MUHAMMAD RIZKI FAHREZI
Gaya Hidup | 2026-07-12 22:40:25
Belakangan ini, istilah self-care atau merawat diri menjadi topik yang sangat populer di media sosial. Mulai dari melakukan ritual skincare di malam hari, olahraga rutin, hingga mengambil waktu jeda (me-time) dari penatnya pekerjaan. Namun, pernahkah kamu berpikir bagaimana Islam memandang konsep self-care ini?
Sering kali ada anggapan keliru bahwa fokus pada diri sendiri adalah bentuk keegoisan atau kurangnya berserah diri. Padahal, jauh sebelum istilah self-care booming, Islam telah meletakkan dasar-dasar merawat diri yang sangat indah. Dalam pandangan Islam, tubuh, pikiran, dan jiwa kita bukanlah milik kita sepenuhnya, melainkan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan baik.
Merawat diri bukan tentang memanjakan ego secara berlebihan, melainkan sebuah bentuk syukur atas nikmat kehidupan. Nah, berikut adalah cara pandang Islam mengenai self-care yang bisa kita praktikkan sehari-hari:
Merawat Fisik sebagai Bentuk Menjaga Amanah
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa tubuh kita memiliki hak atas diri kita. Menjaga kesehatan dengan makan makanan yang thoyyib (baik dan bergizi), istirahat yang cukup, serta menjaga kebersihan adalah bentuk self-care yang bernilai ibadah. Saat kita menggunakan skincare untuk menjaga kesehatan kulit atau berolahraga agar tubuh bugar, niatkanlah itu untuk menjaga aset yang sudah Allah titipkan agar kita bisa beribadah dan menebar manfaat lebih lama.
Mental Wellness Melalui Zikir dan Jeda Spiritual
Self-care bukan cuma soal fisik, tapi juga kesehatan mental. Di tengah gempuran dunia yang serba cepat dan bikin cemas, Islam memberikan ruang jeda melalui shalat lima waktu. Shalat adalah bentuk mindfulness tertinggi, di mana kita melepaskan semua urusan dunia sejenak dan terkoneksi dengan Sang Pencipta. Selain itu, memperbanyak zikir dan membaca Al-Quran adalah obat penenang jiwa terbaik saat pikiran mulai jenuh dan stres (burnout).
Memberi Batasan Diri (Setting Boundaries) demi Kedamaian Jiwa
Dalam tren modern, self-care sering dikaitkan dengan kemampuan berkata "tidak" pada hal-hal yang merusak kedamaian mental. Islam pun mengajarkan kita untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat (tarku ma la ya'nih). Menjauhi lingkungan yang toksik, menghindari ghibah, dan membatasi konsumsi konten media sosial yang memicu penyakit hati (seperti iri dan dengki) adalah langkah nyata self-care untuk menjaga kesucian hati.
Menyeimbangkan Hak Tubuh dan Hak Jiwa
Rasulullah SAW selalu mengajarkan keseimbangan (tawazun). Beliau menegur sahabat yang beribadah sepanjang malam tanpa tidur, atau yang berpuasa terus-menerus tanpa berbuka. Islam melarang kita menzalimi diri sendiri, baik dengan bekerja terlalu keras tanpa istirahat, maupun dengan bermalas-malasan. Tidur yang cukup saat lelah adalah bentuk self-care yang diridhai Allah.
Menyayangi dan merawat diri sendiri adalah langkah awal sebelum kita bisa menyayangi dan merawat orang lain. Ketika fisik sehat dan mental stabil, kita akan memiliki energi yang penuh untuk beribadah dan berbuat baik kepada sesama.
Jadi, mulai hari ini, jangan lagi merasa bersalah saat kamu meluangkan waktu untuk istirahat atau merawat diri. Ubah mindset-mu: self-care bukan lagi sekadar pemenuhan gaya hidup, melainkan refleksi iman dan bisikan syukur yang tulus kepada Sang Pencipta.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

22 hours ago
16






































