Viral Dulu, Makna Belakangan: Krisis Bahasa di Era TikTok

16 hours ago 14

Image Nyimas Seraya

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-29 07:25:07

Pernahkah kamu tiba-tiba mengucapkan kata "skibidi", "delulu", atau "no cap" dalam percakapan sehari-hari tanpa benar-benar tahu artinya? Jika iya, kamu tidak sendirian. Di era TikTok seperti sekarang, kata-kata baru lahir setiap hari viral dalam hitungan jam, dipakai jutaan orang, namun maknanya kerap tidak dipahami oleh penggunanya sendiri. Inilah yang oleh para ahli sosiolinguistik disebut sebagai pergeseran bahasa yang dipicu oleh media sosial.

Fenomena ini bukan sekadar tren biasa. Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa tidak pernah berdiri sendiri ia selalu terikat dengan konteks sosial, budaya, dan kekuasaan di mana ia digunakan. Chaer dan Agustina (2010) dalam Sosiolinguistik: Perkenalan Awal menegaskan bahwa perubahan bahasa selalu dipengaruhi oleh faktor sosial yang melingkupinya, termasuk media dan teknologi. TikTok, sebagai platform dengan algoritma yang sangat kuat, kini menjadi salah satu faktor terbesar yang membentuk cara generasi muda berbahasa bukan berdasarkan makna, melainkan berdasarkan seberapa viral sebuah kata atau frasa.Yang menjadi persoalan bukan sekadar munculnya kata-kata baru.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Generasi yang terbiasa berbahasa secara viral cenderung kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan diri secara mendalam. Komunikasi menjadi semakin dangkal penuh istilah keren namun kosong makna. Di ruang kelas, di tempat kerja, bahkan dalam hubungan personal, kemampuan untuk berbicara dengan tepat dan bermakna menjadi semakin langka. Bahasa yang seharusnya menjadi jembatan justru berubah menjadi sekadar aksesori identitas dipakai bukan untuk dipahami, melainkan untuk terlihat kekinian.

Tentu saja TikTok tidak sepenuhnya bersalah. Platform ini juga melahirkan kreativitas bahasa yang luar biasa dan memperkaya kosakata generasi muda. Namun tanpa literasi bahasa yang memadai, kreativitas itu berisiko berubah menjadi kekacauan linguistik. Sudah saatnya kita tidak hanya mengikuti apa yang viral, tetapi juga mempertanyakan apa yang sebenarnya kita ucapkan dan mengapa. Karena bahasa bukan sekadar tren bahasa adalah cermin dari cara kita berpiki.

Bahasa memang selalu berkembang dan itu adalah hal yang wajar. Masalahnya adalah ketika kata dipakai bukan karena dipahami, melainkan karena sedang tren. Kata "toxic", misalnya, kini digunakan untuk hampir semua situasi negatif tanpa pemahaman psikologis yang memadai. Kata "gaslight" yang sebenarnya merujuk pada manipulasi psikologis serius, kini dilempar begitu saja dalam percakapan ringan.

Makna yang dalam menjadi dangkal karena dipakai tanpa konteks yang tepat. Fasold (1984) dalam The Sociolinguistics of Society menjelaskan bahwa ketika sebuah kata kehilangan makna aslinya akibat pemakaian yang berlebihan dan tidak tepat, terjadilah proses semantic bleaching pemudaran makna yang perlahan mengikis kedalaman bahasa itu sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |