Rupiah Makin Terpuruk ke Level 17.500, Ini Respons Bank Indonesia

10 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menanggapi terkoreksinya nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026). Bank sentral memastikan terus melakukan berbagai upaya intervensi dan memperkirakan tren pelemahan rupiah akan segera mereda.

“Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena situasi di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas meningkat mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Adapun di domestik, Destry menuturkan ada kebutuhan dolar AS yang memang cukup tinggi. Namun, kebutuhan tersebut diklaim hanya bersifat musiman.

“Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar AS secara musiman seperti untuk pembayaran ULN (utang luar negeri), pembayaran dividen, serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik,” jelasnya.

Ia menuturkan BI akan terus berkomitmen selalu berada di pasar dengan melakukan intervensi, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF).

“Dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” ujarnya.

Destry menyampaikan BI melihat confidence investor asing di aset portofolio terus membaik. Hal itu tercermin dari masuknya arus modal asing (inflows), khususnya ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama April sebesar Rp 61,6 triliun.

Di samping itu, ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi. Terlihat dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas pada akhir Maret yang tercatat mencapai 10,9 persen secara year to date (ytd).

“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” tegasnya.

Rupiah telah menembus level Rp 17.500 per dolar AS, tertinggi sepanjang sejarah. Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 115 poin atau 0,60 persen menuju posisi Rp 17.529 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026).

Sebelumnya diketahui, rupiah memang tengah mengalami tren pelemahan yang cukup dalam di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersama jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menghadap Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara pada Selasa (5/5/2026) malam untuk membahas data ekonomi, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah.

Perry mengungkapkan Prabowo memberikan arahan kepadanya untuk melakukan berbagai langkah guna menstabilkan nilai tukar rupiah. Setidaknya ada tujuh hal yang diinstruksikan kepada BI.

Pertama, BI akan terus melakukan intervensi, baik di pasar domestik melalui pasar spot dan DNDF maupun di pasar offshore melalui NDF. Intervensi di antaranya akan dilakukan di Hong Kong, Singapura, London, dan New York. Cadangan devisa diklaim lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Kedua, menggunakan instrumen SRBI untuk menarik dana asing masuk (capital inflow) sebagai upaya menyiasati modal keluar (capital outflow) dari SBN, obligasi, dan saham.

“Sementara ini SBN itu keluar (capital outflow), kemudian saham meskipun dalam minggu-minggu terakhir sudah inflow, tetapi year to date masih outflow. Sehingga kami sepakat sementara ini SRBI dibuat perlu inflow untuk bisa mencukupi outflow-nya SBN dan saham. Itu untuk memperkuat nilai tukar rupiah,” terang Perry di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Ketiga, BI akan terus membeli SBN dari pasar sekunder. Hal itu merupakan langkah yang telah dilakukan BI sejak awal tahun sebagai hasil koordinasi otoritas fiskal dan moneter. Menurut Perry, secara year to date, hingga saat ini BI telah membeli SBN dari pasar sekunder sebanyak Rp 123,1 triliun.

“Keempat, kami juga dengan Pak Menteri Keuangan menjaga likuiditas di perbankan dan pasar lebih dari cukup, yang terindikasi dari pertumbuhan uang primer yang selalu double digit,” ujarnya.

Kelima, melakukan pembatasan pembelian dolar di pasar domestik tanpa underlying, dari 100.000 dolar AS per orang per bulan diturunkan menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan. Kebijakan tersebut sudah dilakukan BI sejak April 2026. Perry menyebut rencananya nominal itu akan diturunkan kembali.

“Kami persiapkan akan turun lagi menjadi 25.000 dolar AS per orang per bulan sehingga pembelian dolar di atas 25.000 dolar AS harus memakai underlying,” tuturnya.

Sejalan dengan itu, BI memperkuat local currency transaction (LCT) antara yuan China dan rupiah Indonesia. Kerja sama itu merupakan upaya alternatif dalam mengurangi kebutuhan terhadap dolar AS.

Local currency kita dengan yuan China sangat tinggi dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik sehingga mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar AS, sehingga rupiah bisa menguat,” kata dia.

Keenam, sejalan dengan upaya intervensi di pasar offshore melalui NDF dan agar lebih mampu mengendalikan perkembangan nilai tukar di offshore atau luar negeri, BI membolehkan perbankan domestik untuk turut menjual NDF di pasar offshore.

“Kami membolehkan bank-bank domestik untuk ikut menjual NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih banyak. Itu akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Perry.

Ketujuh, BI akan meningkatkan pengawasan terhadap perbankan dan/atau korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi. Perry menyebut BI mengirim pengawas dan melakukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem keuangan terjaga.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |