Badak Jawa, Krakatau Dan Tsunami

5 hours ago 5

Oleh: Azhar, Pendiri Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW)

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam sejarah konservasi badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), satwa yang kini menjadi salah satu mamalia paling terancam di dunia itu hidup di salah satu bentang alam yang secara geologi sangat dinamis. Taman Nasional Ujung Kulon bukan hanya rumah terakhir bagi badak Jawa, tetapi juga berada di kawasan yang berhadapan langsung dengan aktivitas vulkanik dan tektonik Selat Sunda. Di balik ketenangan hutan dan rawa tempat badak mencari makan, terdapat sejarah letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, dan perubahan bentang alam yang terus berlangsung.

Pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana badak Jawa dapat bertahan dari letusan dahsyat Krakatau 1883 dan apakah keberhasilan itu dapat menjamin keselamatannya menghadapi bencana di masa depan? Penelitian sejarah menunjukkan bahwa badak Jawa tidak tiba-tiba muncul kembali setelah letusan Krakatau. Sebelum 1883, keberadaan badak di Ujung Kulon telah tercatat dalam berbagai laporan  dan setelah letusan pun pengamatan terhadap badak tetap berlangsung.

Kajian van Strien dan Rookmaaker menunjukkan tidak ada bukti bahwa seluruh populasi badak Jawa di Ujung Kulon musnah akibat letusan Krakatau 1883; populasi yang kemudian tercatat bahkan berada pada kisaran sekitar 40–50 individu dalam sebagian besar periode hingga 1949 (van Strien & Rookmaaker, 2010).

Fakta ini penting karena selama bertahun-tahun muncul anggapan bahwa letusan Krakatau justru “menyelamatkan” badak Jawa dengan menghancurkan habitat manusia dan menciptakan hutan baru. Pandangan tersebut perlu ditempatkan secara lebih ilmiah. Krakatau memang merupakan gangguan ekologis berskala besar yang mengubah tanah, vegetasi, dan struktur lanskap Ujung Kulon. Abu vulkanik, perubahan substrat, serta proses suksesi setelah letusan menghasilkan perubahan komposisi vegetasi dan mosaik habitat yang berbeda dari kondisi sebelum letusan (Hommel, 1987).

Namun, mengatakan bahwa Krakatau menyelamatkan badak adalah penyederhanaan. Badak telah hidup di kawasan tersebut sebelum letusan. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa letusan Krakatau mengubah lanskap, sementara proses suksesi ekologis, keterpencilan Ujung Kulon, dan perlindungan kawasan kemudian membentuk kondisi yang memungkinkan populasi badak tetap bertahan.

Hal lain yang sering dilupakan adalah bahwa badak Jawa tidak membutuhkan hutan yang seragam. Penelitian mengenai pemanfaatan ruang dan seleksi habitat menunjukkan bahwa badak banyak menggunakan kawasan semak, rawa, habitat relatif terbuka, dataran rendah, daerah dekat sungai dan pantai, kubangan, serta celah-celah vegetasi (Santosa et al., 2013). Penelitian mengenai preferensi habitat juga menunjukkan adanya hubungan pemilihan habitat dengan kondisi tanah, salinitas, serta jarak dari garis pantai (Rahmat et al., 2008).

Dengan demikian, sejarah ekologis Ujung Kulon memperlihatkan bahwa badak Jawa mampu hidup dalam lanskap yang mengalami perubahan besar. Tetapi kemampuan beradaptasi terhadap perubahan habitat tidak boleh disamakan dengan kemampuan menghadapi bencana katastrofik.

Kawasan Ujung Kulon berada di sisi barat Pulau Jawa, berhadapan langsung dengan zona tektonik Selat Sunda. Kawasan ini berada dekat dengan sistem subduksi yang dapat menghasilkan gempa bumi dan tsunami. Bahkan peristiwa tsunami 22 Desember 2018 memberikan bukti nyata bahwa kawasan tersebut bukan sekadar memiliki risiko teoritis. Tsunami 2018 dipicu oleh longsoran bawah laut yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau, bukan oleh gempa tektonik besar secara langsung (Widiyanto et al., 2020).

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |