REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- ASEAN Sports Day (ASD) 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga bersama, tetapi juga ruang bagi mahasiswa asing untuk memperkenalkan permainan dan seni tradisional dari negara asal mereka pada Sabtu (5/9/2026), malam. Sejumlah mahasiswa mancanegara yang menempuh pendidikan di Yogyakarta tampil membawa olahraga dan budaya negaranya dalam rangkaian kegiatan ASD yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Loman Park Hotel Yogyakarta menjadi venue utama penyelenggaraan ASD tahun ini. Mahasiswa dari berbagai negara yakni Pakistan, Mesir, India dan Timor Leste ikut berbaur dengan peserta lainnya melalui pertunjukan olahraga tradisional, seni budaya, hingga aktivitas hiburan. Kehadiran mereka sekaligus memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menjadi sarana perjumpaan dan pertukaran budaya antarnegara.
Perwakilan mahasiswa asal Mesir, Marwan Ashraf dan Mohamed Saied, misalnya, menampilkan Tahtib, olahraga tradisional yang dimainkan dua orang menggunakan tongkat. Marwan menyampaikan bahwa, Tahtib telah dikenal sejak masa Mesir kuno dan kini lebih banyak ditampilkan dalam berbagai perayaan masyarakat Mesir dengan iringan musik dan tarian.
"Tahtib itu dari zaman dulu, zaman Mesir kuno pada masa Firaun. Dilakukan dengan dua orang yang bawa tongkat. Ini seperti bertarung, tapi sekarang dipakai seperti perayaan acara-acara di Mesir," kata Marwan saat diwawancara Republika, Sabtu (5/9/2026), malam.
Tahtib dipilih untuk diperkenalkan dalam ASD karena merupakan salah satu olahraga tradisional Mesir yang telah mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda kemanusiaan pada 2016. Dia menjelaskan, Tahtib pada masa lalu berkaitan dengan kemampuan bela diri dan digunakan untuk menghadapi situasi peperangan. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari perayaan dan kebudayaan masyarakat Mesir.
"Filosofinya dulu ini dipakai saat perang. Seperti itu. Kalau ada perang untuk bela diri juga. Jadi, ini filosofinya, nilai yang bisa diambil keberanian," ucapnya.
Bagi Marwan, kesempatan tampil dalam ASD juga menjadi pengalaman untuk bertemu mahasiswa dan peserta dari berbagai negara. Dia menilai kegiatan tersebut membuka kesempatan untuk saling mengenal sekaligus memperluas pengetahuan mengenai budaya negara lain.
"Acara ini seru sekali karena bisa bertemu dan menunjukkan olahraga tradisional kepada semua peserta dari berbagai negara ASEAN. Jadi, untuk saya ini kesempatan luar biasa untuk bisa berkenalan dengan teman-teman dari luar negeri," ujarnya.
Tidak hanya Mesir, mahasiswa asal India juga membawa permainan tradisional mereka. Akhil Srivastava bersama dua rekannya memperkenalkan kho-kho dan kabaddi. Ketiganya bahkan mengajak peserta lain untuk ikut bermain sehingga suasana festival olahraga tradisional berlangsung semakin meriah.
Akhil menjelaskan, kabaddi merupakan permainan tradisional India yang memiliki keterkaitan dengan kisah dalam Mahabharata, termasuk cerita mengenai Abhimanyu yang terjebak dalam formasi chakravyuha. Sementara kho-kho telah berkembang selama lebih dari satu abad dan menjadi permainan beregu yang menuntut kecepatan, koordinasi, serta kerja sama antarpemain.
"Kami harus bekerja sama agar bisa memenangkan pertandingan. Selain itu, pemain juga dituntut untuk berlari dan bertindak dengan cepat," kata Akhil.
Dirinya mengaku senang dapat menjadi bagian dari ASD 2026 karena mendapat kesempatan memperkenalkan permainan tradisional India kepada peserta dari negara lain. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya membuat olahraga tradisional lebih dikenal, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenal kebudayaan negara-negara lain.
Sementara itu, dari Timor Leste, Timotio Wusgusmao, memperkenalkan tarian Tebe-tebe bersama timnya. Dia mengatakan tarian tersebut merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Timor Leste yang hingga kini terus dipelihara.
Menurut Timotio, Tebe-tebe memiliki sejumlah fungsi dalam kehidupan masyarakat Timor Leste, antara lain untuk menyambut pejabat atau tokoh penting, mengawali sebuah acara, serta menjadi bentuk ungkapan terima kasih.
"Tarian ini untuk mengucapkan terima kasih dalam bentuk acara-acara yang seperti ini. Jadi, tarian-tarian ini mempunyai dua fungsi. Satu, untuk mengucapkan terima kasih. Yang kedua, untuk mengawali sebuah acara," ujarnya.
Timotio menilai momentum ASD menjadi kesempatan penting untuk mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Timor Leste sekaligus memperkenalkan budaya Timor Leste kepada masyarakat yang lebih luas.
"Timor Leste baru berpisah dari Indonesia 27 tahun kemarin. Ini masih sangat hangat hubungan ini. Maka, kami sangat mengucapkan banyak terima kasih dengan event-event seperti ini akan kita gunakan untuk memperkenalkan Timor Leste ke depan," ucapnya.
Sebelumnya, Asisten Deputi Olahraga Masyarakat Kemenpora RI Yayat Suyatna mengatakan ASD memang dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan olahraga. Tahun ini tema yang digaungkan adalah Active Youth Healthy Future, menjadi pesan utama agar generasi muda tidak hanya mengenal olahraga sebagai kompetisi, tetapi menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sejumlah agenda diselenggarakan, mulai dari ASEAN Fun Run, Tour de Prambanan, School Hub, job fair, festival olahraga tradisional, workshop pencak silat, hingga kegiatan olahraga dan budaya lainnya.
"Keberhasilan ASD itu nanti bisa dilihat bukan ketika event-nya saja, tetapi pasca-event-nya. Nah, pasca-event itu apakah masyarakat misalkan itu semakin rutin bergerak aktif berolahraga atau tidak sekaligus mengenalkan olahraga tradisional," kata Yayat.
Selain menjadi ruang untuk mengajak masyarakat lebih aktif bergerak, ASD juga diarahkan menjadi sarana memperkuat diplomasi olahraga. Peserta dari negara-negara ASEAN dan sejumlah negara lainnya seperti China, Jepang, serta Korea Selatan berbaur dengan masyarakat Yogyakarta melalui berbagai kegiatan.
"Dari negara-negara non-ASEAN seperti Mesir dan lain sebagainya. Jadi olahraga adalah bahasa universal untuk mempersatukan bangsa," ujarnya.
General Manager Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono Suyatno Putro, menyampaikan antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan ASD tahun ini cukup tinggi. Selain aktivitas yoga dan wellness seperti sound healing, keterlibatan anak muda, siswa SMA, serta mahasiswa asing turut membuat rangkaian kegiatan semakin semarak.
"Mahasiswa-mahasiswa dari mancanegara yang belajar di Yogyakarta juga turut menyemarakkan event ini dengan aktivitas-aktivitas seni budaya dan entertainment. Ada beberapa olahraga tradisional yang ditampilkan oleh beberapa mahasiswa dari Timor Leste dan juga aktivitas seni suara dari Pakistan," katanya.
Handono menilai Yogyakarta menjadi lokasi yang tepat untuk penyelenggaraan ASD karena mampu mempertemukan olahraga, budaya, masyarakat lokal, dan komunitas internasional dalam satu ruang. Dia berharap momentum tersebut dapat terus mendorong generasi muda untuk aktif bergerak sekaligus mengenal keberagaman budaya.
"Sehingga tagline daripada event tahun ini bagaimana mengaktifkan anak-anak muda, generasi muda yang ke depannya untuk mereka menjadi aset generasi sehat. Active youth, healthy future. Ini momentum yang sangat baik. Jadi, Yogyakarta memang sangat tempat, sangat tepat menjadi lokasi untuk penyelenggaraan acara tahunan ASEAN Sports Day ini. Kami dari Loman mendukung penuh acara ini sebagai venue, sebagai tempat untuk berlangsungnya acara ASEAN Sports Day," ungkapnya.

1 hour ago
2

















































