REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore melemah seiring investor melakukan aksi profit taking (ambil untung) yang dipicu kekhawatiran meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
IHSG ditutup melemah 16,35 poin atau 0,28 persen ke posisi 5.886,03. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,64 poin atau 0,45 persen ke posisi 586,84. “Kami melihat IHSG ditutup melemah di tengah aksi profit taking dan sentimen eksternal,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Investor mengurangi eksposur pada aset berisiko (risk off) seiring koreksi tajam indeks di Wall Street, Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak, pelemahan harga emas, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Selain itu, investor melakukan aksi profit taking setelah IHSG mengalami penguatan signifikan selama dua hari berturut-turut pada Selasa (9/6/2026) dan Rabu (10/6/2026).
Pada perdagangan sesi II Kamis, pelemahan IHSG berkurang setelah dilaporkan bahwa Amerika Serikat telah menyelesaikan serangan terhadap Iran dan harga minyak dunia mengalami pelemahan. Selain itu, katalis positif juga berasal dari rencana pemerintah yang akan melakukan efisiensi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Sehingga, diperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan menguji level 5.900–5.950 pada perdagangan besok,” ujar Ratna.
Untuk pekan depan, pelaku pasar menantikan keputusan suku bunga acuan The Fed dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni 2026. Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan pengumuman MSCI Accessibility Review pada 18 Juni serta keputusan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18–19 Juni 2026.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona merah hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat, dipimpin sektor properti yang naik 0,74 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor kesehatan yang masing-masing naik 0,64 persen dan 0,56 persen.
Sementara itu, enam sektor melemah. Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 4,27 persen, diikuti sektor energi dan sektor transportasi & logistik yang masing-masing turun 2,01 persen dan 1,43 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu KOPI, UVCR, OILS, TMPO, dan RISE. Sementara saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yaitu TRUE, HRTA, TRIN, SAPX, dan BMSR.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.375.140 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 33,50 miliar lembar saham senilai Rp 22,25 triliun. Sebanyak 265 saham menguat, 419 saham melemah, dan 131 saham tidak berubah.
Bursa saham regional Asia pada Kamis mencatat pergerakan bervariasi. Indeks Nikkei menguat 71,73 poin atau 0,11 persen ke 64.251,00, indeks Shanghai melemah 6,21 poin atau 0,16 persen ke 3.987,01, indeks Hang Seng turun 158,67 poin atau 0,65 persen ke 24.249,29, dan indeks Strait Times menguat 35,63 poin atau 0,72 persen ke 4.994,48.
sumber : Antara

6 hours ago
11
















































