut dan sekitar pemecah ombak El Tarajal, cerita yang berbeda sedang berlangsung.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |