Program Sampah Jadi Listrik Perlu Didukung Partisipasi Masyarakat

8 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Teknologi Waste-to-Energy (WtE) dinilai berpeluang menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah nasional apabila diterapkan melalui pendekatan yang komprehensif, transparan, dan melibatkan masyarakat secara bermakna. Selain teknologi, penguatan tata kelola dan pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan implementasinya.

Sustainability Provocateur sekaligus Founder Social Investment Indonesia Jalal mengatakan, WtE dapat melengkapi berbagai upaya pengelolaan sampah yang telah berjalan, mulai dari pengurangan timbulan sampah, daur ulang, pengomposan, hingga pemanfaatan residu.

Waste-to-Energy dapat menjadi bagian yang sah dari solusi pengelolaan sampah Indonesia, tetapi tidak boleh diposisikan sebagai solusi tunggal. Keberhasilannya sangat bergantung pada pemilahan sampah sejak dari sumbernya, keterlibatan masyarakat terdampak, integrasi pemulung, serta transparansi pengelolaan lingkungan yang dapat diverifikasi publik,” kata Jalal saat diwawancarai melalui telepon, Jumat (26/6/2026).

Menurut Jalal, tantangan pengelolaan sampah di Indonesia tidak hanya terletak pada aspek teknologi, tetapi juga karakteristik sampah yang didominasi bahan organik dengan kadar air tinggi. Karena itu, pembangunan fasilitas WtE perlu berjalan seiring dengan penguatan budaya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, kawasan komersial, dan industri.

Jalal menilai pelibatan masyarakat terdampak harus menjadi bagian penting dalam setiap proyek WtE. Selain memperoleh informasi secara terbuka, masyarakat juga perlu merasakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dari keberadaan fasilitas tersebut.

“Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka, serta memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun. Tanpa itu, WtE berpotensi kehilangan legitimasi sosial yang justru menjadi fondasi keberlanjutannya,” katanya.

Ia menambahkan, berbagai negara telah menunjukkan WtE dapat beroperasi secara aman apabila didukung regulasi yang kuat, pengawasan yang transparan, dan sistem pengelolaan sampah yang berjalan efektif.

Dengan pendekatan serupa, WtE dinilai dapat membantu mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA), menekan emisi metana, sekaligus mendukung target pengelolaan sampah nasional.

“WtE juga mampu menekan risiko emisi metana, dan mendukung target pengelolaan sampah nasional yang lebih adil dan berkelanjutan, namun hanya apabila berbagai safeguards lingkungan dan sosial yang kokoh bisa benar-benar ditegakkan,” ujar Jalal.

Pada kesempatan terpisah, Chief Executive Officer Denera sekaligus Director Investment Danantara Investment Management (DIM) Fadli Rahman mengatakan, keberhasilan WtE juga membutuhkan tata kelola yang kuat serta kolaborasi berbagai pihak.

"Pertama, kami menjaga tata kelola dengan sangat ketat. Kedua, kami belajar dari negara-negara lain dan menarik investor global untuk berinvestasi di Indonesia. Ketiga, kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal," ujar Fadli.

Fadli mengajak masyarakat mendukung berbagai upaya pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Menurutnya, persoalan sampah telah berkembang menjadi tantangan jangka panjang yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

"Kami dengan kerendahan hati mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung setiap upaya penanganan sampah, baik di skala kecil maupun skala besar, dari hulu hingga hilir, mulai dari pemilahan sampah hingga penerapan berbagai teknologi, baik teknologi yang sudah lama digunakan maupun teknologi yang lebih baru. Karena isu sampah bukan lagi sekadar persoalan hari ini. Persoalan ini sudah menjadi isu generasional dan telah berkembang menjadi isu sosial yang akan menentukan kualitas hidup kita di masa depan," kata Fadli.

Sebagai informasi, Danantara Indonesia telah membentuk PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) pada 1 April 2026 untuk mengonsolidasikan investasi, pengembangan, dan operasional proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Indonesia melalui skema Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) bersama mitra konsorsium.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |