
Oleh: Yana Karyana, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) Indonesia, Wakil Ketua PCNU Kota Tangerang
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saya merasa cukup terusik ketika beberapa waktu lalu menyaksikan sebuah video yang beredar di media sosial. Dalam sebuah festival musik di Jakarta, sebuah tantangan hafalan Al-Qur’an dipertemukan dengan hadiah minuman beralkohol sebagai bagian dari promosi. Seorang pengunjung diminta melafalkan surah untuk mendapatkan minuman gratis.
Entah mengapa, yang pertama muncul dalam pikiran saya bukan sekadar kemarahan. Saya justru merasa prihatin dan bertanya dalam hati, kok kita sampai di titik ini?
Al-Qur’an adalah kitab suci yang dimuliakan umat Islam, sedangkan minuman keras merupakan sesuatu yang diharamkan dalam ajaran Islam. Keduanya berada dalam dua ruang nilai yang berbeda, tetapi justru dipertemukan dalam sebuah gimmick untuk menarik perhatian. Reaksi publik tentu dapat dipahami. Namun, setelah polemik mereda, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar mencari siapa yang salah: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kita?
Mengapa sesuatu yang diyakini suci dapat begitu mudah dipindahkan ke dalam ruang permainan? Mengapa rasa hormat seolah kalah oleh keinginan menciptakan sesuatu yang menarik perhatian? Apakah kita mulai kehilangan kemampuan membedakan antara sesuatu yang dapat dijadikan permainan dan sesuatu yang semestinya tetap dihormati?
Barangkali, persoalan ini bukan hanya tentang satu video atau satu gimmick. Peristiwa tersebut mungkin menjadi cermin dari persoalan yang lebih luas: semakin mudahnya kita memisahkan sesuatu dari maknanya, yang suci dari kesuciannya, simbol dari nilai yang dikandungnya, serta pengetahuan dari kebijaksanaan.
Di situlah saya kemudian bertanya, apa yang salah pada diri kita?
Saya sengaja menggunakan kata kita. Sebab terlalu mudah menunjuk generasi muda sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas lunturnya nilai. Padahal, generasi hari ini tidak tumbuh dalam ruang kosong. Mereka tumbuh di dalam dunia yang kita bangun bersama. Mereka melihat apa yang kita pertontonkan, mendengar cara kita berbicara, dan belajar dari cara masyarakat memperlakukan nilai yang diyakininya.
Socrates mengajarkan pentingnya manusia memeriksa dirinya sendiri. Karena itu, persoalan seperti ini tidak cukup dijawab dengan pertanyaan tentang siapa yang salah. Kita juga perlu berani bertanya: apa yang telah kita lakukan hingga rasa hormat dapat sedemikian mudah terkikis?
Pendidikan, bagaimanapun, tidak hanya berlangsung di sekolah. Anak-anak belajar dari keluarga, masyarakat, media, ruang digital, bahkan dari cara pasar mengejar keuntungan. Mereka belajar bukan hanya dari buku dan guru, tetapi juga dari apa yang mereka saksikan setiap hari.
Di tengah keadaan itulah kita menghadapi risiko lahirnya generasi yang mengalami jarak antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Pengetahuan berkembang begitu cepat, tetapi pertumbuhan kebijaksanaan tidak selalu berjalan seiring. Kecerdasan meningkat, tetapi kepekaan moral tidak selalu tumbuh dalam arah yang sama.
Seseorang dapat menjadi sangat pintar, tetapi kurang peka terhadap sesama. Ia dapat menguasai teknologi, tetapi tidak selalu memikirkan dampak tindakannya. Ia dapat memiliki kebebasan yang luas, tetapi kehilangan kemampuan menghormati orang lain. Persoalannya bukan selalu karena manusia tidak mengetahui apa yang dilakukannya. Kadang, masalah muncul ketika manusia memiliki kemampuan, tetapi tidak lagi bertanya apakah kemampuan itu digunakan dengan cara yang benar, pantas, dan membawa kebaikan.
Di situlah ilmu mulai kehilangan arah. Aristoteles sejak lama mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penambahan pengetahuan, tetapi juga pembentukan kebajikan. Mengetahui apa yang baik tidak otomatis membuat manusia menjadi baik. Kebaikan harus dilatih, dibiasakan, dan diwujudkan dalam tindakan.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

5 hours ago
8
















































