REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) telah memulai rangkaian testing and commissioning (T&C) sistem perkeretaapian LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai beberapa waktu lalu. Salah satunya melalui tes jalur lintasan sepanjang 3,6 kilometer (km) yang menghubungkan Stasiun Velodrome dengan Stasiun Pramuka.
Direktur Utama Jakarta Propertindo (Jakpro) Iwan Takwin mengatakan, tahapan T&C dilakukan secara detail agar seluruh sistem siap digunakan. Proses tersebut mencakup pengujian sistematis dan terstruktur terhadap seluruh komponen dan subsistem sebelum operasional komersial dijalankan, mulai dari jalur, persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional.
"Setiap meter pada jalur layang LRT Jakarta Fase 1B adalah tanggung jawab kami kepada masyarakat DKI Jakarta yang akan mengandalkan LRT setiap harinya. Karena itu, tahapan T&C ini harus dipersiapkan sangat matang," ujar Iwan melalui keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).
Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko mengatakan, keterlibatan Waskita Karya pada pembangunan LRT Jakarta Fase 1B bukan hanya terkait pekerjaan konstruksi, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan hasil atau showcase capability. Proyek dengan visibilitas tinggi (high visibility) ini menjadikan kualitas kerja berdampak langsung terhadap reputasi jangka panjang.
Lingkup kerja Waskita pada LRT Jakarta Fase 1B mencakup integrasi sipil, rel, sistem, dan operasi. Perseroan terus mempercepat pengerjaan agar proyek tersebut segera dimanfaatkan publik. Realisasi pembangunan proyek senilai Rp 4,1 triliun itu kini telah menembus 92,76 persen.
"Dalam proses pengerjaan, tantangan utama (urban constraint) yang kami hadapi sebagai kontraktor di antaranya lalu lintas Jakarta yang padat dan ruang kerja terbatas. Maka solusinya, kami mengoptimalkan waktu kerja pada malam hari yang menuntut fokus dan inovasi pada sistem safety dan sistem kerja. Kami melihat ini sebagai constraint yang harus dikelola, bukan dihindari," jelas Paulus dalam keterangan resmi, Selasa (19/5/2026).
Dalam pelaksanaan tes jalur lintasan, lanjut dia, salah satu area yang dilintasi yakni perlintasan di atas Jalur Aktif Tol Wiyoto Wiyono pada kilometer 1+700 sampai 2+100. Demi menjaga kondisi lalu lintas di jalan tol tersebut agar tidak terganggu selama masa konstruksi, Waskita berinovasi menggunakan metode balanced cantilever dengan bentang sepanjang 120 meter (m).
"Keselamatan konstruksi, baik dalam pengamanan konstruksi balanced cantilever maupun pengguna jalan harus diutamakan," tutur Paulus. Ia menambahkan, monitoring survey dan chamber juga dilaksanakan secara berkala setiap hari.
Tim di lapangan pun memasang safety net pada sekeliling segmen girder balance. Berkat sejumlah langkah tersebut, Waskita berhasil mencapai zero accident atau tidak ada kecelakaan sama sekali dalam proses konstruksi balanced cantilever LRT Jakarta Fase 1B.
"Perlintasan Wiyoto Wiyono menjadi salah satu ikon terpenting dalam tes jalur beberapa waktu lalu. Maka keberhasilan ini menandakan kemajuan konstruksi Indonesia yang dapat memadukan moda transportasi umum berdampingan dengan jalur aktif existing di tengah kepadatan aktivitas Jakarta," katanya.
Paulus mengatakan, koordinasi dengan Jakpro sebagai pemilik proyek terus diperkuat sehingga rangkaian T&C dapat berjalan lancar. Tahapan ini penting karena bertujuan memastikan sejauh mana kesiapan sistem LRT Jakarta untuk membawa puluhan ribu penumpang setiap hari.
"Kerja sama yang baik dengan Jakpro sebagai owner membuat hasil tes jalur atau train run yang sudah dilakukan dua kali berlangsung tanpa hambatan. Seperti prinsip Jakpro yang selalu mengutamakan keberlanjutan dalam setiap proyeknya, train run ini juga akan menjadi evaluasi internal guna mempersiapkan langkah pengujian selanjutnya," tutur Paulus.
Ia mengungkapkan, hasil train run menunjukkan kereta mampu berjalan lancar dari Velodrome sampai Pasar Pramuka dengan menggunakan daya listrik penuh. Waskita Karya terus berkomitmen memberikan hasil terbaik agar sarana transportasi ini tidak hanya aman, tetapi juga nyaman digunakan.
LRT Jakarta Fase 1B, kata dia, sudah sangat dinantikan. Selain karena dapat mengurangi kepadatan lalu lintas, keberadaan proyek tersebut turut memperkuat konektivitas antarwilayah dan integrasi transportasi publik di kota metropolitan.
"Kami optimistis kehadiran LRT Jakarta Fase 1B akan menambah pilihan transportasi publik yang modern, memudahkan mobilitas warga, serta mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum," jelas Paulus.
Menurut dia, moda transportasi publik berbasis listrik ini merupakan solusi terbaik dalam menciptakan udara kota yang lebih bersih dan sehat. Pada akhirnya, hal tersebut akan mendukung target nol emisi atau Net Zero Emission (NZE).

17 hours ago
14













































