Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Ada pepatah tua dalam dunia diplomasi: kesalahan terbesar bukanlah memulai perang, melainkan mengira perang akan menyelesaikan persoalan. Di Timur Tengah, pepatah itu kembali menemukan pembuktiannya. Amerika Serikat tampaknya sedang mengulangi blunder yang sama: mengira bom dapat menggantikan diplomasi.
Sebuah memorandum of understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang semula dipromosikan sebagai pintu menuju perdamaian dan stabilitas ternyata bahkan belum sempat menghasilkan kepercayaan. Baru sekitar tiga pekan berjalan sejak disepakati pada pertengahan Juni, Donald Trump menyatakan kesepakatan itu "over".
Keputusan itulah yang layak disebut Trump kembali ngamuk dan membuat Washington tampaknya mengulangi blunder: mengira bom dapat menyelesaikan persoalan yang gagal diselesaikan diplomasi. Bukan Iran yang kehilangan kartu tawar, justru AS yang kembali mendorong Teheran menggunakan senjata terakhirnya: Selat Hormuz.
Sesudah kata "over" itu meluncur dari mulut Trump di Turki, di forum pertemuan NATO, pada 8 Juli, langit Iran kembali dipenuhi suara pesawat tempur. Serangan udara Amerika menghantam puluhan bahkan lebih dari seratus sasaran militer. Kehancuran tak terelakkan, sekaligus memicu semangat jihad rakyat Iran yang sudah menyala oleh kemartiran Ali Khamenei.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika di kawasan Teluk. Sasaran utamanya antara lain Pangkalan Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, kompleks Angkatan Laut AS di Juffair serta Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Wilayah Timur Tengah kembali menyala.
Iran juga mengklaim menyerang sistem pertahanan rudal Patriot di Kuwait, antena satelit di Qatar, dan depot bahan bakar militer Amerika di Bahrain. Kuwait mengaku berhasil mencegat sebagian besar rudal, sementara Qatar menaikkan status ancaman keamanan. Yordania juga kebagian rudal.
Serangan Iran tampaknya lebih merupakan pesan politik daripada upaya memenangkan perang. Iran ingin menunjukkan bahwa pangkalan-pangkalan Amerika di Teluk tidak lagi berada di luar jangkauan, sekaligus mengingatkan bahwa setiap bom yang jatuh di Teheran dapat memantul ke seluruh kawasan Teluk.
Di sinilah letak blunder itu. Washington tampaknya masih memandang konflik ini sebagai perang yang bisa dimenangkan lewat dominasi udara. Padahal medan tempurnya sudah berubah. Iran mungkin kalah dalam adu pesawat tempur, tetapi masih menguasai kartu yang jauh lebih mahal bagi dunia: kemampuan mengganggu Selat Hormuz.
Dunia pun kembali menyaksikan sebuah paradoks lama: setiap pihak mengaku sedang mempertahankan perdamaian, tetapi jalan yang ditempuh selalu berupa penambahan jumlah rudal.
Di sinilah banyak orang keliru membaca konflik ini. Mereka mengira persoalannya semata-mata nuklir Iran. Padahal, perkembangan beberapa bulan terakhir memperlihatkan bahwa jantung pertikaian justru bergeser ke sebuah selat sempit selebar sekitar 40 kilometer: Selat Hormuz.
Di situlah sesungguhnya kartu terakhir Iran berada. Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut. Ia adalah keran energi dunia. Hampir seperlima perdagangan minyak dunia dan sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) melintas di sana.
Setiap hari, puluhan kapal tanker bernilai miliaran dolar bergantian melewati lorong sempit yang diapit Iran di utara dan Oman di selatan. Jika Terusan Suez adalah nadi perdagangan global, maka Hormuz adalah jantung energi dunia.
Karena itulah Iran berkali-kali menyebut Hormuz sebagai garis merah terakhirnya. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan menegaskan bahwa selat itu hanya akan dibuka kembali sesuai pengaturan Iran, bukan karena ancaman Amerika.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika nasionalisme. Itu pesan strategis. Ketika kekuatan udara Amerika jauh lebih unggul, Iran tahu mereka tak mungkin memenangkan perang secara konvensional. Tapi mereka masih memiliki kemampuan mengendalikan titik sempit yang menjadi kebutuhan hampir seluruh ekonomi dunia.
Ironinya, senjata pamungkas itu sekaligus melukai diri sendiri. Ketika lalu lintas kapal terganggu, ekspor minyak Iran sendiri ikut anjlok. Harga minyak Iran harus dijual dengan diskon besar. Pendapatan negara menyusut drastis.
Ekonomi nasional Iran yang sejak lama sudah dihimpit sanksi kini semakin tercekik. Inilah paradoks geopolitik: kartu truf yang terlalu sering dimainkan perlahan berubah menjadi kartu bunuh diri.
Ironisnya, justru setelah membatalkan MoU, posisi Amerika tidak otomatis menjadi lebih kuat. Inilah yang membuat banyak pengamat menyebut langkah Washington sebagai sebuah blunder strategis.
Perang modern bukan hanya soal menang di medan tempur. Ia juga soal memenangkan rasa percaya para pelaku ekonomi. Sekali perusahaan asuransi menaikkan premi hingga puluhan kali lipat, sekali perusahaan pelayaran mengenakan biaya konflik jutaan dolar per kapal, maka biaya perang akan dibayar oleh seluruh penduduk bumi melalui harga barang di pasar.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

14 hours ago
15





































