Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis 29/1/2026). IHSG pada sesi pertama kembali mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 09.30 WIB namun mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu. IHSG tengah hari terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47. Tekanan IHSG hari ini masih disebabkan Tekanan IHSG hari ini masih dibayangi oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Sebanyak 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Hingga pukul 09.09 WIB, IHSG turun 19,52 poin atau 0,31 persen ke level 6.298,98 di tengah tekanan jual yang masih membayangi pasar saham domestik.
Volatilitas pasar yang tinggi membuat perusahaan sekuritas mulai mengubah cara investor bertransaksi. Sistem trading konvensional dengan tampilan statis dinilai tidak lagi cukup responsif menghadapi pergerakan pasar yang berubah cepat dalam hitungan detik.
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), misalnya, meluncurkan pembaruan aplikasi trading berbasis AI real time dengan tampilan dinamis yang menyasar investor muda. Perusahaan menilai sistem trading konvensional dengan tampilan statis mulai sulit mengikuti perubahan pasar yang bergerak dalam hitungan detik.
“Ketika market berubah dalam hitungan detik, UI statis dan indikator terlambat hanya menghasilkan satu hal: keputusan yang lambat, reaksi yang tertinggal, dan proteksi trading yang lemah,” kata President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The dalam keterangan, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, investor muda saat ini lebih menyukai aplikasi yang personal, responsif, dan tidak rumit. Karena itu, IPOT menghadirkan fitur pengaturan tampilan sesuai kebutuhan pengguna, mulai dari investor pemula hingga trader aktif.
Persaingan aplikasi investasi juga semakin ketat seiring tingginya aktivitas investor ritel di tengah pasar yang volatil. Sejumlah sekuritas mulai mengandalkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk membantu investor membaca arah pasar, memantau pergerakan saham, hingga mengatur strategi transaksi secara lebih cepat.
IPOT juga menambahkan fitur proteksi otomatis melalui sistem ROBO yang memungkinkan investor memasang strategi seperti stop loss, trailing stop, hingga take profit secara otomatis. Fitur tersebut dirancang untuk menekan keputusan emosional saat pasar bergerak liar.
Selain itu, data fundamental emiten kini dikemas dalam bentuk visual dan grafik agar lebih mudah dipahami investor muda yang terbiasa dengan tampilan digital interaktif.
“IPOT menyadari bahwa generasi muda jauh lebih cepat menangkap pola tren melalui pendekatan grafis dibandingkan tabel angka yang membosankan,” ujar Moleonoto.
sumber : Antara

10 hours ago
10















































