REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kondisi gawat darurat, beberapa menit pertama sering menjadi penentu keselamatan seseorang. Sayangnya, tidak semua orang mengetahui langkah yang tepat untuk memberikan pertolongan sebelum tenaga medis tiba. Berangkat dari hal itu, Pertamina EP menggelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau Basic Life Support (BLS) bagi siswa SMP dan SMA sebagai upaya menumbuhkan budaya tanggap darurat sejak usia dini.
Pelatihan yang diselenggarakan Tim Health Pertamina EP ini berlangsung di Kantor Pusat Pertamina EP, Jakarta, beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan.
Sebanyak 65 peserta mengikuti pelatihan ini. Mereka berasal dari SMP Negeri 145 Jakarta, SMP Negeri 58 Jakarta, SMA Negeri 35 Jakarta, dan SMA Negeri 3 Jakarta. Melalui kegiatan ini, Pertamina EP berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat diterapkan saat menghadapi situasi darurat di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Para peserta memperoleh materi BHD yang meliputi pengenalan chain of survival, Resusitasi Jantung Paru (RJP/cardiopulmonary resuscitation/CPR), penggunaan Automated External Defibrillator (AED), penanganan korban tersedak, recovery position, hingga simulasi berbagai kondisi gawat darurat. Seluruh rangkaian pelatihan dipandu instruktur profesional dari Tim Ambulans Gawat Darurat (AGD) 118.
Tidak hanya menerima materi di dalam kelas, para siswa juga mengikuti sesi praktik menggunakan manekin RJP, AED trainer, alat fiksasi, bidai, serta berbagai perlengkapan pertolongan pertama lainnya. Melalui simulasi yang menyerupai situasi nyata, peserta diajak memahami langkah-langkah penanganan korban secara cepat, tepat, dan aman sebelum bantuan medis profesional tiba.
Senior Manager HSSE Regional 2 Pertamina EP Sigit Isbiantoro mengatakan kemampuan memberikan pertolongan pertama merupakan keterampilan hidup yang penting dimiliki setiap individu. "Keterampilan dasar seperti Bantuan Hidup Dasar menjadi bekal penting yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain," ujar Sigit dalam siaran persnya, Ahad (2/8/2026).
Senada dengan itu, Koordinator AGD 118 Anggi Sundaya menegaskan keterampilan pertolongan pertama bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. "Kemampuan memberikan pertolongan pertama tidak hanya dimiliki tenaga kesehatan. Siapa pun dapat menjadi penolong pertama apabila memahami langkah-langkah yang benar," ujar Anggi.
Pertamina EP berharap semakin banyak generasi muda memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi gawat darurat serta mampu menjadi penolong pertama (first responder) di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Pertamina EP membangun budaya keselamatan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.

19 hours ago
7
















































