REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ajaib Group akan memfokuskan investasi strategis senilai Rp4,8 triliun dari SBI Holdings untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan mengembangkan produk di Indonesia. Investasi tersebut menjadi bagian dari upaya Ajaib memperkuat bisnis sekaligus menghadirkan lebih banyak pilihan investasi bagi masyarakat.
Co-Founder dan CEO Ajaib Group Anderson Sumarli mengatakan, dana investasi akan digunakan antara lain untuk merekrut dan mengembangkan SDM, terutama di bidang teknologi, produk, bisnis, dan operasional.
“Untuk investasi Rp4,8 triliun ini tentunya kami ingin untuk merekrut dan membesarkan SDM kami. Terutama di bidang teknologi, jadi dari engineering, produk, business, operations, kami ingin memperkuat SDM kami,” kata Anderson.
Selain pengembangan SDM, dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan produk investasi. Ajaib ingin menghadirkan produk yang dapat membantu masyarakat Indonesia berinvestasi di pasar domestik maupun luar negeri, termasuk aset digital.
Menurut Anderson, kebutuhan terhadap akses investasi lintas negara semakin relevan seiring perubahan cara pandang anak muda Indonesia yang semakin global. Ia menilai masyarakat membutuhkan akses yang lebih mudah terhadap berbagai instrumen investasi di luar negeri.
“Kami sangat berharap dapat mengembangkan juga pasar modal Indonesia, baikpun juga dengan pilihan opsi-opsi akses terhadap pasar modal ataupun instrumen keuangan di negara-negara lain,” ujarnya.
Andi Gani Nena Wea, Komisaris Utama Ajaib Group, mengatakan sekitar 90 persen dana investasi tersebut akan digunakan di Indonesia. Penggunaannya antara lain diarahkan untuk pengembangan edukasi finansial, produk, serta talenta di dalam negeri.
“Eksplorasi penggunaan dana yang masuk ini 90 persen akan ada di Indonesia. Untuk bagaimana memajukan edukasi finansial, mengembangkan produk dan itu juga mengembangkan talenta-talenta yang ada,” kata Andi Gani.
Ia mengatakan, sebagian besar tenaga kerja di Ajaib Group merupakan putra-putri Indonesia. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi talenta dalam negeri, khususnya di sektor finansial.
Masuknya investasi tersebut juga terjadi di tengah pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia. Hingga 7 Agustus 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 30,30 juta atau tumbuh sekitar 49 persen dibandingkan posisi akhir 2025. Jumlah investor saham juga telah melampaui 10 juta orang.
Sekitar 99,8 persen investor saham merupakan investor ritel, sementara 99,84 persen berasal dari dalam negeri. Lebih dari separuh investor saham individu juga berusia di bawah 30 tahun.
Andi Gani menilai pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap edukasi dan teknologi finansial. Menurutnya, investor Ajaib kini tidak hanya berasal dari kota-kota besar, tetapi juga dari kota lapis kedua dan ketiga.
“Artinya, kemajuan edukasi dan teknologi finansial sudah masuk ke tingkat kota-kota dan tersebar di seluruh Indonesia. Ini merupakan satu langkah maju,” ujarnya.
Anderson mengatakan, saat ini lebih dari enam juta pengguna berinvestasi melalui Ajaib dengan mayoritas merupakan investor ritel. Sebagian investor baru tersebut merupakan investor pemula yang mulai berinvestasi dengan nominal kecil melalui telepon genggam.
Di sisi lain, Ajaib menyatakan tetap mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia untuk masuk ke pasar modal. Dalam 12 bulan terakhir, Ajaib disebut telah membantu hampir 20 perusahaan melakukan IPO melalui mekanisme e-IPO.
Andi Gani berharap investasi strategis dari SBI Holdings dapat menjadi momentum bagi masuknya lebih banyak investasi global ke Indonesia.
“Kami berharap investasi ini menjadi awal dari semakin banyaknya investasi global yang masuk ke Indonesia. Keberhasilan Ajaib adalah bagian dari keberhasilan investasi Indonesia,” katanya.

14 hours ago
11

















































