Serang Iran, UEA Bakal Makin Dikucilkan di Timur Tengah

11 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, Laporan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) secara diam-diam melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran bersamaan dengan agresi AS-Israel memicu kekhawatiran konflik meluas di Teluk. Meski begitu, sejauh ini negara-negara di kawasan mengucilkan UEA terkait aksi tersebut.

Serangan UEA terhadap Iran, yang diklaim sebagai pembalasan atas serangan Iran terhadap fasilitas migasnya. Iran menekankan bahwa balasan itu adalah serangan terhadap pangkalan militer dan aset AS di UEA yang dipakai menyerang Iran. Hanya dipisah Selat Hormuz, UEA adalah penampung pangkalan militer AS yang terdekat dengan Iran.

Aksi UEA termasuk serangan terhadap Pulau Lazan di Iran tepat sebelum gencatan senjata pada 7 April diumumkan, Wall Street Journal melaporkan. Berita ini kemungkinan akan menjadikan UEA sebagai target yang lebih jelas bagi Iran jika gencatan senjata runtuh dan AS serta Iran memulai kembali konflik. 

Laporan Wall Street Journal memberikan rincian tentang bagaimana ketegangan diplomatik selama ini meluas ke permusuhan militer, dengan merujuk pada gambar yang diduga menunjukkan jet tempur Mirage Prancis dan drone Wing Long China (keduanya digunakan oleh UEA) beroperasi di Iran.

UEA telah mengisyaratkan pada saat itu bahwa mereka ingin melakukan operasi pembalasan, dan tidak hanya mempertahankan instalasi minyak dan pelabuhannya. Iran pada saat itu juga menuduh UEA dan Kuwait terlibat dalam serangan AS dan Israel. 

Dalam pertempuran sebelumnya yang dimulai pada 28 Februari, UEA telah dipilih sebagai target serangan rudal dan drone oleh Iran. Serangan balasan ini memojokkan citra UEA di kawasan. Negara tersebut sebelumnya dinilai berperan dalam membantu kelompok pemberontak melancarkan genosida di Sudan.

UEA juga sendirian di antara negara-negara Teluk mengakui kedaulatan Somaliland bersama dengan Israel. Sementara aksi UEA menyalurkan bantuan militer bagi pemberontak di Yaman selatan memicu aksi Saudi melakukan serangan militer ke wilayah tersebut.

UEA sejauh ini masih gagal membujuk Qatar atau Arab Saudi untuk berbuat lebih banyak dalam melawan serangan Iran ke pangkalan AS atau blokade di Selat Hormuz yang dianggap Teheran sebagai tindakan pembalasan yang diperlukan terhadap serangan AS. 

Penilaian intelijen Iran selalu menunjukkan bahwa beberapa negara Teluk mengizinkan wilayah udara atau pangkalan AS mereka digunakan oleh pasukan Amerika untuk menyerang Iran. Namun, belakangan AS dan Kuwait menutup akses bagi AS ke pangkalan militer di wilayah mereka.

Sementara UEA yang menyadari kondisinya yang terjepit belakangan kian mendekat ke Israel. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengatakan Israel telah mengirimkan baterai dan personel Iron Dome untuk meningkatkan pertahanan UEA. 

Menjelaskan posisi Saudi, Turki al-Faisal, mantan duta besar Arab Saudi untuk AS, menegaskan dalam sebuah artikel Arab News minggu ini bahwa Saudi menahan diri dari menyerang Iran adalah tindakan yang bijaksana. Dia menulis “jika rencana Israel berhasil memicu perang antara kami dan Iran, wilayah tersebut akan berubah menjadi kehancuran, dan Israel akan berhasil memaksakan kehendaknya di wilayah tersebut, dan tetap menjadi satu-satunya aktor di regional kami”. 

Jika Arab Saudi terlibat perang habis-habisan saat ini, maka fasilitas minyak di pantai timur akan hancur, pabrik desalinasi akan hancur, ibadah haji akan terkena dampak bencana, dan proyek Vision 2030 akan terhenti, demikian pendapat yang dikemukakan. 

Permusuhan UEA terhadap Iran sebagian mencerminkan perbedaan ideologi yang sudah berlangsung lama, termasuk kesediaan UEA untuk menandatangani Perjanjian Abraham yang menormalisasi hubungan dengan Israel, namun juga keyakinan bahwa UEA dijadikan sasaran gangguan oleh Iran karena hubungannya dengan Israel. 

Gangguan terhadap UEA yang dikonfirmasi termasuk penutupan pabrik gas terbesar UEA selama hampir dua tahun karena serangan Iran bulan lalu. Pemiliknya, Adnoc Gas, mengatakan pabrik tersebut baru akan diperbaiki sepenuhnya pada tahun depan. 

Tujuannya adalah untuk memulihkan kapasitas pemrosesan kompleks tersebut menjadi 80 persen pada akhir tahun 2026, dengan kapasitas penuh tercapai pada tahun 2027, kata perusahaan tersebut pada hari Selasa. 

Sikap UEA juga belakangan berkebalikan dengan upaya membangun aliansi diplomatik baru di Timur Tengah. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, memuji kuartet negara yang menghindari konflik dengan Iran. “Semua keadaan di kawasan ini mengarah pada aliansi yang menyatukan Pakistan, Arab Saudi, Turki, dan Qatar.” 

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengungkapkan salah satu motif paling mendasar dari kuartet tersebut, adalah kewaspadaan atas aksi “ekspansionisme Israel”, yang “tetap menjadi tantangan nomor satu bagi stabilitas dan keamanan di kawasan kami”. 

“Apa yang dialami negara-negara Teluk tidak boleh menyebabkan hilangnya fokus terhadap Gaza. "Ekspansionisme di Gaza, Beirut, Tepi Barat dan Suriah telah memakan banyak korban jiwa dan memaksa lebih banyak orang mengungsi. Negara-negara di kawasan dan komunitas internasional harus lebih sensitif terhadap masalah ini," katanya. 

Sementara, pers Kuwait menerbitkan nama empat anggota IRGC yang mencoba menyusup ke Pulau Bubiyan dengan kapal nelayan dalam sebuah insiden awal bulan ini. UEA mengeluarkan pernyataan yang menyatakan solidaritas dengan Kuwait dalam upaya menangkis “tindakan permusuhan dan teroris” IRGC. 

Iran sejauh ini menyangkal tudingan infiltrasi tersebut. Duta Besar Iran untuk Kuwait dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri untuk mendengarkan kemarahan Kuwait atas serangan terhadap angkatan bersenjatanya. Beberapa laporan Kuwait menyoroti kehadiran China dan bukan AS di pulau tersebut.

Sementara, Iran mengadakan pembicaraan dengan Oman pada hari Selasa mengenai rencananya untuk mengatur ulang administrasi pelayaran yang melewati Selat Hormuz, termasuk dengan mengenakan biaya untuk layanan kepada perusahaan pelayaran.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |