Pakar ITB Optimistis Target Lifting 2027 Tercapai, Sumur Rakyat Bisa Jadi Salah Satu Penopang

13 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  - Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), Bonar Tua Halomoan Marbun, menilai target lifting minyak nasional sebesar 612.500 barel per hari (bph) pada 2027 realistis untuk dicapai. Menurut Bonar, target tersebut dapat diwujudkan selama peningkatan produksi dilakukan dengan mengikuti kaidah, standar, pengalaman, serta praktik terbaik yang berlaku di industri migas internasional.

“Kalau ditanyakan apakah target peningkatan lifting menjadi sekitar 612 ribu barel minyak per hari itu masuk akal, jawabannya iya, make sense,” kata Bonar saat dihubungi, Kamis (3/9/2026).

Pemerintah mengusulkan target lifting minyak pada 2027 sebesar 612.500 bph, naik dibandingkan target 2026 sebesar 610.000 bph. Sementara itu, target lifting gas pada 2027 ditetapkan sebesar 954.000 barel setara minyak per hari (boepd), turun dari target 2026 sebesar 984.000 boepd.

Optimisme terhadap peningkatan lifting tersebut salah satunya ditopang program penataan dan optimalisasi sumur minyak masyarakat. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya sebelumnya memperkirakan produksi sumur masyarakat dapat meningkat hingga sekitar 30.000 bph apabila program yang mulai berjalan pada 2026 dapat dioptimalkan pada 2027.

Bonar menilai sumur rakyat memang dapat menjadi salah satu sumber tambahan produksi minyak nasional. Saat ini, menurut dia, produksi dari sumur rakyat yang telah aktif berada di kisaran 2.000 bph. Meski kontribusinya masih relatif kecil dibandingkan produksi nasional, peningkatan produksi dari sektor tersebut tetap menjadi langkah positif.

“Kalau ditanyakan apakah program ini baik, tentu saja baik dalam pemahaman yang positif secara umum,” ujar Bonar.

Menurut Bonar, peluang peningkatan lifting juga masih terbuka dari lapangan-lapangan minyak tua atau brownfield. Sejumlah lapangan migas nasional memang telah mengalami penurunan cadangan, namun kondisi tersebut merupakan hal yang umum terjadi di industri migas global dan bukan berarti potensi produksinya telah habis.

Ia menilai lapangan-lapangan tua masih memiliki cadangan yang dapat dioptimalkan apabila dikelola dengan teknologi, tata kelola, dan praktik produksi yang tepat. Peningkatan produksi dari brownfield dapat berjalan beriringan dengan optimalisasi sumur rakyat serta penerapan teknologi baru.

Hal tersebut sejalan dengan strategi pemerintah dan DPR yang mendorong penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR), kegiatan workover pada sumur-sumur lama, serta penyelesaian kendala operasional di sejumlah wilayah kerja migas. Bambang Patijaya menyebut sejumlah persoalan produksi, termasuk di Pertamina Hulu Rokan, terus diselesaikan agar produksi dapat lebih optimal pada 2027.

Sebelumnya, Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengungkapkan, optimisme peningkatan target lifting minyak pada 2027 ditopang oleh serangkaian program akselerasi pemerintah. Menurutnya, salah satu strategi yang diandalkan untuk mendongkrak produksi minyak nasional tersebut adalah melalui optimalisasi penataan dan pengelolaan sumur minyak masyarakat.

"Intinya pemerintah punya program untuk akselerasi lifting ini antara lain pemberdayaan sumur masyarakat. Nah sumur masyarakat di 2026 ini sudah di on kan. Dari perkembangan yang ada dan perencanaan yang ada untuk sumur masyarakat ini bisa optimal di 2027, itu diperkirakan bisa meningkat mungkin bisa 30.000 barel," ujar Bambang.

Bambang meyakini target tersebut cukup realistis untuk dicapai seiring penyelesaian berbagai kendala teknis operasional yang sempat menghambat produksi di sejumlah Wilayah Kerja (WK) migas utama. Pihaknya mencatat penanganan masalah operasional, seperti di Pertamina Hulu Rokan (PHR), telah berjalan sesuai rencana penyelesaian tahun ini.

"Kemudian beberapa kendala-kendala yang terjadi misalkan di PHR terkait dengan persoalan gas dan sebagainya itu sudah teratasi, sehingga di 2027 ini akan optimasi," terangnya.

Selain optimalisasi sumur masyarakat, Bambang menyebutkan bahwa penerapan teknologi terkini juga terus diperluas oleh para kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Penerapan metode Enhanced Oil Recovery (EOR) serta kegiatan workover sumur tua dipicu untuk mendongkrak capaian lifting secara signifikan.

"Kemudian ditambah lagi beberapa kebaruan-kebaruan di dalam teknologi, EOR, work over itu sekarang ini ditingkatkan untuk pelaksanaannya. Jadi mudah-mudahan ini dapat relate untuk meningkatkan lifting kita di tahun 2027," pungkasnya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |