REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Pemerintah Lebanon terus mencatat peningkatan jumlah warganya yang terbunuh akibat agresi Israel. Pada Ahad (26/4/2026), setidaknya sebanyak 13 warga Lebanon tewas dan 30 lainnya mengalami luka-luka terimbas serangan Israel.
Dilaporkan Anadolu Agency, Kementerian Kesehatan Lebanon mengungkapkan, dengan korban terbaru, jumlah warga Lebanon yang tewas akibat serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah menembus 2.509 orang. Sementara korban luka sebanyak 7.755 orang.
Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah. Sebab saat ini Israel masih menggempur wilayah Lebanon. Pada Ahad, militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi baru untuk wilayah Lebanon selatan.
HAri itu juga, serangan Israel menewaskan 14 orang, termasuk dua anak-anak dan dua wanita, kata Kementerian Kesehatan. Sebuah pernyataan, yang dikutip oleh media pemerintah Lebanon, mengatakan 37 orang terluka dalam serangan Israel, termasuk tiga wanita.
Israel, yang melaporkan seorang tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan, mengatakan pihaknya dapat mengambil tindakan terhadap “serangan yang direncanakan, akan terjadi, atau sedang berlangsung”.
“Ini berarti kebebasan bertindak tidak hanya untuk menanggapi serangan… tetapi juga untuk mencegah ancaman langsung dan bahkan ancaman yang muncul,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Israel memerintahkan penduduk Lebanon di wilayah terkait untuk meninggalkan tujuh kota yang terletak di luar "zona penyangga" yang diduduki. Kota-kota tersebut berada di utara Sungai Litani dan zona di Lebanon selatan yang diduduki pasukan Israel.
Militer Israel menuding kelompok Hizbullah telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sepuluh hari yang diumumkan pada 16 April 2026. Padahal, meski gencatan senjata telah disetujui, Israel tak menghentikan operasi militernya di Lenanon. Artinya Israel tak mematuhi kesepakatan tersebut.
“Dari perspektif kami, yang mewajibkan kami adalah keamanan Israel, keamanan tentara kami, keamanan komunitas kami,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam rapat kabinet di Yerusalem saat membahas operasi militer Israel di Lebanon, dikutip laman Al Arabiya.
“Kami bertindak tegas sesuai dengan aturan yang telah kami sepakati dengan Amerika Serikat, dan juga, dengan Lebanon," tambah Netanyahu.
Pada Ahad, kelompok Hizbullah mengatakan bahwa mereka telah menyerang pasukan Israel di Lebanon serta pasukan penyelamat yang datang untuk mengevakuasi mereka. Hizbullah menekankan, mereka tak akan berhenti menyerang pasukan Israel di Lebanon, termasuk kota-kota di Israel utara, selama Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata.
Hizbullah menambahkan, mereka tidak akan menunggu diplomasi yang “terbukti tidak efektif” atau bergantung pada otoritas Lebanon yang “gagal melindungi negara". Gencatan senjata selama sepuluh hari yang dimulai pada 16 April 2026 lalu telah diperpanjang hingga Mei. Kesepakatan antara Israel dan Lebanon tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat (AS).
Kesepakatan gencatan senjata cukup meredakan intensitas pertempuran antara Israel dan Hizbullah. Namun Israel dan Hizbullah kerap saling tuding sebagai pihak pelanggar gencatan senjata.
Israel mulai menggempur Lebanon pada 2 Maret 2026 lalu. Agresi dimulai setelah kelompok Hizbullah, sebagai bentuk dukungannya kepada Iran dan merespons wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, ikut menembakkan roket ke wilayah Israel. Sejak saat itu, Israel dan Hizbullah saling melancarkan serangan udara.
Ini bukan kali pertama Hizbullah terlibat konfrontasi bersenjata dengan Israel. Pada 2023 lalu, tak lama setelah Israel meluncurkan agresi ke Jalur Gaza, Hizbullah turut menembakkan roket dan proyektil ke wilayah Israel di dekat perbatasan Lebanon.
Pemerintah Israel kemudian mengevakuasi puluhan ribu warganya dari wilayah utara yang berbatasan dengan Lebanon. Penduduk kembali ke rumah mereka setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata pada November 2024.

13 hours ago
9















































