Arya Gina Tarigan
Iptek | 2026-08-24 09:06:08
Coba bayangkan situasi sederhana ini.
Seseorang ingin mengetahui mengapa harga cabai naik. Dulu, mungkin ia akan membuka mesin pencari, membaca beberapa berita, membuka artikel lain, lalu mencoba memahami penyebabnya. Sekarang, cukup dengan mengetik pertanyaan kepada AI, dalam beberapa detik muncul jawaban yang sudah tersusun rapi. Inilah yang sering disebut instant answer—jawaban yang bisa diperoleh hampir seketika. Lalu muncul pertanyaan: kalau semua jawaban bisa diperoleh dengan cepat melalui AI, apakah manusia masih mau membaca?
Kekhawatiran ini cukup beralasan. Kehadiran ChatGPT, Gemini, Claude, dan berbagai teknologi AI generatif lainnya memang mengubah reading habit, atau kebiasaan membaca. Kita tidak lagi selalu memulai pencarian dari buku, artikel, atau mesin pencari. Kita bisa langsung bertanya kepada mesin yang mampu menjelaskan informasi sesuai kebutuhan.
Namun, mungkin kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa AI akan membuat masyarakat malas membaca.
Bisa jadi yang sedang terjadi justru sebaliknya.
AI tidak sedang membunuh budaya membaca. AI sedang mengubah cara kita membaca.
Dari mencari jawaban menjadi mencari tahu
Ada perbedaan antara mendapatkan informasi dan memiliki keinginan untuk mengetahui sesuatu. Ketika seseorang bertanya kepada AI tentang perubahan iklim, misalnya, jawaban pertama mungkin hanya menjadi awal. Dari sana muncul pertanyaan lain: Apa penyebabnya? Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia? Mengapa petani menjadi salah satu kelompok yang terdampak?
Satu pertanyaan dapat melahirkan pertanyaan berikutnya. Di sinilah AI memiliki potensi sebagai trigger of curiosity, pemicu rasa ingin tahu. Penelitian mengenai penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran menunjukkan bahwa teknologi ini dapat membantu mahasiswa memahami konsep yang sulit, menyederhanakan istilah, membuat ringkasan, sekaligus memunculkan ide untuk mengeksplorasi suatu topik lebih jauh.
Bayangkan seorang mahasiswa membuka jurnal berbahasa Inggris dan menemukan istilah yang tidak dipahaminya. Tanpa bantuan, mungkin jurnal itu segera ditutup. Dengan AI, ia dapat meminta penjelasan menggunakan bahasa sederhana. Setelah mengerti, ia kembali ke jurnal. Di titik inilah AI bukan pengganti bacaan. AI menjadi jembatan menuju bacaan.
Membaca tidak lagi harus sendirian
Selama ini kita mengenal membaca sebagai aktivitas individual. Kita membuka buku, membaca halaman demi halaman, kemudian mencoba memahami isinya sendiri. AI membuat pengalaman tersebut sedikit berbeda. Kini pembaca dapat “berdialog” dengan apa yang sedang dibacanya. Kita dapat meminta AI menjelaskan sebuah paragraf, memberikan contoh, membandingkan dua konsep, membuat pertanyaan dari sebuah artikel, atau menguji apakah kita benar-benar memahami bacaan tersebut. Inilah yang mulai dikenal sebagai human-AI collaboration—kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan.
Penelitian mengenai human-AI collaborative reading menunjukkan bahwa AI generatif dapat berperan sebagai mitra dalam aktivitas membaca akademik. AI dapat memberikan umpan balik dan membantu pembaca melakukan refleksi terhadap teks. Masalah dalam membaca sering kali bukan kurangnya bahan bacaan, tetapi tidak semua orang tahu bagaimana menghadapi bacaan yang sulit. AI dapat menjadi pintu masuk.
Seseorang yang merasa buku ekonomi terlalu rumit dapat meminta penjelasan sederhana. Setelah memahami konsep dasarnya, ia mungkin justru tertarik membaca buku yang lebih lengkap. AI membuat proses membaca menjadi lebih interactive dan personalized.
Generasi digital membutuhkan cara membaca yang baru
Kita sering mengatakan bahwa masyarakat harus meningkatkan minat baca. Namun, kita terkadang lupa bahwa membaca membutuhkan pengalaman yang menyenangkan. Tidak semua orang langsung menikmati jurnal ilmiah, buku filsafat, laporan ekonomi, atau artikel dengan bahasa akademik yang berat. Sebagian orang membutuhkan “pintu masuk”. AI dapat menjadi salah satu pintu tersebut.
Hal ini penting bagi generasi digital native, yaitu generasi yang sejak kecil terbiasa dengan teknologi digital. Mereka hidup dalam kondisi information overload, ketika informasi tersedia begitu banyak sehingga sulit menentukan mana yang benar-benar penting. Penelitian terhadap mahasiswa Universitas Negeri Makassar juga memberikan gambaran menarik. Dari 306 mahasiswa yang diteliti, sebagian besar memiliki tingkat literasi digital, minat baca, penggunaan GenAI, dan motivasi belajar yang tinggi. Artinya, tingginya penggunaan AI tidak otomatis berarti rendahnya minat baca. Keduanya dapat berjalan bersama.
Jangan biarkan AI melakukan seluruh pekerjaan berpikir
Tentu saja, AI bukan tanpa risiko. Ada satu jebakan yang harus dihindari: too much convenience atau kenyamanan yang berlebihan. Jika setiap tugas cukup diserahkan kepada AI, seseorang mungkin kehilangan kesempatan untuk membaca, menganalisis, dan menemukan jawabannya sendiri.
Penelitian terhadap 405 siswa berusia 14–15 tahun di Inggris memberikan pelajaran penting. Penggunaan AI tanpa aktivitas belajar aktif tidak memberikan manfaat yang sama baiknya dengan penggunaan AI yang disertai kegiatan seperti mencatat dan mengolah informasi.
Pesannya sederhana: Jangan biarkan AI melakukan seluruh pekerjaan berpikir.
Kita boleh meminta AI menjelaskan. Kita boleh meminta contoh. Kita boleh meminta rekomendasi bacaan. Tetapi setelah itu, kita tetap harus membaca. Kita perlu membuka sumber aslinya, membandingkan informasi, melakukan fact-checking, dan mempertanyakan apakah jawaban tersebut masuk akal. Di sinilah critical thinking menjadi semakin penting.
Di era AI, kemampuan membaca bukan hanya memahami apa yang tertulis. Kita juga harus mampu bertanya: siapa yang mengatakan ini? Dari mana sumbernya? Apa buktinya? Apakah ada sudut pandang lain?
Dari deep reading menuju smarter reading
Ada kekhawatiran bahwa AI akan menghilangkan kebiasaan deep reading, yaitu membaca secara mendalam dan penuh perhatian. Kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya salah. Kecepatan teknologi memang dapat membuat kita terbiasa dengan informasi pendek dan cepat. Kita hidup dalam budaya scroll, click, and move on. Namun, solusinya bukan menolak teknologi. Yang dibutuhkan adalah smarter reading—membaca dengan lebih cerdas.
AI dapat membantu kita menemukan buku yang tepat, memahami bagian yang sulit, menerjemahkan istilah, membuat pertanyaan, dan menghubungkan satu topik dengan topik lainnya. Setelah itu, manusia tetap mengambil peran utama: membaca, memahami, menilai, dan menyimpulkan.
AI sebagai pintu baru menuju pengetahuan
Perpustakaan tidak akan hilang hanya karena ada AI. Buku tidak menjadi tidak berguna hanya karena ChatGPT dapat membuat ringkasan. Jurnal ilmiah tetap penting meskipun AI mampu menjelaskan hasil penelitian. Sebab, AI dapat membantu kita menemukan pengetahuan, tetapi pengalaman memahami pengetahuan tetap membutuhkan manusia.
Mungkin di masa depan kita tidak selalu membaca dengan cara yang sama seperti sekarang. Kita mungkin membaca sambil berdiskusi dengan AI. Kita mungkin meminta AI menjelaskan sebuah buku sebelum membacanya. Kita mungkin menggunakan AI untuk menemukan referensi yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui. Namun, perubahan itu tidak harus berarti kemunduran. Sebaliknya, AI dapat membuat aktivitas membaca menjadi lebih terbuka dan personal.
Orang yang sebelumnya takut membaca buku ekonomi dapat meminta penjelasan sederhana. Orang yang kesulitan memahami jurnal asing dapat memperoleh bantuan bahasa. Orang yang bingung menentukan bacaan dapat meminta rekomendasi. Satu hal yang tetap tidak boleh hilang adalah curiosity—rasa ingin tahu. Karena pada akhirnya, minat baca bukan sekadar tentang berapa banyak halaman yang kita selesaikan. Minat baca adalah tentang keinginan untuk mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui.
Dan jika AI mampu membuat lebih banyak orang berkata, “Saya ingin tahu lebih jauh,” maka mungkin kecerdasan buatan bukanlah musuh budaya membaca. AI justru bisa menjadi pintu baru menuju dunia pengetahuan. Yang perlu kita lakukan bukan menjauhkan manusia dari AI, melainkan mengajarkan manusia bagaimana menggunakan AI untuk kembali kepada satu aktivitas yang tidak pernah kehilangan nilainya: membaca, memahami, dan berpikir.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

12 hours ago
8















































