Menemani yang Kalah: Pelajaran Keikhlasan dari Mbah Maimoen Zubair

17 hours ago 12

Oleh: Zainut Tauhid Sa'adi, Wakil Menteri Agama 2019-2023 dan Aktivis Nahdlatul Ulama

REPUBLIKA.CO.ID, Muktamar Nahdlatul Ulama bukan sekadar agenda rutinitas lima tahunan untuk menentukan pucuk pemimpin baru di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Lebih dari itu, forum tertinggi jam’iyyah ini adalah panggung peradaban—ruang bertemunya pemikiran, harapan, dan tanggung jawab keumatan di tengah disrupsi zaman yang kian kompleks.

Setiap gelaran muktamar selalu saja ditandai dengan hangatnya dinamika, tajamnya silang gagasan, hingga kontestasi pemimpin tertinggi di jam'iyyah. Munculnya kalkulasi angka dukungan, relasi kekuasaan, dan rivalitas figur kerap menyedot perhatian publik dan mewarnai dinamika internal jam'iyyah. Namun, di tengah riuk-pikuk kontestasi tersebut, para pimpinan dan kader NU membutuhkan kompas moral untuk pulang agar perhelatan ini tidak kehilangan ruhnya.

Menyongsong Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, jam'iyyah ini membutuhkan lebih dari sekadar strategi pemenangan Ketua Umum dan Rais Aam; NU membutuhkan penawar dahaga akan kepemimpinan teladan. Muktamar seyogianya kembali dijadikan majelis muhasabah dan peneguhan khittah perjuangan. Kebesaran NU tidak pernah ditakar dari siapa yang mendapatkan mandat kepemimpinan, melainkan sejauh mana ketulusan, keikhlasan, dan akhlakul karimah tetap dijaga di atas segala atribut kekuasaan.

Nilai-nilai luhur itulah yang terpatri indah dalam keteladanan al-Maghfurlah Romo KH. Maimoen Zubair—sebuah manifesto moral dan praktik keluhuran yang meruntuhkan sekat-sekat logika transaksional demi merawat martabat dan persaudaraan.

Catatan kecil dan kesaksian dari peristiwa Muktamar Makassar 2010 ini adalah sebuah cermin: inspirasi dan pelajaran moral yang patut diresapi oleh seluruh pimpinan dan kader NU agar perhelatan Muktamar ke-35 mendatang tetap teduh, bermartabat, dan sepenuhnya berorientasi pada khidmah kemanusiaan dan peradaban.

Muktamar Makassar 2010: Sebuah Keputusan yang Menguji Nalar

Peristiwa sejarah itu terjadi pada Muktamar Ke-32 NU di Makassar tahun 2010. Suasana arena muktamar kala itu berlangsung hangat namun penuh kekhidmatan. Kontestasi kepemimpinan jam'iyyah tertinggi di Dewan Syuriah, yakni posisi Rais Aam, mempertemukan kharisma dua ulama besar: KH. MA. Sahal Mahfudh dan KH. Hasyim Muzadi. Perhelatan tersebut berlangsung sangat ketat namun tetap dalam bingkai kesantunan dan kedewasaan.

Di tengah menguatnya dinamika kontestasi antarpendukung kandidat, saya bersyukur berkesempatan mendampingi al-Maghfurlah Romo KH. Maimoen Zubair. Bersama kami saat itu, hadir pula putra mulia beliau, Almarhum KH. Majid Kamil Maimoen (Gus Kamil), serta beberapa santri lainnya.

Saat kontestasi berlangsung semakin ketat, Mbah Maimoen mendadak berketetapan hati berkenan namanya diusulkan dalam bursa calon Rais Aam. Sebagai seorang santri, sempat terlintas rasa heran di dalam hati. Mengapa sosok sekaliber Mbah Maimoen, yang senantiasa berdiri di atas semua golongan, justru memilih melangkah ke tengah gelanggang kontestasi?

Namun, bagi seorang santri, menanyakan alasan di balik dawuh dan titah sang guru adalah hal yang tabu dan tidak patut. Rasa takzim mengalahkan segala rasa ingin tahu. Kami memilih untuk sami'na wa atha'na—menjalankan apa pun yang menjadi amar atau perintah beliau tanpa banyak bertanya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |