Muharram dan Arah Perubahan Kehidupan

5 hours ago 10

Image Fahhala

Agama | 2026-06-26 16:20:26

Ilustrasi

Setiap tahun, berbagai persoalan sosial terus hadir dan membentuk pola yang berulang. Kemiskinan masih menekan sebagian masyarakat. Praktik judi daring berkembang dan menjangkau berbagai lapisan. Kasus eksploitasi anak serta kekerasan seksual menimbulkan kegelisahan yang mendalam. Perundungan muncul di ruang pendidikan yang seharusnya membina akhlak.

Di tingkat global, krisis kemanusiaan di Palestina masih berlangsung. Warga sipil menghadapi ancaman kelaparan dan kehilangan rasa aman. Sementara itu, respons dunia Islam belum sepenuhnya menghadirkan perlindungan yang kuat. Dalam suasana tersebut, 1 Muharram 1448 H hadir sebagai penanda waktu baru, tetapi kondisi umat masih jauh dari gambaran ideal sebagai umat yang memimpin dengan nilai kebaikan.

Muharram sejatinya menghadirkan ruang untuk bercermin. Ia mengajak umat menilai bukan hanya apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terus berulang. Dalam artikel Kementerian Agama RI berjudul “Muharam 1448 H: Meneguhkan Semangat Hijrah untuk Bangun Peradaban” yang dipublikasikan pada tahun 2026, ditegaskan bahwa hijrah tidak cukup dimaknai sebagai perpindahan simbolik, tetapi sebagai perubahan menyeluruh dalam membangun peradaban yang berkeadilan. Persoalan umat tidak dapat diselesaikan secara parsial. Umat membutuhkan perubahan yang menyentuh akar cara berpikir dan arah kebijakan. (Kemenag.go.id, 15/06/2026)

Jika ditelusuri lebih dalam, berbagai problem sosial mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam menentukan ukuran benar dan salah. Ketika orientasi hidup bergeser pada kepentingan yang bersifat jangka pendek, nilai moral sering kali terpinggirkan.

Akibatnya, kebijakan yang lahir tidak selalu berpihak pada pembinaan manusia secara utuh. Kemudian, ruang keluarga menghadapi tekanan yang semakin berat. Selanjutnya, lingkungan pendidikan mengalami tantangan dalam membentuk karakter. Dalam kondisi seperti ini, berbagai penyimpangan tumbuh dan menyebar, seolah menjadi bagian dari realitas yang sulit dihindari.

Di sisi lain, lemahnya peran umat di tingkat global juga memperlihatkan persoalan yang lebih luas. Perbedaan kepentingan antarnegara membuat langkah bersama sulit terwujud. Koordinasi menjadi terbatas. Akibatnya, respons terhadap krisis kemanusiaan tidak berjalan secara terpadu.

Kondisi ini menunjukkan bahwa umat belum memiliki kekuatan kolektif yang mampu melindungi kepentingan bersama secara optimal. Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan mendasar untuk menghadirkan perlindungan nyata.

*Pandangan Islam*

Muharram membawa pesan perubahan yang mendalam. Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini menekankan pentingnya kesadaran sebagai awal perubahan. Ia mengajak umat memperbaiki cara pandang, sikap, dan sistem kehidupan.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Barang siapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, dengan lisannya; jika tidak mampu, dengan hatinya” (HR Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa perubahan memerlukan peran aktif, meskipun dilakukan secara bertahap dan sesuai kemampuan.

Sejarah Islam memberikan gambaran nyata tentang proses perubahan tersebut. Rasulullah saw. membangun masyarakat melalui tahapan yang jelas. Beliau membina keimanan, menguatkan persaudaraan, kemudian menata kehidupan dengan aturan yang adil. Para pemimpin setelah beliau melanjutkan langkah ini dengan penuh tanggung jawab.

Umar bin Khattab ra. menegakkan keadilan melalui kebijakan yang melindungi rakyat. Umar bin Abdul Aziz menghadirkan kesejahteraan melalui kepemimpinan yang amanah. Contoh ini menunjukkan bahwa perubahan memerlukan arah yang jelas dan komitmen yang kuat.

*Penutup*

Oleh karena itu, hijrah pada masa kini perlu dipahami sebagai upaya menuju kehidupan yang lebih selaras dengan nilai Ilahi. Proses ini menuntut keterlibatan umat secara menyeluruh. Umat perlu memperkuat pemahaman agama, membangun akhlak, dan mendukung lahirnya tata kehidupan yang berkeadilan.

Selain itu, umat memerlukan wadah pembinaan yang mampu mengarahkan perubahan secara terstruktur dan berkelanjutan. Dengan cara ini, perubahan tidak berhenti pada individu, tetapi meluas ke masyarakat dan sistem yang mengatur kehidupan.

Akhirnya, Muharram tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga pengingat arah. Umat perlu menggunakan momentum ini untuk melakukan evaluasi paradigma secara jujur. Refleksi ini bukan bentuk penolakan terhadap realitas, melainkan wujud kepedulian untuk memperbaiki masa depan. Dengan kesadaran yang kolektif dan langkah yang terarah, umat dapat bergerak menuju kehidupan yang lebih adil, bermartabat, dan diridhai oleh Allah Swt.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |