REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut pihaknya belum menerima laporan terkait kerusakan lahan pertanian akibat erupsi gunung api. Hal itu disampaikan Amran saat ditanya mengenai dampak aktivitas erupsi terhadap lahan pertanian di wilayah terdampak.
Sejumlah pihak terkait terus memberikan gambaran situasi dampak aktivitas erupsi. "Belum, belum ada laporan. Tapi saya kira itu biasanya bisa menyuburkan tanah," ujar Amran di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Meski demikian, Mentan berharap abu vulkanik yang jatuh di wilayah pertanian tidak menimbulkan kerusakan. Dia juga memastikan belum ada laporan mengenai potensi gangguan terhadap pasokan komoditas pangan akibat aktivitas erupsi.
"Abu vulkanik? Iya, tetap, iya, tetapi moga-moga tidak merusak," kata Amran.
Ia menegaskan kondisi pasokan komoditas pangan masih aman. "Oh enggak, enggak. Aman, aman," tegasnya.
Pernyataan Amran tersebut disampaikan di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung yang masih berada pada Level III atau Siaga. Gunung Anak Krakatau sebelumnya mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam sebelum aktivitasnya kembali menunjukkan pola letusan ringan secara berkala.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Lana Saria menjelaskan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Ahad (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas erupsi kembali menunjukkan karakteristik letusan strombolian yang menjadi ciri Gunung Anak Krakatau.
"Setelah episode erupsi menerus berakhir, teramati tiga kali erupsi strombolian dengan warna kolom erupsi hitam. Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut," ujar Lana di Bandung, Senin (7/9/2026).
Meski episode erupsi menerus telah berakhir, pemantauan instrumental pada periode 6-7 September 2026 masih merekam dinamika kegempaan yang tinggi. Tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.
Kondisi tersebut membuat tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi menyatakan kemungkinan terjadinya letusan dalam beberapa periode ke depan masih tinggi.
"Potensi bahaya utama berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi," jelas Lana Saria.
Badan Geologi Kementerian ESDM mengimbau masyarakat, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekat atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat yang terdampak abu vulkanik juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan.
Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang serta tidak mempercayai isu hoaks terkait erupsi yang dikaitkan dengan potensi tsunami. Warga diminta beraktivitas normal sambil mengikuti arahan BPBD setempat.
Badan Geologi Kementerian ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemantauan dilakukan melalui Pos Pengamatan Pasauran di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, serta Pos Pengamatan Kalianda di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

2 hours ago
2

















































