Warga Palestina Mantan Tahanan Israel Berjuang Pulih di Tengah Hancurnya Fasilitas Medis Gaza

17 hours ago 11

Mantan tahanan Palestina yang telah dibebaskan, Abdullah Ismail Abu Harbid (36 tahun), berjalan dengan bantuan tongkat penyangga di sebuah kamp pengungsian di Kota Gaza, Rabu (24/6/2026). Abu Harbid, yang berasal dari Beit Hanoun di Gaza utara, ditahan oleh pasukan Israel pada November 2023 hingga Oktober 2025. Ia kembali dengan trauma fisik dan hilangnya kemampuan bergerak yang awalnya membuatnya tidak bisa berjalan. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Kebebasan yang akhirnya diraih Abdullah Ismail Abu Harbid (36) setelah keluar dari tahanan Israel tidak serta-merta mengakhiri penderitaannya. Mantan tahanan Palestina itu kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan satu kaki dan menjalani proses rehabilitasi di tengah lumpuhnya sebagian besar layanan kesehatan di Jalur Gaza. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Abu Harbid pulang ke keluarganya dengan kondisi fisik yang berubah drastis. Salah satu kakinya telah diamputasi. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-harinya bergantung pada bantuan keluarga, sekaligus membutuhkan perawatan medis dan rehabilitasi jangka panjang. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Harapan Abu Harbid untuk mendapatkan pengobatan yang layak terbentur kondisi fasilitas kesehatan Gaza yang mengalami kerusakan parah. Banyak rumah sakit dan pusat rehabilitasi tidak dapat beroperasi secara optimal akibat kerusakan bangunan, kekurangan tenaga medis, obat-obatan, hingga peralatan kesehatan. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Abdullah Ismail Abu Harbid menunjukkan tanda tahanan Israel di sebuah kamp pengungsian di Kota Gaza, Rabu (24/6/2026). Bagi Abdullah, tantangan terbesar bukan hanya belajar beradaptasi dengan kehilangan anggota tubuh, tetapi juga mendapatkan akses terhadap layanan rehabilitasi yang diperlukan untuk membangun kembali kemandiriannya. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Setiap hari, Abu Harbid berupaya melatih kemampuan bergerak dengan kondisi yang ada. Di tengah keterbatasan fasilitas dan peralatan medis, proses pemulihan berjalan jauh lebih lambat dibandingkan yang dibutuhkan oleh penyandang amputasi. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

Mantan tahanan Palestina yang telah dibebaskan, Abdullah Ismail Abu Harbid, berjalan bersama dua orang anak perempuannya di sebuah kamp pengungsian di Kota Gaza, Rabu (24/6/2026). Abdullah tidak kehilangan harapan. Dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan. Ia berharap suatu saat dapat memperoleh alat bantu yang memadai dan menjalani rehabilitasi yang lebih baik agar dapat kembali menjalani kehidupan secara mandiri. (FOTO : EPA/MOHAMMED SABER)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Kebebasan yang akhirnya diraih Abdullah Ismail Abu Harbid (36) setelah keluar dari tahanan Israel tidak serta-merta mengakhiri penderitaannya. Mantan tahanan Palestina itu kini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan satu kaki dan menjalani proses rehabilitasi di tengah lumpuhnya sebagian besar layanan kesehatan di Jalur Gaza.

Abu Harbid, yang berasal dari Beit Hanoun di Gaza utara, ditahan oleh pasukan Israel pada November 2023 hingga Oktober 2025. Ia kembali dengan trauma fisik dan hilangnya kemampuan bergerak yang awalnya membuatnya tidak bisa berjalan.

Abdullah pulang ke keluarganya dengan kondisi fisik yang berubah drastis. Salah satu kakinya telah diamputasi. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-harinya bergantung pada bantuan keluarga, sekaligus membutuhkan perawatan medis dan rehabilitasi jangka panjang.

Harapan untuk mendapatkan pengobatan yang layak terbentur kondisi fasilitas kesehatan Gaza yang mengalami kerusakan parah. Banyak rumah sakit dan pusat rehabilitasi tidak dapat beroperasi secara optimal akibat kerusakan bangunan, kekurangan tenaga medis, obat-obatan, hingga peralatan kesehatan.

Bagi Abdullah, tantangan terbesar bukan hanya belajar beradaptasi dengan kehilangan anggota tubuh, tetapi juga mendapatkan akses terhadap layanan rehabilitasi yang diperlukan untuk membangun kembali kemandiriannya.

Setiap hari, ia berupaya melatih kemampuan bergerak dengan kondisi yang ada. Di tengah keterbatasan fasilitas dan peralatan medis, proses pemulihan berjalan jauh lebih lambat dibandingkan yang dibutuhkan oleh penyandang amputasi.

Meski demikian, Abdullah tidak kehilangan harapan. Dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan. Ia berharap suatu saat dapat memperoleh alat bantu yang memadai dan menjalani rehabilitasi yang lebih baik agar dapat kembali menjalani kehidupan secara mandiri.

sumber : EPA

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |