REPUBLIKA.CO.ID, Sastrawan besar Prancis dari abad ke-19, Arthur Rimbaud, pernah menginjakkan kakinya di Pulau Jawa. Batavia, Semarang, dan Salatiga menjadi saksi bisu perjalanan Rimbaud di negeri yang kala itu masih dikenal sebagai Hindia Belanda. Pameran bertajuk “Arthur Rimbaud: Perjalanan Melintasi Jawa” yang digelar di Lawang Sewu, Kota Semarang, 6-8 Agustus 2026, menghadirkan napak tilas Rimbaud saat berada di tanah Jawa.
Dalam pameran tersebut ditampilkan puisi-puisi karya Rimbaud dalam versi bahasa ibunya, yakni Prancis, dan yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ada pula foto-foto lawas dari tempat, terutama stasiun, yang pernah disinggahi penyair kelahiran Charleville tersebut. Guna memudahkan pengunjung memahami kronik perjalanan Rimbaud, disediakan infografis yang mengurutkan kronologi kedatangan Rimbaud ke Jawa hingga kepulangannya ke Prancis.
Salah satu tim penyusun kronologi perjalanan Rimbaud di Jawa adalah Nina Witasari, dosen sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes). Pameran Arthur Rimbaud: Perjalanan Melintasi Jawa memang diselenggarakan Alliance Francaise Semarang (AFS) dan Pemerintah Kota Semarang, bekerja sama dengan Unnes serta PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Nina mengungkapkan, kronik perjalanan Rimbaud di Jawa disusun selama sekitar satu bulan. Dia dan timnya melakukan studi arsip dari berbagai sumber, termasuk milik Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) atau Institut Kerajaan Belanda untuk Ilmu Linguistik, Geografi, dan Antropologi.
“Kata kuncinya adalah KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Karena Rimbaud datang ke Jawa sebagai tentara KNIL. Ketika kata ‘KNIL’ muncul, kami bisa menelusuri ke berbagai sumber,” ungkap Nina ketika diwawancara saat pembukaan pameran pada Kamis (6/8/2026) lalu.
Rimbaud memulai pengembaraannya pada 1874. Nina mengatakan, Rimbaud tiba di Batavia pada 22 Juli 1876, yakni ketika usianya 21 tahun. Kala itu, dia sudah memproduksi sejumlah karya puisi. Kedatangannya ke Hindia Belanda terjadi setelah Rimbaud memutuskan berhenti menulis pada 1875.

Kehidupan Rimbaud setelah meninggalkan dunia kepenulisan adalah sebuah perjalanan dan pengembaraan. Sebagian besar pengembaraannya berlangsung di Afrika. Di sana dia pernah bekerja sebagai pedagang berbagai produk di Abisinia (sekarang Ethiopia).
Menurut Nina, alasan Rimbaud bergabung dengan KNIL adalah agar bisa datang ke Hindia Belanda dengan biaya lebih murah. Dia mengungkapkan, setelah tiba di Batavia, Rimbaud sempat menjalani pelatihan selama delapan hari. Kemudian pada 30 Juli 1876, dia dan rombongannya bertolak ke Semarang.
“Dari Kota Semarang, dia tidak sendiri, tapi bersama empat orang Prancis lainnya. Jadi anggota KNIL itu kan berasal dari berbagai negara, tapi pekerjaan mereka sama sebagai tentara bayaran Belanda,” ucap Nina.
Dia menjelaskan, Rimbaud dan pasukan KNIL lainnya yang berjumlah 160 orang rencananya bakal diterjunkan dalam Perang Aceh. “Tapi ternyata di minggu kedua ketika dia sampai di Salatiga (Agustus 1876), Rimbaud melarikan diri atau bisa disebut desersi,” katanya.
Nina menambahkan, supaya pelariannya tidak mencolok, Rimbaud menjual barang-barangnya. “Uangnya itu kemudian didonasikan ke salah satu panti asuhan yang ada di Salatiga. Sebagai sejarawan kami menduga bahwa panti asuhan itu letaknya itu tidak terlalu jauh dari kantor wali kota yang sekarang. Setelah mendonasikan semuanya, dia meninggalkan Salatiga,” ucapnya.
Dia menjelaskan, selama pelariannya di Jawa, Rimbaud tidak meninggalkan jejak tertulis apapun. Karena itu, perjalanannya tidak bisa terlacak. Menurut Nina, sebagian sejarawan menduga Rimbaud kembali ke Batavia menggunakan kapal Prince van Oranje. Di kapal tersebut dia bekerja sebagai ABK. “Dari Batavia, Rimbaud kemudian pergi ke Afrika,” ujar Nina.
Nina mengaku tak dapat memastikan apakah Rimbaud pernah menulis karya puisi saat berada di Jawa. Namun dalam pameran Arthur Rimbaud: Perjalanan Melintasi Jawa, ditampilkan sejumlah puisi karya Rimbaud, salah satunya berjudul “Sensasi”.
Puisinya sebagai berikut:
Pada malam-malam biru musim panas, aku 'kan menyusuri jalan setapak,
Tertusuk-tusuk jelai gandum, memijat rumput-rumput halus:
Sebagai pemimpi, 'kan kurasakan kesegarannya di kakiku.
'Kan kubiarkan angin membasuh kepalaku yang telanjang.
Aku takkan berbicara; aku takkan memikirkan apa pun.
Namun cinta yang tak bertepi akan membumbung dalam jiwaku;
Dan aku 'kan pergi jauh, jauh sekali, bagai seorang pengembara,
Menjelajah Alam,-bahagia seolah bersama seorang wanita...
Saat ini karya Rimbaud masih dipelajari di sekolah menengah hingga universitas sebagai bagian penting dari kesusastraan Prancis.

12 hours ago
15















































