Sirah Nabi di Society 5.0, Apa yang Harus Berubah?

20 hours ago 12

Oleh: Fahmi Salim (Ketua Umum Forum Dai dan Mubaligh Azhari Indonesia / FORDAMAI)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap kali umat Islam memperingati momentum-momentum kenabian seperti Maulid Nabi, Nuzul Qur’an, Isra’ Mi’raj, Hijrah Rasul, Perang Badar dan Fathu Makkah hingga Haji Wada’, panggung dakwah kerap dipenuhi pengulangan kisah sentimental tentang sosok agung Muhammad ﷺ. Narasi yang hadir umumnya berhenti pada romantisme sejarah, rincian mukjizat, atau kronologi tahunan yang steril dari kontekstualisasi zaman.

Timbul pertanyaan mendasar yang menggelitik kesadaran intelektual kita: Apakah kita telah membaca Sirah Nabawiyah sebagaimana mestinya?

Kelemahan terbesar pembacaan sirah hari ini terletak pada reduksi metodologis. Sirah sering diperlakukan sekadar sebagai tumpukan artefak masa lalu atau dongeng pengantar tidur. Padahal, Sirah Nabawiyah adalah laboratorium peradaban hidup—satu-satunya ruang uji historis tempat kita menyaksikan secara empiris bagaimana wahyu langit ditransformasikan menjadi realitas sosial, membentuk tatanan keluarga, menyusun tata kelola negara, hingga memimpin perubahan tatanan geopolitik global.

Epistemologi yang Utuh dan Runtuhnya Tatanan Jahiliyah

Dunia kontemporer kerap terjebak dalam dikotomi pengetahuan antara rasionalisme dan empirisme materialistik. Di titik ini, sirah menawarkan model integratif yang harmonis melalui tiga pilar epistemologi Islam: Wahyu (Naql), Rasio (Aql), dan Pengalaman Indrawi (Hiss).

Mukjizat dan bimbingan wahyu tidak pernah meniadakan kausalitas logis. Ketika merancang peristiwa Hijrah, Rasulullah ﷺ menyewa penunjuk jalan profesional non-Muslim, memetakan rute memutar ke arah selatan (Gua Tsur) alih-alih jalur langsung ke utara, dan membangun jaringan intelijen yang rapi. Keyakinan spiritual (tawakal) diintegrasikan seimbang dengan mitigasi risiko (Aql) serta aksi nyata (Hiss).

Transformasi tersebut sekaligus menjadi antitesis dari penyakit sosiologis peradaban. Mengadopsi tesis pemikir Aljazair, Malik Bennabi, peradaban manusia terbagi ke dalam tiga fase orientasi:

1. Peradaban yang sehat (berpusat pada Ide/Gagasan);

2. Peradaban yang sakit (berpusat pada Tokoh/Person); dan

3. Peradaban yang dekaden (berpusat pada Benda/Materi).

Masyarakat Jahiliyah abad ke-7 terjebak dalam pemujaan benda (berhala) dan figur (ashabiyah kabilah). Melalui risalah kenabian, Rasulullah ﷺ meruntuhkan berhala materialisme dan kultus individu tersebut, lalu mengalihkannya menuju kedaulatan tauhid dan nilai-nilai transenden. Pembacaan sirah modern harus mampu mengembalikan orientasi umat pada supremasi ide dan prinsip syariat, bukan pada fanatisme golongan yang sempit.

Menghadapi Badai Modernitas Cair (Liquid Modernity)

Di era kontemporer, sosiolog Zygmunt Bauman memperkenalkan konsep Liquid Modernity—sebuah era ketidakpastian di mana nilai-nilai moral mencair, relativisme merajalela, dan manusia kehilangan pegangan hidup. Dampak lanjutannya melahirkan wabah kecemasan eksistensial (age of anxiety) serta individualisme ekstrem. Generasi muda terseret dalam ilusi "keselamatan individual" (individual salvation), sibuk mengejar capaian karier pribadi tanpa kepedulian terhadap problem sosial.

Sirah Nabawiyah hadir sebagai jangkar moral yang kokoh (solidity of references). Ia menambatkan kebenaran pada prinsip wahyu yang absolut, namun membuka kelenturan pada sarana teknis kontemporer. Sirah juga merawat dimensi kemanusiaan secara proporsional:

• Pilar Akal: Memandu perencanaan strategis dan logika sebab-akibat.

• Pilar Ruh: Menawarkan katarsis dan terapi mental. Saat putra beliau, Ibrahim, wafat, Rasulullah ﷺ menangis dan menegaskan bahwa kesedihan

adalah tabiat manusiawi yang harus tetap berbingkai rida Ilahi. Pengalaman penolakan berdarah di Thaif mengajarkan ketahanan mental tanpa keputusasaan.

• Pilar Jasad: Menunjukkan etos kerja keras sebagai pedagang mandiri dan integritas fisik sebagai pemimpin lapangan.

Sirah turut mendidik kolektivitas sosial. Kasus boikot terhadap Ka’ab bin Malik pasca-Perang Tabuk membuktikan bahwa integritas komunitas tidak boleh dikorbankan demi egoisme individu.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |