riria ansyah
Agama | 2026-06-28 23:56:45
Banyak dari kita mengakatakan bahwa semua hal yang kita lakukan saat ini, kemarin, ataupun suatu saat yang akan datang itu sudah tertulis semua di lauhul fahfudz. Semua yang kita jalankan ini semua adalah taqdir. Hidup seperti robot remote yang segala pergerakannya sudah ditentukan oleh Allah SWT. Tetapi apakah Allah hanya membiarkan ciptaannya menyerah diri tanpa adanya kemajuan dan harapan untuk menggapai apa yang ciptaannya inginkan. Sama halnya keputus asaan seseorang seringkali muncul ketika kesuksesan tidak datang padanya. Menganggap bahwa semua usaha yang dilakukannya adalah sia – sia.
Lalu sebelum itu kita semua mengetahui bahwasannya sebuah Takdir terdapat menjadi Qada dan Qadar dan kedua itu harus kita percayai semestinya dalam Iman yang ke-6. Qada yang secara estimologi bisa kita artikan sebagai menetapkan dan memustuskan, namun dalam artian lebih, bisa kita maksud yaitu ketetapan rencana Allah SWT yang ditetapkan terhadap setiap Makhluk-Nya sebelum dilahirkan. Jikalau mengetahui arti Qadar dalam estimologi yaitu ukuran sebagai pemutusan suatu perkara yang bisa dimaksud dalam artian lain yaitu ketetapan Allah SWT yang terjadi pada setiap makhluk-Nya berdasarkan pada suatu doa dan usaha yang akan dilakukannya. Maka dapat disimpulkan kita tidak bisa dikatakan sebagai robot remote yang bergerak atas takdir tetapi semua perlu akal sehat dan kuat untuk melakukan semua usaha dan keyakinan yang menentukan takdir kita.
Seseorang berkata bahwasannya sebuah takdir tidak semua tersimpan dan tertulis, untuk apa Allah SWT menciptakan seseorang hanya untuk sebagai bahan mainannya. Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadikannya khalifah di muka bumi ini yang menjadikannya bumi tempat aman untuk menjalakan kewajiban Allah SWT. Seperti yang dikatakan dalam Al – Quran surat Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, padahal kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Allah berfirman, 'Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Pada akhirnya pun Allah SWT menciptakan bentuk manusia yang sempurna, dengan rangkaian unsur dari yang tersebar dan dapat dilihat jelas oleh mata sampai yang terkecil yak kasat mata dalam tubuh manusia, semua rangkaian unsur tersebut memiliki fungsi sendiri dan alasan mengapa terciptanya rangkaian unsur tersebut. Layaknya otak yang Allah SWT berikan kepada setiap penciptanya dengan harapan manusia dapat berfiir dengan dengan akal yang baik dan sehat sehingga dapat memutuskan penggunaan seperti apa yang penciptanya akan pilih. Menggunakannya untuk berpikir semua ini milik Allah SWT dan hidup hanya untuk kepada-Nya atau berpikir dunia adalah sebuah tempat terakhir yang Allah SWT ciptakan untuk melakukan semua hal kebebasan di dalamnya.
Salah satu keajaiban Allah SWT adalah menciptakan manusia dengan ketidaksamaan yang pasti seperti halnya Allah SWT hanya menciptakan otak tanpa memberinya isi cara berpikir, maka manusia memiliki cara berpikirnya sendiri setiap orangnya yang dipengaruhi oleh pendidikan yang ia dapat dari setiap indranya. Bagaiaman yang ia lihat? Apa yang ia rasakan? Seperti apa lingkungannya bekerja? Maka disitulah otak manusia tunbuh dengan cara yang berbeda.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ١٩١
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”( Al-Imran Ayat 190-191)
Dari ayat tersebut bisa kita renumgkan bahwasannya Allah SWT tidak semata mata menciptakan alam semesta ini tanpa kepastian yang pasti dan Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia memepelajari arti jelas dan maksud tujuan mengapa Allah SWT menciptakan alam semesta dan segala isinya.
Penggunaan akal untuk berpikir memang tidak terbatas maka dari itu Allah SWT menciptakan Al – Quran agar manusia tetap mengetahui bahwa semua penelitian yang mereka temukan sudah tertulis dan diceritakan di dalam-Nya. Maka dari itu Allah SWT tidak membatasi cara kita berpikir dan usaha kita untuk mencapai kepuasan tetapi Allah SWT hanya menjelaskan bahwa semua itu sudah Allah SWT terangkan dalam kalam-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."(Adz-Dzariyat Ayat 56)
Tujuan utama Allah SWT menciptakan bumi sebagai tempat beribadah para manusia, namun mengapa saat ini mereka berpikir bahwa bumi dan dunia adalah segalanya. Dunia yang telah Allah SWT ciptakan dengan semuka isinya agar manusia bebas dan leluasa melaksanakan kewajibannya, tetapi nyatanya saat ini dunia dijadikan sebagai tempat untuk beradu kekuasaan, berlomba – lomba siapa yang paling angkuh di hadapan manusia lainnya hingga lupa bahwa mereka dihidupkan hanya untuk beribadah dan melaksanakan tugas yang bersifat wajib dari pencipta-Nya
Salah satu kewajiban yang Allah SWT perintahkan yaitu pembelajaran, namun dari pembelajaran ini banyak orang bersikap yang tidak semestinya dalam artian mereka hanya paham bahwa hasil pembelajaran yaitu nilai dan kesuksesan yang bisa dipamerkan. Pada nyatanya Allah SWT mewajibkan untuk belajar yaitu menghasilkan akal yang bermanfaat dan pengertian atas pembelajaran yang sudah dipelajari dengan bukti nilai tinggi dan kesuksesan hasil atas pembelajaran yang diusahakan dengan sungguh – sungguh bukan dengan cara cerdik nan curang yang memanipulasikan sebuah keberhasilan dengan kekuasaan yang mereka miliki.
Beberapa pepatah yang pernah saya dengar sempat berkata “Siapa yang BERKUASA maka ia yang MENANG” salah satu pepatah yang membuat dunia ini sebagai lahan perlombaan untuk kekuasaan. Dapat disimpulkan jika mereka sudah menggunakan akal dan otaknya untuk berpikir tetapi mereka tidak memiliki pemegangan teguh atas pencipta-Nya mereka tetap berpikir bahwa yang mereka lakukan untuk mendapatkan kekuasaan itu semua adalah cara yang benar. Dalam artian mereka menghalalkan semua cara agar bisa berkuasa dan mendapatkan kekuasaannya secara terus menerus.
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisa’: 108).
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

15 hours ago
14






































