Eksodus Besar Guncang CIA, Pensiunan Menunggu Berbulan-bulan

20 hours ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Central Intelligence Agency (CIA), salah satu badan intelijen paling terkenal dan tertutup di dunia, tengah menghadapi gelombang kepergian pegawai dalam skala yang disebut belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya kini merembet ke persoalan yang tak biasa bagi lembaga yang identik dengan operasi rahasia berisiko tinggi itu: pembayaran pensiun.

Ratusan mantan pegawai CIA harus menunggu berbulan-bulan untuk menerima hak pensiun mereka. Sebagian bahkan diberi tahu pembayaran pensiun penuh pertama kemungkinan baru diterima sembilan bulan atau lebih setelah meninggalkan markas CIA di Langley, Virginia.

Besarnya lonjakan tersebut membuat CIA mengirim pemberitahuan khusus kepada para alumninya.

“Bagian Pensiun saat ini sedang memproses jumlah kasus pensiun yang belum pernah terjadi sebelumnya dan bekerja keras sepanjang waktu untuk mempercepat penyelesaian kasus-kasus ini,” demikian isi pemberitahuan CIA, sebagaimana diberitakan Washington Post dan Newsmax pada Jumat (22/8/2026).

Kalimat tersebut menggambarkan tekanan luar biasa yang kini dialami sistem pensiun badan intelijen AS. Jumlah pegawai yang meninggalkan CIA melonjak pada saat kapasitas pemerintah untuk memproses hak pensiun mereka justru ikut menyusut.

Newsmax melaporkan situasi tersebut berlangsung ketika Presiden Donald Trump menjalankan agenda besar untuk mengecilkan ukuran pemerintah federal AS.

Lebih dari 330 ribu pegawai federal meninggalkan pemerintahan pada tahun lalu, sebagian besar secara sukarela. Di CIA, kecepatan pensiun dan pengunduran diri disebut mencapai tingkat yang tidak terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

CIA tidak mengumumkan secara terbuka jumlah tenaga kerjanya karena informasi tersebut diklasifikasikan. Namun, pada awal 2025, jumlah pegawainya diperkirakan sekitar 22 ribu orang.

Sejumlah mantan pejabat memperkirakan ratusan, bahkan mungkin lebih dari 1.000 orang, telah meninggalkan badan tersebut sejak awal periode kedua pemerintahan Trump. Gelombang itu tidak terjadi tanpa konteks politik.

Pada Mei 2025, pemerintahan Trump memberi tahu Kongres mengenai rencana mengurangi sekitar 1.200 posisi di CIA selama beberapa tahun. Pengurangan tersebut terutama hendak dilakukan melalui attrition atau membiarkan jumlah pegawai berkurang ketika mereka pensiun dan mengundurkan diri tanpa seluruh posisi tersebut diisi kembali, serta dengan mengurangi perekrutan.

Pegawai CIA juga ikut dalam deferred resignation program yang ditawarkan pemerintahan Trump kepada pegawai federal. Program tersebut pada dasarnya menawarkan jalan keluar kepada pegawai pemerintah sebagai bagian dari agenda perampingan birokrasi.

Karena itu, antrean pensiun CIA bukan semata akibat perubahan demografi pegawai. Ia muncul bersamaan dengan upaya terencana untuk memperkecil aparatur federal. Masalah kemudian menjadi lebih pelik karena sebagian pegawai yang bertugas mengurus administrasi pensiun juga ikut meninggalkan pemerintahan.

CIA memang menangani tahap awal proses pensiun secara internal. Setelah dokumen selesai diproses badan tersebut, berkas kemudian diteruskan kepada Office of Personnel Management (OPM), lembaga federal yang menjalankan fungsi sumber daya manusia pemerintah AS. Namun OPM sendiri tengah mengalami penyusutan besar.

Menurut laporan Newsmax, jumlah tenaga kerja OPM turun sekitar sepertiga, dari sedikit lebih dari 3.000 orang pada tahun fiskal 2024 menjadi 1.980 orang pada tahun fiskal 2026. Akibatnya, sistem yang harus menangani peningkatan jumlah pensiunan justru bekerja dengan tenaga yang lebih sedikit.

Data resmi OPM memperlihatkan rata-rata waktu penyelesaian immediate retirement pada Juli 2026 mencapai 109 hari. OPM mengingatkan kasus dengan perhitungan khusus, dokumen yang belum lengkap, keputusan pengadilan, atau keadaan lain dapat membutuhkan waktu lebih panjang.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |