REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH – Serangan-serangan pemukim ilegal Israel di Tepi Barat makin hari kian menjadi-jadi. Belakangan, sekolah-sekolah Palestina jadi sasaran.
Dalam insiden terkini, dua warga Palestina, termasuk seorang anak sekolah berusia 14 tahun, syahid setelah pemukim Israel melepaskan tembakan di dekat sebuah sekolah di al-Mughayyir. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan Aws al-Naasan (14) dan Jihad Abu Naim (32) syahid dalam serangan yang menyebabkan tiga orang lainnya terluka itu.
Ketua dewan lokal mengatakan kepada Reuters bahwa pemukim Israel telah memasuki desa dan melepaskan tembakan di dekat sebuah sekolah – pertama terhadap siswa, dan kemudian terhadap orang lain yang tiba di lokasi kejadian. Saksi mata mengatakan para pemukim kemudian diikuti oleh tentara Israel.
Rekaman kejadian itu menunjukkan seorang pemukim yang mengenakan seragam militer, yang oleh para aktivis diidentifikasi sebagai seseorang yang dikenal karena serangan sebelumnya di desa tersebut, membawa senapan saat ia bergerak perlahan menuju al-Mughayyir sebelum berjongkok dan menembakkan setidaknya delapan peluru ke arah sekolah. Video yang direkam di luar sekolah menunjukkan darah berceceran di seberang jalan saat suara tembakan terdengar.
Laki-laki dan anak laki-laki, tua dan muda, terlihat berlari dengan panik dan meminta bantuan, sementara anak-anak dan orang dewasa yang terluka – termasuk seorang pria dengan tubuh terbuka dan berlumuran darah.
Video yang diperoleh CNN menunjukkan momen Aws, yang duduk di bangku kelas sembilan, ditembak dan dibunuh. Teman-temannya terlihat bergegas ke arahnya dan membawa tubuhnya pergi. Warga Palestina kedua yang terbunuh, Abu Naim, adalah orang tua di sekolah tersebut yang tinggal di dekatnya.
Dia bergegas ke sana setelah mendengar suara tembakan dan tertembak, kata kepala sekolah, Abu-Assaf. Seorang saksi, Kathem al-Haj Ahmed (57) mengatakan kepada Reuters bahwa para pemukim tiba lebih dulu, menyerang sekolah desa.
Warga Palestina di Tepi Barat sering menjadi sasaran serangan tak beralasan yang dilakukan oleh pemukim Israel. “Ini adalah kenyataan yang kami alami di desa al-Mughayyer; mereka bertujuan untuk menggusur kami, dan baik tentara maupun pemukim bertukar peran di antara mereka,” katanya.
Pasukan penjajahan Israel mengatakan pasukan dikirim ke al-Mughayyir – sebuah desa yang menurut penduduk hampir setiap hari menghadapi serangan pemukim – setelah adanya laporan bahwa batu telah dilemparkan ke sebuah kendaraan Israel yang membawa warga sipil dan seorang tentara cadangan. Penumpang kemudian meninggalkan mobil dan melepaskan tembakan ke arah apa yang disebut militer sebagai “tersangka”.
IDF mengatakan tentara kemudian melakukan intervensi untuk membubarkan yang disebutnya bentrokan dengan kekerasan. Sebuah sumber militer mengatakan kepada Guardian bahwa seorang tentara cadangan telah diskors dari tugas cadangannya sambil menunggu kesimpulan dari penyelidikan kriminal oleh polisi militer, dan senjatanya disita.
Penembakan di al-Mughayyir, yang berjarak sekitar 25 km timur laut Ramallah, adalah peristiwa terbaru yang digambarkan oleh kelompok hak asasi manusia sebagai peningkatan kekerasan terhadap warga Palestina yang dilakukan oleh pemukim dan tentara Israel.
Dalam insiden terpisah pada hari Senin, aktivis mengatakan para pemukim menggunakan buldoser untuk menghancurkan sebuah sekolah di Hammamat al-Maleh, dekat Tayasir di utara lembah Jordan.
Di tempat lain, tokoh masyarakat mengatakan pemukim dari pemukiman Karmiel memasang kawat berduri di dekat Umm al-Khair di perbukitan Hebron Selatan, menghalangi jalur yang digunakan anak-anak untuk mencapai sekolah. Khaleel Alhathaleen, ketua dewan desa Umm al-Khair, mengatakan penutupan tersebut menghambat pergerakan siswa dan mengganggu pendidikan mereka.
Setelah lebih dari 40 hari sekolah ditutup selama perang AS-Israel melawan Iran, anak-anak di Umm al-Khair kembali minggu lalu dan menemukan pemukim telah memagari jalan mereka ke sekolah. Ketika mereka mencoba untuk lewat, warga mengatakan tentara menembakkan gas air mata dan granat setrum, sehingga membuat banyak anak terlalu takut untuk kembali.
Perluasan pemukiman di Tepi Barat telah meningkat di bawah pemerintahan Israel di bawah Benjamin Netanyahu, dengan sekitar 700.000 pemukim kini tinggal di sana di antara sekitar 2,7 juta warga Palestina.
Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 1.152 warga Palestina, termasuk 239 anak-anak, telah syahid di Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023, dan lebih dari 11.800 orang terluka.
Israel tak pernah mengadili para pemukim karena membunuh warga sipil Palestina di Tepi Barat yang diduduki sejak awal dekade ini, berdasarkan analisis data hukum dan catatan publik oleh the Guardian.

12 hours ago
8












































