Ketergantungan Impor Jadi Titik Lemah Industri Manufaktur

7 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor dinilai masih menjadi tantangan besar bagi daya tahan manufaktur Indonesia. Di tengah tekanan geopolitik global, kenaikan biaya logistik, dan pelemahan rupiah, penguatan industri bahan baku domestik dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing sektor manufaktur.

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan tekanan terhadap industri manufaktur mulai terlihat sejak Maret 2026 setelah pada dua bulan pertama tahun ini aktivitas industri masih menunjukkan kinerja yang cukup kuat.

“Kalau kita melihat kuartak I secara keseluruhan agregat masih positif, masih 5 persen,” kata Faisal, Jumat (29/5/2926).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.

Namun, indikator aktivitas manufaktur mulai melambat. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang sempat mencapai 53,8 pada Februari 2026 turun ke level 49,1 pada April 2026 atau kembali masuk zona kontraksi.

Menurut Faisal, kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya biaya bahan baku, logistik, dan asuransi akibat dinamika global. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menambah tekanan terhadap biaya produksi industri.

“Biaya produksi meningkat karena faktor perang, meningkatkan biaya perolehan bahan baku dan logistik,” ujarnya.

Kajian CORE Insight menunjukkan sekitar 70 persen impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan komponen industri. Kondisi ini membuat manufaktur nasional rentan terhadap gejolak nilai tukar maupun gangguan rantai pasok global.

Ketergantungan impor juga masih tinggi di sejumlah sektor strategis. CORE mencatat sekitar 85 persen bahan baku farmasi nasional masih didatangkan dari luar negeri, terutama India dan China.

Karena itu, Faisal menilai penguatan industri bahan baku domestik perlu dipercepat agar manufaktur nasional memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap tekanan eksternal.

Ia menyebut sektor petrokimia berbasis nafta, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta besi dan baja sebagai industri yang perlu diperkuat.

Menurutnya, petrokimia berbasis nafta berperan penting sebagai pemasok bahan baku bagi industri tekstil dan plastik. Sementara industri besi dan baja menjadi penopang rantai pasok manufaktur dan konstruksi nasional.

Adapun industri tekstil dan produk tekstil dinilai strategis karena menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19 persen dari total tenaga kerja manufaktur nasional.

“Pemerintah perlu memberikan ruang untuk industri manufaktur bergerak lebih baik dan meringankan beban daripada peningkatan biaya produksi serta menjaga akses pasar domestik,” kata Faisal.

CORE mengusulkan sejumlah dukungan kebijakan, antara lain relaksasi bea masuk bahan baku strategis, percepatan restitusi pajak, hingga subsidi input bagi industri yang terdampak kenaikan biaya produksi.

Pemerintah sendiri terus mendorong pengembangan industri bahan baku melalui program hilirisasi, termasuk di sektor petrokimia dan baja. Investasi hilirisasi juga ditargetkan mencapai sekitar Rp3.800 triliun untuk memperkuat rantai pasok industri dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

sumber : Antara

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |