MSCI Umumkan Hasil Review Indeks Global, Amman Mineral Sampai Barito Renewables Terdepak

12 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga penyedia indeks saham global MSCI mengumumkan hasil review indeks periode May 2026. Dalam pengumuman resminya pada Rabu (13/5/2026) pagi WIB, MSCI mengumumkan sejumlah perombakan dalam konstituen MSCI Global Standard Indexes. Untuk pasar modal Indonesia, tidak ada saham yang ditambahkan dalam jajaran indeks tersebut. Sementara itu, terdapat enam emiten yang terlempar dari MSCI Global Standard Indexes.

Berikut ini adalah rangkuman perubahan konstituen MSCI Global Standard Indexes untuk saham yang berasal dari Indonesia:

MSCI Indonesia Index

Masuk: Tidak Ada

Keluar:

1. Amman Mineral International

2. Barito Renewables Energy

3. Chandra Asri Pacific

4. Dian Swastatika Sentosa

5. Petrindo Jaya Kreasi

6. Sumber Alfaria Trijaya

Sementara itu, MSCI juga menyampaikan perubahan konstituen pada MSCI Global Small Cap Indexes yang melibatkan saham asal Indonesia. Terdapat 1 saham masuk dan 13 saham keluar. Berikut ini adalah detailnya:

Masuk:

  1. Sumber Alfaria Trijaya

Keluar:

  1. Aneka Tambang
  2. Astra Agro Lestari
  3. Bank Aladin Syariah
  4. Bumi Serpong Damai
  5. Dharma Satya Nusantara
  6. Industri Jamu Farmasi
  7. Midi Utama Indonesia
  8. Mitra Keluarga
  9. MNC Digital Entertainment
  10. Pabrik K Tjiwi Kimia
  11. Pacific Strategic Finl
  12. Sawit Sumbermas
  13. Triputra Agro Persada

Keputusan MSCI ini akan mulai berlaku pada 29 Mei 2026.

Reformasi Pasar Modal

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini reformasi integritas pasar modal Indonesia akan membawa keuntungan jangka panjang (long term gain), meski berpotensi memicu perubahan komposisi saham dalam indeks MSCI pada hasil rebalancing Mei 2026.

“Dengan perbaikan, reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya. Dan kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain, tapi Insya Allah long term gain,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat dijumpai media di BEI, Jakarta, Senin.

Friderica atau akrab disapa Kiki menilai, potensi perubahan komposisi saham Indonesia dalam indeks MSCI merupakan konsekuensi dari upaya pembenahan fundamental pasar modal, termasuk penguatan keterbukaan informasi, integritas pasar, serta penegakan hukum.

“Kan mereka (MSCI) sudah bilang freeze kan, jadi tidak ada saham baru yang masuk (ke indeks MSCI), tapi yang lama mungkin akan keluar. Tapi, ya, kita lihat semoga ini bisa kita antisipasi dengan baik,” kata dia.

Ia pun meminta pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap hasil rebalancing MSCI. Menurutnya, potensi penyesuaian indeks akibat reformasi pasar modal merupakan konsekuensi jangka pendek yang perlu dilihat sebagai bagian dari penguatan fundamental pasar keuangan Indonesia.

“Jadi jangan orang terus jadi dibikin panik dan lain-lain, enggak. Ini memang konsekuensi dari perbaikan yang kita lakukan,” kata Kiki.

Mengenai potensi penurunan status Indonesia dari emerging market, Kiki mengatakan bahwa keputusan tersebut baru akan ditinjau MSCI pada Juni 2026.

Berbagai perbaikan yang dilakukan regulator diharapkan menjadi pertimbangan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam kelompok emerging market.

Menurutnya, Indonesia memiliki kualitas keterbukaan informasi dan granularitas data yang baik, termasuk dalam aspek integritas pasar yang selama ini menjadi perhatian investor global.

Kiki juga memastikan bahwa regulator terus melakukan pembenahan fundamental pasar modal melalui delapan aksi reformasi, termasuk penguatan penegakan hukum, peningkatan kualitas perusahaan tercatat, serta upaya mendorong lebih banyak investor masuk ke pasar modal domestik.

Selain itu, OJK juga terus memperdalam pasar keuangan melalui peningkatan basis investor domestik, baik ritel maupun institusi. Menurut Kiki, pendalaman pasar menjadi penting untuk memperkuat ketahanan pasar modal Indonesia terhadap gejolak global.

“Dulu, dua puluh tahun lalu, kalau ada guncangan global itu panik semua karena kalau terjadi outflow isinya kan asing. Kalau sekarang, investor kita (domestik) 26 juta dan kemudian semakin banyak investor, baik retail maupun institusi, semakin banyak masuk ke pasar modal Indonesia,” kata Kiki.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |