Amran Siapkan Subsidi Benih, Bakal Dongkrak Produksi Padi dengan Metode Baru

20 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bakal menyiapkan subsidi benih untuk memperluas penerapan metode Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS). Tahun depan, pemerintah menargetkan subsidi benih tersebut dapat mendukung penerapan PM-AAS pada minimal 1 juta hektare lahan padi di seluruh Indonesia.

Amran mengatakan PM-AAS dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani. Metode tersebut telah diuji selama dua tahun dan kini mulai diterapkan di berbagai daerah dengan hasil panen yang disebut mampu mencapai lebih dari 10 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

"Untuk tahun pertama insya Allah tahun depan kita subsidi benih," kata Mentan di Subang, Jawa Barat, Rabu (2/9/2026).

Berdasarkan pengujian Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), penerapan PM-AAS pada musim tanam pertama 2026 telah dilakukan pada sekitar 2.000 hektare di 15 provinsi. Dari 18 kabupaten di 13 provinsi yang telah memasuki masa panen, hasil ubinan Kerangka Sampel Analisis (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas rata-rata mencapai 10,34 ton GKP per hektare.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas lahan non-PM-AAS yang mencapai 6,32 ton GKP per hektare. Artinya, terdapat tambahan produksi sekitar 4,02 ton per hektare atau meningkat 63,46 persen.

Sebanyak 12 dari 18 lokasi pengujian, atau sekitar 66,7 persen, juga telah mencapai produktivitas minimal 10 ton GKP per hektare. Di sejumlah lokasi lain, produktivitas PM-AAS berada pada kisaran 9–11 ton per hektare.

Amran mengatakan hasil pengujian tersebut menunjukkan peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui pengaturan populasi tanaman. Dalam metode PM-AAS, populasi yang sebelumnya sekitar 360 ribu rumpun per hektare dapat ditingkatkan menjadi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun.

"Ini meningkat dua kali lipat yang biasanya 5 ton, 6 ton, 5,5 sekarang 11 ton sampai 13 ton per hektare," ujar Mentan.

Ia menjelaskan setiap rumpun rata-rata menghasilkan sekitar 13,8 gram gabah. Dengan populasi sekitar 800 ribu rumpun, produksi dapat mencapai sekitar 11 ton per hektare. Populasi yang lebih tinggi dapat mendorong hasil hingga 12–13 ton per hektare, tergantung kondisi lahan dan perawatan tanaman.

Penerapan metode tersebut tidak hanya mengandalkan peningkatan populasi. Kepala BRMP Fadjry Djufry mengatakan PM-AAS merupakan paket teknologi yang menggabungkan varietas unggul berdaya hasil tinggi, sistem tanam rapat melalui jajar legowo, pengelolaan air dengan metode alternate wetting and drying (AWD), pengendalian gulma, hama, dan penyakit secara terpadu, serta pengelolaan hara sesuai kebutuhan lokasi.

"PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun sistem budi daya yang lebih efisien dan adaptif," kata Fadjry.

Hasil penerapan di tingkat daerah turut menunjukkan peningkatan produksi. Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, demplot PM-AAS seluas 100 hektare menghasilkan sekitar 12,5 ton per hektare, naik dari produktivitas sebelumnya yang berada pada kisaran 7–8 ton per hektare.

Di Sidrap, Sulawesi Selatan, petani Abdullah juga mencatat kenaikan hasil dari sekitar 5–6 ton per hektare menjadi 11 ton per hektare setelah mengikuti program tersebut. Petani lainnya, Nurdin, menyebut hasil varietas Inpari 48 yang ditanamnya meningkat dibandingkan sebelumnya.

Menurut Amran, tambahan biaya penerapan PM-AAS relatif kecil dibandingkan kenaikan hasil yang diperoleh petani. Ia menyebut tambahan kebutuhan benih dan pupuk sekitar Rp 2 juta per hektare, sedangkan tambahan pendapatan dapat mencapai sekitar Rp 35 juta, bahkan lebih tinggi bergantung pada produktivitas dan perawatan.

"Biaya tambahannya hanya Rp 2 juta, tetapi tambahan penghasilannya Rp 35 juta," ujar Amran.

Untuk mempercepat adopsi di tingkat petani, pemerintah akan memberikan subsidi benih dengan target minimal 1 juta hektare pada tahun depan. Amran mengatakan daerah yang memiliki komitmen untuk mempercepat penerapan PM-AAS akan menjadi prioritas dalam dukungan tersebut.

"Minimal 1 juta hektare. Kalau itu terjadi, meningkatkan kesejahteraan," kata dia.

Amran menghitung, jika penerapan pada 1 juta hektare menghasilkan tambahan produksi rata-rata 5 ton per hektare, maka produksi gabah nasional berpotensi bertambah sekitar 5 juta ton. Jika cakupan diperluas hingga 2 juta hektare, tambahan produksi berpotensi mencapai sekitar 10 juta ton.

Ia menilai peningkatan produktivitas tersebut penting karena produksi padi nasional selama sekitar 20 tahun relatif stagnan di kisaran 5,3 ton gabah kering giling (GKG) per hektare atau sekitar 6,3 ton GKP per hektare. Karena itu, teknologi menjadi salah satu instrumen untuk mendorong produksi tanpa hanya mengandalkan penambahan luas lahan.

Selain meningkatkan produktivitas, PM-AAS menggunakan sistem tanam langsung atau direct seeding. Sistem tersebut memangkas proses persemaian sehingga waktu pembibitan yang biasanya membutuhkan sekitar dua hingga tiga pekan dapat dihilangkan.

Amran mengatakan efisiensi waktu tersebut membuka peluang peningkatan indeks pertanaman. Dengan waktu tanam yang lebih singkat, petani dinilai dapat mengejar pola tanam hingga tiga kali dalam setahun.

"Ini langsung, jadi untuk tiga kali tanam satu tahun itu sangat memungkinkan," ujarnya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |