Gubernur BI Optimistis Rupiah Menguat pada Juli-Agustus 2026

15 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat pada Juli hingga Agustus 2026 setelah sempat tertekan hingga menyentuh Rp 17.700 per dolar AS. Keyakinan itu muncul setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan dan memperkuat berbagai instrumen stabilisasi rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah belakangan lebih banyak dipicu tekanan global dan tingginya kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Menurut dia, secara fundamental nilai tukar rupiah sebenarnya masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued.

“Insya Allah nanti di bulan Juli, Agustus itu rupiah akan menguat. Dalam berbagai kesempatan saya sampaikan bahwa nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya masih undervalued,” ujar Perry dalam taklimat media hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (20/5/2026) lalu.

Perry mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Hal itu tercermin dari inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, serta defisit transaksi berjalan yang masih rendah.

“Mestinya rupiah itu akan menguat dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, dan berbagai indikator fundamental ekonomi kita yang tetap baik,” katanya.

Dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026, BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Suku bunga Deposit Facility juga naik menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen.

Kenaikan suku bunga itu ditempuh sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

Selain BI-Rate, BI juga memperkuat daya tarik instrumen keuangan domestik melalui kenaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada 13 Mei 2026, suku bunga SRBI tenor 6 bulan, 9 bulan, dan 12 bulan masing-masing naik menjadi 6,21 persen, 6,31 persen, dan 6,45 persen.

Menurut Perry, kombinasi kenaikan BI-Rate, penguatan SRBI, dan intervensi di pasar valuta asing diyakini mampu menjaga aliran modal asing tetap masuk ke pasar domestik.

“Kami meyakini dengan penguatan BI-Rate dan perubahan struktur suku bunga SRBI, inflow akan tetap besar ke dalam negeri,” ungkap Perry.

BI mencatat aliran modal asing pada triwulan II 2026 mulai kembali masuk dengan nilai mencapai 5,5 miliar dolar AS hingga 18 Mei 2026. Dana tersebut terutama masuk ke instrumen SRBI dan surat berharga negara (SBN).

Perry juga menjelaskan tekanan terhadap rupiah berasal dari dua faktor utama. Pertama, memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, serta pelarian modal dari negara berkembang.

Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat ikut memperkuat dolar AS dan menekan mata uang banyak negara, termasuk rupiah. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bahkan telah naik menjadi 4,66 persen pada 19 Mei 2026.

Faktor kedua berasal dari tingginya kebutuhan valuta asing domestik pada April hingga Juni, mulai dari pembayaran dividen perusahaan, utang luar negeri, hingga kebutuhan haji dan umrah.

“Di bulan April sampai Juni memang permintaan valas domestik tinggi. Itu terjadi di tengah tekanan global dan menyebabkan capital outflow masih cukup besar,” kata Perry.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI terus meningkatkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

BI juga memperkuat kebijakan transaksi valas melalui penyesuaian threshold pembelian valas tanpa underlying, peningkatan threshold DNDF dan swap, serta memperluas transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |