REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkhawatirkan memburuknya kualitas air di Jalur Gaza. WHO menyoroti meningkatnya risiko penyakit di antara warga Gaza menjelang musim dingin.
"Yang sangat mengkhawatirkan bagi kami adalah kualitas air memburuk," ungkap Perwakilan WHO untuk Wilayah Palestina yang diduduki, Reinhilde Van de Weerdt, Selasa (1/9/2026), dilaporkan laman Anadolu Agency.
Dia mencatat bahwa kontaminasi mikrobiologis telah meningkat hampir tiga kali lipat tahun ini.
Sementara kapasitas laboratorium tetap terbatas. Kondisi tersebut membuat otoritas kesehatan di sana hanya bisa mendeteksi serta melacak kontaminan mikrobiologis penting dalam air dan lingkungan.
"Dari lebih dari 6.500 sampel yang diuji, kami berubah dari hanya di bawah 6 persen kontaminasi pada bulan Januari menjadi hampir 20 persen bulan lalu, hanya Agustus lalu," kata Van de Weerdt.
Dia mengungkapkan, pihaknya telah mencatat lonjakan kasus diare berair akut, dari 30 ribu kasus pada Maret, menjadi 58 ribu kasus pada Agustus 2026. Kenaikannya hampir menyentuh 100 persen dalam kurun sekitar lima bulan terakhir.
Seorang anak di Gaza, Palestina mengejar truk pembawa tangki air. Ketersediaan air bersih di Gaza begitu langka akibat rusaknya infrastuktur dan blokade bantuan oleh Israel.
Van de Weerdt mengungkapkan, Gaza, yang kini sebagian besar infrastrukturnya telah berubah reruntuhan, juga sudah dipenuhi sampah dan luapan limbah. Sementara warganya berkerumun di kota-kota. “Hujan dan musim dingin sudah dekat. Banjir di tempat-tempat yang sangat ramai ini akan menyebarkan limbah, kotoran, dan air yang terkontaminasi ke tempat-tempat di mana orang-orang tidur, memasak, dan merawat orang yang mereka cintai,” ujarnya memperingatkan.
Dia menambahkan, genangan air dapat melahirkan nyamuk dan hama. Sementara tenda yang berpotensi lembab dan penuh jamur dapat meningkatkan risiko penyakit, terutama penyakit pernapasan di antara anak kecil.
“Apa yang benar-benar perlu kita lakukan sekarang adalah melindungi yang rapuh yang kita temui dalam kesehatan, dan itu berarti mencegah dengan segala cara wabah penyakit di Jalur Gaza. Dan untuk berada di depan kurva ini, kita harus dapat dengan cepat mengkonfirmasi penyebab potensi wabah,” ucap Van de Weerdt.
Van de Weerdt pun menyoroti menyoroti kurangnya akses ke layanan penting untuk orang yang diamputasi. Dia mencatat bahwa lebih dari 6.600 orang di Gaza diperkirakan membutuhkan perawatan jangka panjang setelah amputasi anggota tubuh karena mereka berjuang untuk mendapatkan produk bantu yang dibutuhkan.
"Sebenarnya, tidak satu pun dari barang-barang ini yang akan memungkinkan orang, termasuk banyak anak-anak, untuk berjalan dan hidup dalam martabat tertentu telah memasuki Gaza sejak Mei 2024," kata Van de Weerdt.
Dia mendesak agar akses bantuan kemanusiaan, ke Gaza tak dihalang-halangi dan dipercepat. Bantuan yang dibutuhkan terutama persediaan medis, akses yang dapat diandalkan ke air bersih, dan pengelolaan limbah yang tepat.
Sejak meluncurkan agresi ke Gaza pada Oktober 2023, Israel menyerang tanpa pandang bulu. Mereka membombardir berbagai fasilitas dan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit. Hal itu melumpuhkan kapasitas sektor medis di sana. Akibatnya warga kesulitas mengakses layanan kesehatan.
Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata pada Oktober 2025. Namun hingga kini Israel masih secara sporadis melancarkan serangan ke Gaza. Agresi Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah membunuh lebih dari 73 ribu warga Gaza. Sementara korban luka melampaui 174 ribu orang.

5 hours ago
3

















































