Kopi Indonesia Mendunia Lewat World of Coffee 2026

10 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKOK -- Semua berawal pada 2016. Hendra Susanto memulai usaha di dunia kopi melalui Beskabean Coffee dari nol. Mulai dari kebun, kemudian membuka roastery, hingga akhirnya membuka coffee shop dengan 14 cabang.

Perjalanannya tidak sebentar. Dia memulai seorang diri dengan omzet harian sebesar Rp 50 ribu. Kini, ia telah memiliki 85 karyawan dengan omzet yang tentu jauh berbeda dibandingkan saat awal merintis usaha.

Perjalanan membangun usaha kopi selama 10 tahun terakhir ini ia lalui bersama Bank Indonesia (BI). Sejak 2017, ia terpilih menjadi Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI).

WUBI merupakan program tahunan BI untuk mendampingi dan mengembangkan UMKM potensial agar naik kelas, mandiri, dan berdaya saing internasional. Lewat jalur inilah Hendra merangkak naik dan mulai menembus pasar internasional.

"Di-coaching di BI. Kayak pelatihan bisnis dan manajemen semua itu dari BI. BI itu ngasih kita pancing ketimbang ngasih kita uang. Akhirnya kita bisa berdiri berkat BI," tutur Hendra di Bangkok, Thailand, Kamis (7/5/2026) lalu.

Saat berbincang dengan Republika dan beberapa media lainnya, Hendra tengah berdiri di paviliun Indonesia pada World of Coffee 2026. Setelah digelar di Indonesia pada 2025 lalu, kini giliran Thailand yang menjadi tuan rumah.

Tak jauh dari Hendra, Gusti Iwan Darmawan tengah sibuk menyeduh kopi liberica asli Indonesia sembari berbincang dengan pengunjung. Kojal Coffee miliknya juga menjadi UMKM pilihan BI untuk hadir di World of Coffee.

Gusti memulai usaha kopi hanya berdua dengan istrinya pada 2017 lalu. Mereka mengambil biji kopi terbaik dari petani lokal Kalimantan Barat.

"Jadi kopinya hanya dari Kalimantan Barat untuk di coffee shop kami. Dan program kami juga melakukan pendampingan langsung ke petani-petani di Kalbar sejak 2017," tutur Gusti.

Dari yang awalnya hanya mendampingi 20 petani, saat ini Gusti sudah mendampingi hingga 300 petani. Peningkatan kapasitas itu dilakukan dengan bantuan BI sejak 2019.

"Aku bikin proposal ke Bank Indonesia, Bank Indonesia juga datang ke kita. Kita diskusi bareng-bareng mencari solusi permasalahannya di mana," kata dia.

Setelah berdiskusi, persoalan nyata terkait kopi di Kalimantan Barat berada di tingkat petani. Salah satu di antaranya adalah sarana dan prasarana pascapanen.

"Nah, itu yang aku minta bantuan dengan BI, dan alhamdulillah BI siapin semuanya. Mulai tahun 2019, lalu 2022 bantu lagi. Tapi nggak sekaligus," terang pria berambut panjang itu.

Menurut dia, bantuan bertahap dilakukan untuk melihat perkembangan dari setiap bantuan yang diberikan. Gusti pun enggan meminta bantuan sepenuhnya secara langsung agar petani yang ia dampingi bisa terus berkembang secara bertahap.

"Step by step, kita buktikan dengan begini aja kita udah bagus. Lalu minta bantu lagi nih, supaya lebih bagus lagi," jelas Gusti.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |