Admin
Agama | 2026-08-21 07:22:57
Koderi, Guru Besar UIN Raden Intan Lampung
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sebagian besar manusia memandang kesehatan sebagai keadaan terbebas dari penyakit, kelemahan, dan penderitaan. Oleh karena itu, ketika seseorang berdoa memohon kesehatan kepada Allah Swt., mereka umumnya berharap memperoleh tubuh yang kuat, umur yang panjang, dan kehidupan yang nyaman. Namun, dalam perspektif tauhid dan hikmah, makna kesehatan (al-'afiyah) tidak selalu identik dengan terbebas dari ujian, penyakit, atau penderitaan.
Para nabi, sahabat, dan orang-orang saleh merupakan manusia yang paling dekat dengan Allah. Akan tetapi, kedekatan mereka kepada Allah tidak menjadikan mereka terbebas dari berbagai bentuk ujian. Bahkan, sebagian besar ujian yang mereka alami sangat berat jika diukur dengan standar manusia biasa. Fakta ini menunjukkan bahwa ukuran kesehatan dalam pandangan Allah tidak selalu sama dengan ukuran kesehatan menurut manusia.
Tulisan ini menganalisis konsep kesehatan, ujian, doa, dan ridha terhadap takdir berdasarkan Al-Qur'an, hadis, serta pandangan ulama klasik dalam bidang akhlak, ibadah, dan hikmah.
Konsep Al-'Afiyah dalam Islam
Secara bahasa, kata العافية berarti keselamatan, perlindungan, dan terbebas dari sesuatu yang merusak.
Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memohon afiyah kepada Allah.
Beliau bersabda:
سَلُوا اللّٰهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ
"Mohonlah kepada Allah ampunan dan afiyah, karena tidak ada sesuatu yang lebih baik yang diberikan kepada seseorang setelah keyakinan selain afiyah." (HR. At-Tirmidzi No. 3558)
Hadis ini menunjukkan bahwa afiyah merupakan nikmat yang sangat besar. Namun, para ulama menjelaskan bahwa afiyah tidak hanya berarti sehat secara fisik, melainkan juga keselamatan agama, hati, akhlak, dan hubungan seorang hamba dengan Allah.
Ujian Tidak Bertentangan dengan Afiyah
Banyak orang beranggapan bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan menjauhkannya dari penderitaan. Pandangan tersebut tidak sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan hadis.
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."(QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri mengalami berbagai penderitaan fisik.
Riwayat sahih, beliau bersabda ketika sakit menjelang wafat:
مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ، فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السُّمِّ
"Aku masih merasakan sakit akibat makanan yang pernah aku makan di Khaibar. Kini aku merasakan saat terputusnya urat jantungku karena racun tersebut." (HR. Al-Bukhari No. 4428)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tetap mengalami penderitaan fisik meskipun beliau merupakan manusia paling mulia di sisi Allah.
Para Sahabat Memohon Afiyah, Namun Tetap Mengalami Ujian
Sejarah Islam menunjukkan bahwa para sahabat senantiasa memohon kesehatan dan keselamatan kepada Allah.
Namun, takdir Allah menetapkan bentuk kehidupan yang berbeda dari keinginan mereka.Abu Bakar ash-Shiddiq wafat setelah mengalami sakit yang berat. Umar bin Khattab wafat karena ditikam ketika melaksanakan salat Subuh.
Utsman bin Affan wafat sebagai syahid ketika membaca Al-Qur'an. Ali bin Abi Thalib wafat akibat serangan yang dilakukan oleh kaum Khawarij.
Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa afiyah tidak selalu berarti terbebas dari kematian yang berat. Afiyah yang hakiki adalah keselamatan iman hingga akhir kehidupan.
Ridha terhadap Ketentuan Allah
Kajian hikmah mengajarkan bahwa seorang hamba tidak hanya meminta sesuatu kepada Allah, tetapi juga menerima apa yang dipilihkan Allah.
Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan:
الرِّضَا ثَمَرَةُ الْمَحَبَّةِ، فَمَنْ أَحَبَّ اللّٰهَ رَضِيَ بِأَفْعَالِهِ
"Ridha merupakan buah dari cinta. Barang siapa mencintai Allah, maka ia akan ridha terhadap segala perbuatan-Nya." (Al-Ghazali, Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn, Juz IV, hlm. 365)
Menurut Al-Ghazali, seorang mukmin boleh memohon kesehatan, keselamatan, dan kemudahan. Namun, apabila Allah memilihkan ujian baginya, ia tetap menerima pilihan Allah dengan penuh keimanan.
Doa dan Penghambaan kepada Allah
Islam mengajarkan agar manusia senantiasa berdoa kepada Allah.
Allah berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir [40]: 60)
Namun, para ulama menjelaskan bahwa terkabulnya doa tidak selalu berarti Allah memberikan apa yang diminta persis sesuai keinginan manusia.
Imam Ibn Athaillah as-Sakandari berkata dalam Al-Hikam:
لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ
"Janganlah keterlambatan pemberian Allah setelah engkau bersungguh-sungguh berdoa menyebabkan engkau berputus asa."(Ibn 'Aṭā'illāh, 2007, hlm. 31)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Allah memberikan jawaban doa sesuai hikmah-Nya, bukan semata-mata sesuai keinginan manusia.
Keadaan Terdesak dan Kemurnian Tauhid
Al-Qur'an menjelaskan bahwa keadaan terdesak sering kali menjadi sarana munculnya ketulusan penghambaan kepada Allah.
Allah berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ
"Bukankah Dia yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan?"(QS. An-Naml [27]: 62)
Para ulama hikmah menjelaskan bahwa al-mudhtharr (orang yang terdesak) adalah orang yang tidak lagi menggantungkan harapan kepada makhluk, kekuatan, jabatan, atau hartanya.
Imam Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan:
إِذَا انْقَطَعَ رَجَاؤُكَ مِنَ الْخَلْقِ كُلِّهِمْ وَتَعَلَّقَ قَلْبُكَ بِاللّٰهِ وَحْدَهُ فَتِلْكَ بَدَايَةُ الْفَتْحِ
"Apabila harapanmu telah terputus dari seluruh makhluk dan hatimu hanya bergantung kepada Allah semata, maka itulah awal terbukanya pertolongan."(Al-Fatḥ al-Rabbānī, hlm. 82)
Pandangan ini menunjukkan bahwa kesulitan sering kali menjadi sarana penyucian tauhid seorang hamba.
Perspektif Akhlak dan Hikmah tentang Ujian
Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan:
فَإِنَّ الْمِحَنَ وَالْبَلَايَا تُسْتَخْرَجُ بِهَا عُبُودِيَّةُ الصَّبْرِ وَالرِّضَا وَالتَّوَكُّلِ
"Melalui ujian dan musibah, Allah menampakkan penghambaan berupa kesabaran, keridhaan, dan tawakal." (Ibn al-Qayyim, Madarij al-Salikin, Juz II, hlm. 178)
Dengan demikian, penderitaan bukan selalu tanda murka Allah. Dalam banyak keadaan, penderitaan justru menjadi sarana peningkatan derajat seorang hamba.
Kesimpulan
Islam mengajarkan umatnya untuk memohon afiyah, kesehatan, keselamatan, dan kemudahan kepada Allah. Akan tetapi, seorang mukmin harus memahami bahwa afiyah yang hakiki tidak selalu identik dengan terbebas dari penyakit atau penderitaan.
Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan para wali Allah tetap mengalami berbagai ujian meskipun mereka merupakan manusia pilihan. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran kebaikan menurut Allah berbeda dengan ukuran yang dibangun oleh hawa nafsu manusia.
Seorang mukmin yang matang secara spiritual akan terus berdoa, berusaha, dan memohon kesehatan kepada Allah. Namun, ia juga menerima dengan ridha apabila Allah memilihkan jalan yang berbeda. Ia meyakini bahwa apa pun yang ditetapkan Allah merupakan pilihan terbaik bagi dirinya.
Pada akhirnya, kesehatan terbesar bukanlah kesehatan tubuh semata, melainkan kesehatan iman, kesehatan hati, dan kemampuan untuk tetap dekat kepada Allah dalam setiap keadaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

14 hours ago
13












































