Pesawat militer Rusia terbang di atas Kremlin Moskwa saat latihan parade udara untuk menghormati Hari Kemenangan perang Dunia II yang ke-75 di Moskow, Rusia,Senin (4/5). Rusia menunda rencana parade militer pada tanggal 9 Mei mendatang di Lapangan Merah Akibat pandemi COVID-19. Namun menurut Presiden Rusia Vladimir Putin gelaran parade udara dan kembang api akan tetap berlangsung.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ancaman pemberontakan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin mencuat dari internal militer Rusia. Mantan komandan batalion sukarelawan Rusia, Alexander Lunin, menyampaikan ultimatum kepada Kremlin dengan memperingatkan bahwa tentara dapat mengarahkan senjatanya ke Kremlin apabila Putin tidak bersedia mendengar "kebenaran" mengenai kondisi perang di Ukraina.
Peringatan itu disampaikan Lunin melalui video yang diunggah di Instagram dan dengan cepat menjadi viral. Dalam video tersebut, Lunin mengaku menyampaikan pesan dari sejumlah pejabat militer dan anggota dinas keamanan Rusia yang identitasnya tidak diungkap. Menurutnya, mereka meminta Putin menerima pertemuan langsung yang disiarkan kepada publik agar rakyat Rusia mengetahui kondisi sebenarnya di medan perang.
"Jika dalam waktu dekat saya tidak datang ke Kremlin dan berbicara langsung di samping Anda, tentara akan mengarahkan senjatanya ke Kremlin," kata Lunin, sebagaimana diberitakan Mirror Now dan sejumlah media Barat pada Jumat (26/6/2026).
Lunin mengklaim para pejabat militer telah jenuh dengan perang yang terus berlangsung dan menilai banyak prajurit dipaksa menjalankan misi yang berujung pada kematian. "Mereka disiksa dan menghadapi kematian," ujar Lunin. Karena itu, ia memperingatkan bahwa ketidakpuasan di internal militer dapat berkembang menjadi pemberontakan apabila tuntutan mereka terus diabaikan.
Jenuh dengan Perang
Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari empat tahun menjadi salah satu konflik bersenjata paling panjang dan paling menguras sumber daya Moskow sejak berakhirnya Perang Dingin. Harapan Kremlin untuk meraih kemenangan cepat pada awal invasi berubah menjadi perang berkepanjangan yang memaksa ribuan prajurit menjalani penugasan berulang di garis depan.
Rotasi pasukan yang panjang menjadi salah satu faktor yang disebut memengaruhi kondisi psikologis para prajurit. Sebagian personel harus bertugas selama berbulan-bulan di wilayah pertempuran dengan intensitas tinggi, sementara kebutuhan untuk terus mempertahankan garis depan membuat proses pergantian pasukan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kondisi tersebut meningkatkan kelelahan fisik maupun mental di kalangan personel militer.
Selain itu, perang yang berkepanjangan juga membawa korban jiwa dan korban luka dalam jumlah besar di kedua belah pihak. Meski Rusia tidak secara rutin merilis data resmi mengenai jumlah korban, berbagai lembaga pemantau dan intelijen Barat memperkirakan konflik ini telah menimbulkan kerugian personel yang signifikan. Moskow sendiri tidak mengakui sebagian besar estimasi tersebut.
Di tengah situasi itu, muncul pula berbagai keluhan mengenai perlengkapan tempur, logistik, hingga pola komando di medan perang. Sejumlah laporan dari blogger militer Rusia dan media independen beberapa kali mengungkap kritik terhadap proses pengambilan keputusan, termasuk tuduhan bahwa sebagian prajurit dipaksa menjalankan operasi yang dinilai memiliki risiko sangat tinggi. Namun, klaim-klaim tersebut sulit diverifikasi secara independen karena ketatnya pembatasan informasi selama perang.

17 hours ago
12












































