Kemenekraf-SHOW Token Dorong IP Kreatif Indonesia Bersaing di Pasar Global

4 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri kreatif Indonesia memiliki peluang besar melahirkan lebih banyak intellectual property (IP) yang mampu bersaing di pasar global. Namun, keterbatasan akses pendanaan dan pengembangan proyek pada tahap awal masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi para kreator.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri hiburan di Asia. Potensi tersebut ditopang oleh kekayaan budaya, cerita lokal, serta talenta kreatif yang terus berkembang.

"Indonesia memiliki talenta kreatif, kekayaan budaya, dan potensi ekonomi kreatif yang sangat besar. Pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk memperkuat ekosistem kreatif nasional, membuka akses yang lebih luas bagi para kreator, serta menciptakan peluang baru agar karya-karya Indonesia dapat dikenal di tingkat global," ujar Teuku dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Teuku, pengembangan IP lokal menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing industri kreatif nasional. Kolaborasi antara pelaku industri, komunitas kreatif, dan pemanfaatan teknologi dinilai dapat mempercepat pertumbuhan sektor tersebut.

Isu penguatan IP dan akses pembiayaan menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Kementerian Ekonomi Kreatif dengan SHOW Token. Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas peluang pengembangan industri kreatif berbasis teknologi serta strategi memperluas jangkauan karya kreatif Indonesia ke pasar internasional.

COO SHOW Token Joshua Khubani mengatakan, banyak proyek kreatif kesulitan berkembang karena terbatasnya dukungan pendanaan pada tahap awal pengembangan.

Menurut Joshua, tantangan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi persoalan yang dihadapi industri hiburan secara global.

"Kami ingin membantu menciptakan akses yang lebih terbuka terhadap pengembangan proyek entertainment. Dengan memanfaatkan teknologi dan komunitas global, lebih banyak kreator memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide-ide mereka menjadi karya yang dapat diproduksi dan dinikmati oleh audiens yang lebih luas," ujar Joshua.

Ia menambahkan, nilai ekonomi sebuah IP tidak berhenti ketika sebuah film atau karya selesai diproduksi. IP yang kuat dapat berkembang menjadi berbagai produk turunan yang menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang.

"Film dapat menjadi awal dari sebuah ekosistem yang lebih besar. Ketika sebuah IP berkembang, peluangnya dapat meluas ke berbagai sektor seperti merchandise, collectibles, toys, licensing, hingga aktivitas komunitas yang terus menjaga keterlibatan audiens," kata Joshua.

Selain pendanaan, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga dinilai akan semakin memengaruhi perkembangan industri kreatif. Namun Joshua menegaskan, teknologi tidak ditujukan untuk menggantikan kreator.

"Kami tidak melihat AI sebagai pengganti kreator. Kreativitas dan kemampuan bercerita akan selalu berasal dari manusia. Teknologi hadir untuk membantu kreator bekerja lebih efektif dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas," ujarnya.

Di tengah berkembangnya creator economy, AI, dan teknologi Web3, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk melahirkan generasi baru IP kreatif yang mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di tingkat global.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |