Nurul Hidayah
Eduaksi | 2026-07-02 20:01:30
Berdasarkan data lapangan yang diperoleh melalui metode observasi sederhana oleh mahasiswa PGSD Universitas Pelita Bangsa Cikarang di SDIT Darunnajah Alkasani Kabupaten Bekasi, program kokurikuler di sekolah disusun secara terstruktur dan terintegrasi dengan visi misi sekolah yang bernafaskan Islam sekolah ini menempatkan kebiasaan keagamaan sebagai pilar utama harian sebelum aktivitas intrakurikuler dimulai.
Bentuk implementasi kegiatannya berjalan secara masif dan rutin setiap pagi seluruh siswa dari kelas rendah hingga kelas tinggi didampingi secara langsung oleh dewan guru untuk melaksanakan salat Dhuha secara bersama-sama, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dzikir dan doa bersama.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas formalitas pengisi waktu kosong melainkan sebuah bentuk perpanjangan kurikulum yang bertujuan menguatkan aspek spiritualitas anak sejak usia dini. Melalui observasi langsung terlihat jelas Bagaimana kegiatan ini mampu mengubah atmosfer sekolah menjadi lingkungan yang sangat kondusif bagi pertumbuhan karakter positif anak.
Keterkaitan dengan perencanaan pembelajaran SD
Jika ditinjau dari perspektif perencanaan pembelajaran di sekolah dasar, kegiatan salat Dhuha bersama memiliki keterkaitan yang sangat erat dan komprehensif dengan unsur-unsur perencanaan kurikulum formal, yang meliputi tujuan, materi, strategi, penguatan karakter, asesment, hingga tindak lanjut pembelajaran.
- Tujuan Pembelajaran: kegiatan kokurikuler ini merujuk langsung pada pencapaian kompetensi inti spiritual dan sikap sosial. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang tertuang dalam Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 menegaskan bahwa peserta didik harus memiliki karakter yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Tujuan eksplisit dari perencanaan salat Dhuha ini untuk menanamkan kesadaran ketuhanan, melatih kedisiplinan, serta membiasakan siswa melakukan ibadah sunnah secara mandiri di kehidupan sehari-hari.
- Materi Pembelajaran: salat Dhuha bersama ini merupakan perluasan konkrit dari materi mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) dan fiqih yang diajarkan di dalam kelas teori mengenai tata cara berwudhu yang sah, rukun-rukun salat, bacaan doa, hingga keutamaan Ibadah sunnah yang biasanya hanya dibaca siswa dari buku teks, kini mendapatkan ruang aplikasi nyata di lapangan materi pelajaran tidak lagi bersifat abstrak di benak siswa melainkan menjadi pengetahuan yang fungsional.
- Strategi Pembelajaran: pihak sekolah menerapkan strategi pembiasaan terstruktur (habituation) dan keteladanan (modeling) menurut Abdul Majid 2014 dalam bukunya perencanaan pembelajaran, strategi pembelajaran yang efektif untuk anak usia sekolah dasar harus melibatkan pengalaman langsung dan contohnya dari dari lingkungan sekitar. Dalam konteks ini guru tidak bertindak sebagai instruktur pasif, melainkan ikut bersuci merapikan saf dan melaksanakan salat bersama siswa. Strategi keteladanan ini sangat ampuh karena anak-anak usia sekolah dasar cenderung meniru perilaku bermakna dari orang dewasa di sekitarnya.
- Penguatan karakter: Nilai religiusitas, kedisiplinan dan tanggung jawab terpupuk secara alami ketika siswa harus mengelola waktu kedatangan mereka di pagi hari agar tidak tertinggal ibadah berjamaah. Nilai kemandirian juga terlihat saat siswa secara sadar menyiapkan perlengkapan salat mereka masing-masing tanpa harus selalu diperintah.
- Assessment penilaian: Evaluasi terhadap kegiatan kokurikuler ini tidak menggunakan tes tertulis traditional, melainkan menggunakan jenis asesmen autentik non-tes berupa observasi perilaku guru kelas dilengkapi dengan instrumen lembar pengamatan atau buku jurnal harian (mutabaah yaumiyah) unsur-unsur yang dinilai mencakup ketepatan waktu hadir, ketertiban saat berwudhu, kehusyukan dalam salat, serta kepatuhan dalam membaca dzikir bersama.
Temuan di lapangan
Melalui pengamatan mendalam sebagai pendidik di lapangan, ditemukan beberapa kelebihan signifikan dari program ini. Suasana religiusitas sekolah meningkat pesat, keakraban antar siswa terjalin baik dan hubungan emosional antar guru dan murid menjadi lebih hangat karena dibangun di atas pondasi ibadah bersama. Siswa juga terlihat lebih tenang dan siap secara psikologis untuk menerima materi pembelajaran intrakurikuler setelah melaksanakan salat Dhuha.
Namun, pelaksanaan di lapangan tentu tidak luput dari kendala dan tantangan. Kendala utama yang paling sering dihadapi adalah keterbatasan fasilitas tempat wudhu yang kurang sebanding dengan jumlah siswa, sehingga seringkali memicu antrian panjang yang mengurangi efisiensi waktu. Selain itu menjaga konsisten salat, khusuan anak-anak usia sekolah dasar, terutama kelas rendah (kelas 1 sampai kelas 3) merupakan tantangan tersendiri, beberapa siswa masih sering terlihat bercanda atau mengobrol dengan temannya saat berada di dalam shaf salat.
Solusi Realistis
Menurut pendapat penulis, kegiatan kokurikuler seperti salat Dhuha harian merupakan sebuah langkah metodologis yang sangat esensial dalam sistem pendidikan dasar. Kegiatan ini membuktikan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dicapai melalui indoktrinasi teori di atas kertas, melainkan harus melalui tindakan nyata yang konsisten dan berulang. Karakter bukanlah sesuatu yang sekedar dihafal untuk ujian melainkan sesuatu yang dipraktikkan hingga menjadi sebuah kebutuhan psikologis bagi anak. Oleh karena itu ada anggapan bahwa kegiatan tambahan atau pemborosan waktu harian harus segera ditepis oleh semua praktisi pendidikan.
Untuk mengatasi kendala dan tantangan yang ditemukan di lapangan, saya merekomendasikan beberapa solusi praktis dan aplikatif yang dapat diterapkan di sekolah:
- Solusi manajemen fasilitas: terkait keterbatasan fasilitas wudhu, sekolah dapat menyusun jadwal kedatangan atau waktu berwudhu yang bergilir per kelas paralel atau menambahkan peran wujud portabel di sekitar area halaman untuk mengurai antrian.
- Solusi pendampingan khusyuk: untuk mengatasi masalah kekhusyukan siswa kelas rendah, guru dapat menerapkan strategi tutor sebaya (peer-modeling), dimana siswa kelas tinggi yang memiliki kedisiplinan baik Ditempatkan secara selang-seling diantara siswa kelas rendah untuk memberikan contoh berkomunikasi secara langsung.
- Solusi motivasi: pemberian apresiasi atau reward sederhana berupa predikat kelas paling tertib mingguan dapat menstimulus motivasi intrinsik anak-anak untuk menjaga perilaku mereka selama ibadah berlangsung.
Jadi, kegiatan kokurikuler salat duha bersama setiap hari bukan sekedar ornamen pelengkap dalam struktur kurikulum sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian integral dari sistem perencanaan pembelajaran yang dirancang secara matang untuk menyentuh aspek terdalam dari tujuan pendidikan nasional, yaitu melahirkan insan yang bertakwa dan berkarakter mulia. Dengan perencanaan yang komprehensif, strategi yang tepat, serta sinergi yang kuat antara guru dan orang tua, kegiatan kokurikuler ini terbukti mampu menjadi instrumen yang sangat efektif dalam membentuk kepribadian dan fondasi moral generasi penerus bangsa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
9











































