Pesisir Inhil Tergerus Abrasi, Rehabilitasi 500 Hektare Mangrove Disiapkan

8 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Abrasi di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, telah berdampak terhadap sekitar 1.700 hektare kebun masyarakat sejak 2021. Pemerintah bersama Polda Riau mendorong pemulihan kawasan pesisir melalui rehabilitasi mangrove yang ditargetkan mencapai 500 hektare dan berpotensi diperluas hingga 1.000 hektare.

Komitmen tersebut disampaikan saat Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau menyambangi Desa Kuala Selat, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wamen PPA/TPPO Veronica Tan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Bupati Indragiri Hilir Herman, serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, rombongan menyerahkan bantuan sembako, ketinting, serta matching grants kepada 13 kelompok masyarakat dampingan PPIU M4CR Riau. Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen menjaga pesisir Riau dan penanaman mangrove.

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengatakan, abrasi di Kuala Selat tidak hanya berdampak terhadap kondisi lingkungan, tetapi juga mengancam ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat.

“Ketika pesisir tergerus, yang kita pertaruhkan bukan hanya tanah. Ada kebun masyarakat, sumber penghidupan dan masa depan generasi berikutnya. Menjaga mangrove berarti menjaga masyarakat yang hidup di belakangnya,” ujar Herry dalam siaran pers. 

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, pemulihan kawasan Kuala Selat membutuhkan rehabilitasi lingkungan dalam skala besar. “Daerah di sini memang sangat membutuhkan sentuhan pemulihan lingkungan yang luar biasa besar,” katanya.

Jumhur berkomitmen mendorong penanaman mangrove seluas 500 hektare di kawasan terdampak abrasi. Luasan tersebut diharapkan dapat diperluas hingga 1.000 hektare.

“Saya berkomitmen untuk ikut memastikan penanaman mangrove 500 hektare di tempat yang terabrasi. Mudah-mudahan bisa terpenuhi 1.000 hektare untuk ditanam di wilayah ini sebagai bagian dari pemulihan lingkungan sekaligus pemulihan sosial ekonomi,” ujarnya.

Menurut Jumhur, rehabilitasi tidak hanya berfokus pada penanaman. Pemerintah juga akan mencakup pembibitan dan pemeliharaan mangrove selama tiga tahun dengan melibatkan masyarakat setempat.

“Jadi bukan sekadar menanam lalu ditinggalkan. Mulai dari pembibitan, penanaman sampai pemeliharaan itu teranggarkan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan honor untuk pemeliharaan selama tiga tahun,” katanya.

Skema tersebut sekaligus berpotensi menciptakan green jobs bagi masyarakat pesisir. Dengan keterlibatan masyarakat dalam pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan, pemulihan ekosistem diharapkan memberikan manfaat ekonomi selain fungsi ekologis sebagai perlindungan kawasan pesisir.

Kondisi geografis Kuala Selat menjadi tantangan dalam pelaksanaan pemulihan. Dari Mako Polsek Kateman menuju kawasan terdampak abrasi diperlukan perjalanan sekitar 25 kilometer atau 45 hingga 60 menit menggunakan speedboat. Sejumlah jalur perairan juga dipengaruhi kondisi pasang-surut, sementara kawasan pantai memiliki lumpur dengan kedalaman hingga lutut dan paha.

Ekspedisi Merah Putih Presisi Polda Riau menyasar wilayah pesisir, terluar, dan kawasan dengan keterbatasan akses dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di Kuala Selat, kegiatan tersebut diarahkan pada penanganan persoalan abrasi melalui pemulihan ekosistem mangrove sekaligus pemberdayaan masyarakat. Rehabilitasi diharapkan dapat memperkuat perlindungan alami kawasan pesisir dan membantu menjaga sumber penghidupan masyarakat yang terdampak abrasi.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |