Wisudawan Non-Muslim Asal NTT Rasakan Toleransi dan Inklusivitas di UMJ

15 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah keberagaman Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menjadi ruang pendidikan yang terbuka bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang agama.

Sejumlah mahasiswa non-Muslim memilih menempuh pendidikan di UMJ karena kualitas akademik, lingkungan kampus yang inklusif, serta nilai toleransi yang diterapkan dalam kehidupan kampus sehari-hari.

Wilfridus Kado Wisudawan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) beragama Kristen dari Studi Magister Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta (SPs UMJ).

Ia memilih UMJ karena memiliki kualitas dan reputasi yang sudah terakreditasi serta memiliki kurikulum yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman.

Wilfridus menjelaskan, integrasi teknologi dalam pedagogi adalah hal mutlak. UMJ menawarkan ekosistem akademik yang mendukung pengembangan kompetensi digital tersebut, ditunjang oleh dosen-dosen yang pakar di bidangnya.

Selain itu, fleksibilitas dan keterbukaan UMJ terhadap mahasiswa dari berbagai latar belakang menjadi nilai tambah yang memantapkan pilihan dirinya.

Toleransi di UMJ

Sejak hari pertama kuliah, Wilfridus merasa kampus Muhammadiyah menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme akademik, Khususnya di UMJ. Tidak ada sekat atau perlakuan diskriminatif, semua mahasiswa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, berdiskusi, dan berkembang.

“Toleransi di UMJ bukan sekadar jargon, melainkan tindakan nyata,” ujarnya, dikutip Ahad (24/5/2026).

UMJ memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi gagasan akademik tanpa perlu khawatir latar belakang agama. Saat berdiskusi kelompok atau menyusun riset, yang dinilai adalah objektivitas ilmiah dan kualitas pemikiran.

“Ruang untuk berdialog antarumat beragama terbuka lebar secara sehat, di mana perbedaan tidak dianggap sebagai pemisah, melainkan kekayaan perspektif,” tambahnya.

Tantangan dalam Berkuliah

Tantangan yang Wilfridus rasakan lebih bersifat adaptasi kultural terhadap istilah-istilah atau tradisi keislaman yang sering digunakan dalam pembuka perkuliahan. Namun, tantangan ini sama sekali tidak menjadi hambatan.

“Rekan-rekan mahasiswa dan para dosen sangat inklusif dan dengan senang hati menjelaskan, sehingga proses adaptasi sosial dan akademik berjalan dengan sangat alami dan cepat,” jelasnya.

Pengalaman ini semakin memperkuat keyakinan Wilfridus bahwa institusi pendidikan berbasis agama Islam ataupun kampus Muhammadiyah, mampu tampil sebagai payung yang teduh bagi semua golongan. Ia melihat bahwa kolaborasi lintas latar belakang adalah kunci utama untuk memajukan pendidikan nasional.

Kesan Berkuliah di UMJ

Wilfridus mengatakan berkuliah di UMJ meningkatkan kapasitas berpikir strategis dan praktis dalam merancang ekosistem digital di sekolah. Ia belajar bagaimana mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), mengelola platform learning management system (LMS), dan melakukan riset pengembangan instruksional yang berdampak nyata.

“Jejaring profesional dan kedewasaan cara pandang tentang keberagaman menjadi modal berharga yang saya bawa pulang ke daerah asal,” ujarnya.

Menurutnya Muhammadiyah sangat menekankan etos berkemajuan bagaimana untuk terus berinovasi dan tidak statis. Nilai ini sangat sejalan dengan semangat Teknologi Pendidikan. Selain itu, nilai memanusiakan manusia tanpa memandang suku, ras, atau agama sangat terasa dalam interaksi sehari-hari di kampus.

Pesan untuk Calon Mahasiswa

Kampus Muhammadiyah, seperti UMJ adalah lembaga pendidikan berasaskan amanah, profesionalisme, dan inklusivitas tinggi. Kuliah di UMJ, memberikan kesempatan langka untuk memperluas cakrawala, belajar merawat kebhinekaan secara nyata, dan mendapatkan kualitas pendidikan yang unggul.

“Jangan pernah ragu, karena anda akan dinilai berdasarkan integritas akademik dan kontribusi pemikiran Anda, bukan berdasarkan keyakinan Anda,” pesannya.

Wilfridus berharap UMJ terus mempertahankan dan memperkuat komitmennya sebagai kampus yang inklusif, humanis, dan berkemajuan.

Semoga UMJ, hatap dia, terus membuka ruang-ruang dialog budaya dan akademik yang mempertemukan berbagai latar belakang mahasiswa, sehingga UMJ dapat terus menjadi laboratorium toleransi yang menginspirasi kampus-kampus lain di Indonesia.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |