REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Donald Trump tidak tercantum dalam surat suara pada pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) November mendatang. Namun, Presiden AS itu justru ingin pemilu tersebut terasa seolah-olah namanya berada di sana.
Keputusan itu mulai menimbulkan kegelisahan di kalangan Republik. Ketika tingkat penerimaan publik terhadap Trump berada di salah satu titik terendahnya dan tekanan ekonomi mulai terasa hingga kawasan pertanian yang selama ini menjadi benteng politiknya, menjadikan pemilu paruh waktu sebagai referendum terhadap Trump bisa berubah menjadi taruhan berisiko.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru yang dirilis 24 Agustus menunjukkan hanya 33 persen warga AS menyetujui kinerja Trump. Angka itu bertahan untuk survei kedua berturut-turut dan menyamai tingkat terendah yang pernah dicatat Reuters/Ipsos sepanjang dua periode kepresidenannya.
Pada saat bersamaan, dukungan publik terhadap perang AS melawan Iran turun menjadi 31 persen. Sebanyak 83 persen responden memperkirakan konflik itu masih akan berlangsung lama. Bahkan di antara pemilih Republik, dukungan terhadap perang turun dari 77 persen pada Maret menjadi 69 persen.
Perubahan-perubahan itu kini mulai terbaca dalam peta pemilu. Kursi Senat di negara bagian yang sebelumnya dianggap relatif aman bagi Republik, seperti Iowa, Alaska, Ohio, hingga Texas, berubah menjadi arena persaingan. Cook Political Report pada Agustus memasukkan Alaska, Iowa, Maine, Michigan, Ohio, dan Texas ke kategori toss-up atau pertarungan yang peluang kemenangannya relatif berimbang.
Situasi tersebut menjadi latar bagi peringatan Joe Walsh, mantan anggota DPR AS dari Illinois yang pernah mendukung Trump dan kini menjadi salah satu pengkritiknya. Walsh mengatakan Partai Republik telah begitu jauh mengikatkan dirinya dengan Trump sehingga kini harus menerima seluruh konsekuensinya.
“Ketika Anda naik ke tempat tidur bersama Donald Trump, Anda akan mendapatkan seluruh Donald Trump. Semuanya,” ujar rekan pembawa acara Walsh, Cliff Schecter, dalam podcast Jumat (28/8/2026).
Walsh melihat persoalan yang lebih besar. Trump, menurut dia, justru ingin pemilu paruh waktu menjadi referendum terhadap dirinya sendiri. “Trump ingin menjadikan pemilu paruh waktu sebagai referendum tentang dirinya. Jadi, Anda akan mendapatkan seluruh Trump,” kata Walsh.
Trump Ingin Dirinya Ada di Surat Suara
Kekhawatiran Walsh bukan sekadar retorika seorang mantan pendukung. Trump memang sedang mengambil strategi tersebut. The Atlantic melaporkan, Trump telah meminta tim politiknya menggunakan sebagian dana raksasa super PAC MAGA Inc untuk menjalankan iklan nasional yang menonjolkan rekam jejak kepresidenannya. MAGA Inc memiliki dana politik sekitar 400 juta dolar AS menjelang pemilu.
Sebagian konsultan Republik sebenarnya menginginkan kampanye lebih difokuskan kepada kandidat dan isu lokal. Logikanya sederhana: Trump tidak sedang mencalonkan diri.
Namun Trump memilih arah berbeda. Ia menilai Demokrat bagaimanapun akan menjadikan pemilu sebagai referendum terhadap kepresidenannya. Karena itu, strategi yang dipilih justru menghadirkan Trump lebih banyak lagi kepada pemilih.
Trump bahkan meminta para pendukungnya memperlakukan pemilu November seolah-olah namanya kembali berada dalam surat suara. Strategi itu dimaksudkan untuk menggerakkan basis MAGA yang dikenal sangat loyal.
Masalahnya, sentimen terhadap Trump justru dapat bekerja dua arah. Survei Pew Research Center pada Juli menemukan 42 persen pemilih terdaftar melihat pilihan mereka dalam pemilu Kongres mendatang sebagai suara menentang Trump. Hanya 22 persen yang menganggap suara mereka sebagai dukungan kepada Trump. Sebanyak 35 persen mengatakan Trump bukan faktor besar dalam pilihan mereka.
Artinya, kehadiran Trump dapat menggerakkan basis Republik. Tetapi pada saat bersamaan, ia juga berpotensi memobilisasi pemilih yang ingin menghukum pemerintahannya.

4 hours ago
10
















































