China dan Berubahnya Peta Kekuatan Minyak Dunia

21 hours ago 12

Oleh: Yuri Thamrin; duta besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (2016-2020)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang Iran kembali mengingatkan dunia pada satu kenyataan lama: minyak bukan sekadar komoditas ekonomi. Ia juga merupakan instrumen kekuatan geopolitik. Ketika konflik membuat pelayaran melalui Selat Hormuz nyaris terhenti, kekhawatiran segera muncul bahwa harga minyak dunia akan melonjak tak terkendali. Selat sempit ini merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia.

Yang terjadi ternyata tidak sepenuhnya sesuai perkiraan. Harga minyak memang sempat melonjak. Brent bahkan mencapai sekitar 126 dollar AS per barel pada akhir April. Namun lima bulan setelah perang dimulai, harganya telah turun sekitar 40 dollar dari puncak tersebut. Padahal sekitar 14 juta barel minyak per hari, atau hampir seperlima produksi dunia, sempat terancam tertahan di kawasan Teluk akibat gangguan di Hormuz.

Salah satu penjelasan menarik datang dari The Economist edisi 15 Agustus 2026. Majalah itu bahkan menggunakan ungkapan provokatif bahwa China telah merebut sebagian kendali pasar minyak dari OPEC. Pernyataan tersebut tentu tidak perlu dipahami secara harfiah. China bukan negara pengekspor minyak besar dan bukan anggota kartel produsen. Namun pengalaman selama perang Iran menunjukkan munculnya bentuk kekuatan baru dalam pasar energi dunia: kekuatan aktor pembeli raksasa.

Kekuatan dari Sisi Permintaan

Selama puluhan tahun, kekuatan di pasar minyak terutama diasosiasikan dengan produsen. OPEC dapat memengaruhi harga dengan menaikkan atau menurunkan produksi. Logikanya sederhana: kurangi pasokan, harga cenderung naik; tambah pasokan, harga cenderung turun. Sebelum perang, OPEC bersama sekutunya menguasai sekitar separuh produksi minyak mentah dunia.

China memperlihatkan sisi lain dari persamaan (equation) tersebut. Sebagai salah satu konsumen dan importir minyak terbesar dunia, Beijing mempunyai kemampuan memengaruhi pasar dari sisi permintaan. Ketika pasokan dari Teluk terganggu, China memangkas impor minyaknya secara drastis. Majalah tersebut mencatat impor itu sempat turun hampir separuh menjadi sekitar 5,5 juta barel per hari.

Langkah itu dimungkinkan karena China telah membangun cadangan minyak dalam jumlah besar ketika harga relatif rendah. Beijing juga membatasi ekspor produk minyak dan mengelola permintaan domestiknya. Dengan kata lain, ketika pasokan global terganggu, China tidak harus berebut setiap barel yang tersedia di pasar internasional.

Dampaknya besar. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memang mengalihkan sekitar 5 juta barel per hari melalui jaringan pipa, sementara sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Jepang melepaskan cadangan strategis. Namun penurunan tajam permintaan China menjadi salah satu shock absorber utama yang mencegah gangguan pasokan berubah menjadi ledakan harga yang jauh lebih besar.

Perkembangan terkini semakin menegaskan besarnya kemampuan China dalam mengelola permintaan minyaknya. Reuters mencatat impor minyak China pada Juli masih 24,3 persen lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Beijing mampu menghadapi penurunan itu antara lain karena mempunyai persediaan minyak yang diperkirakan melebihi 1,2 miliar barel. 

OPEC Baru?

Di sinilah muncul analogi China sebagai “OPEC baru”. Namun keduanya sebenarnya menggunakan instrumen yang berlawanan. OPEC memperoleh market power karena mampu mengendalikan pasokan. China mulai memperoleh market power karena besarnya permintaan dan kemampuannya menentukan kapan membeli, berapa banyak membeli, dan kapan menggunakan persediaannya sendiri.

Jika OPEC dapat disebut sebagai swing producer, China dalam keadaan tertentu mulai berfungsi sebagai semacam swing buyer. Perubahan ini penting. Dalam geopolitik energi lama, kekuasaan terutama berada pada mereka yang memiliki sumur minyak. Dalam geopolitik energi yang sedang berkembang, kekuasaan juga berada pada mereka yang memiliki pasar, cadangan, kapasitas pengolahan dan kemampuan negara mengelola konsumsi.

Namun terlalu dini mengatakan bahwa era OPEC telah berakhir. Dalam jangka panjang, posisi negara-negara produsen Teluk bahkan dapat kembali menguat. Lapangan minyak terus mengalami penurunan produksi secara alamiah, sementara investasi global untuk menggantikan pasokan tersebut dinilai belum mencukupi setelah 2030. Perusahaan minyak milik negara di kawasan Teluk justru termasuk sedikit pemain yang masih melakukan investasi besar.

Kekuatan China sendiri juga mempunyai batas. Ketika persediaan berkurang dan aktivitas kilang kembali meningkat, Beijing pada akhirnya harus kembali ke pasar. Reuters bahkan mencatat China mulai kembali menambah stok pada Juli. Artinya, posisi sebagai swing buyer tidak dapat digunakan tanpa batas. 

Pelajaran bagi Indonesia

Perubahan tersebut penting bagi Indonesia. Indonesia kini merupakan net oil importer, sehingga gejolak harga dan gangguan jalur pasokan internasional mempunyai dampak langsung terhadap perekonomian, subsidi energi, neraca perdagangan dan nilai tukar. Kita tidak memiliki kemewahan seperti China untuk memengaruhi pasar dunia melalui besarnya pembelian.

Tetapi pengalaman China memberikan pelajaran mengenai arti ketahanan energi. Ketahanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi minyak sendiri. Ia juga ditentukan oleh kemampuan membangun cadangan, mendiversifikasi sumber dan jalur pasokan, meningkatkan efisiensi energi serta mengurangi ketergantungan struktural pada minyak impor. Pengembangan biodiesel, energi terbarukan dan elektrifikasi transportasi karena itu bukan semata agenda lingkungan, melainkan juga bagian dari strategi geopolitik dan keamanan energi.

Dari perkembangan ini terdapat pelajaran penting bagi negara-negara pengimpor minyak: momentum yang ada perlu dimanfaatkan untuk mendiversifikasi sumber pasokan dan mengurangi konsumsi minyak. Pada akhirnya, cara paling aman untuk mengurangi ketergantungan kepada rezim atau kawasan tertentu adalah dengan mengurangi ketergantungan terhadap minyak itu sendiri.

Perang Iran mungkin kelak berakhir dan Selat Hormuz kembali normal. Namun krisis ini telah memperlihatkan perubahan penting dalam peta kekuatan minyak dunia. Kemampuan memengaruhi pasar tidak lagi hanya berada di tangan negara produsen yang mengendalikan pasokan, tetapi juga di tangan konsumen besar yang mampu mengelola permintaan, cadangan dan pembeliannya. China telah menunjukkan bagaimana kekuatan dari sisi permintaan dapat memengaruhi pasar minyak global. Produsen tetap penting, tetapi konsumen besar kini juga dapat menjadi penentu.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |