REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih baik dan tinggi. Rosan mengatakan sinyal tersebut tercermin dari tingginya minat investor internasional terhadap penerbitan obligasi global perdana (global bond) Danantara Indonesia berbasis dolar AS yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) lebih dari tiga kali lipat.
"Saya sampaikan kepercayaan pasar, kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia itu sangat baik. Ini tercermin dari mereka yang bersedia membeli global bond Danantara dengan jangka waktu lima tahun, 10 tahun, dan bahkan mereka menyatakan kepada saya sangat terbuka apabila Danantara ingin menerbitkan obligasi hingga tenor 30 tahun," kata Rosan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Rosan menyebut, Danantara semula menargetkan penghimpunan dana sebesar 1 miliar dolar AS melalui penerbitan obligasi global. Namun, setelah melakukan rangkaian roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia, permintaan investor mencapai 4,6 miliar dolar AS.
"Dari rencana 1 miliar dolar AS yang ingin kami capai, book building yang masuk kurang lebih 4,6 miliar dolar AS. Sehingga akhirnya kami meningkatkan penerbitan menjadi 1,5 miliar dolar AS," ucap Rosan.
Menurut Rosan, tingginya permintaan investor menjadi indikator kuat pasar internasional masih menaruh kepercayaan besar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Apalagi, penerbitan obligasi dilakukan di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, serta tekanan yang sempat mewarnai pasar keuangan domestik.
"Ini adalah hasil yang sangat baik dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi. Dan ini nyata," klaim Rosan.
Rosan yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi itu menambahkan, dana hasil penerbitan obligasi tersebut terbagi dalam tenor lima tahun dan 10 tahun, dengan nilai masing-masing sebesar 750 juta dolar AS.
Menariknya, kata Rosan, tingkat kupon yang diperoleh berada di bawah ekspektasi awal pasar. Obligasi tenor lima tahun ditetapkan dengan imbal hasil 5,35 persen, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,95 persen.
Rosan menjelaskan, sebelumnya sejumlah pihak memperkirakan Danantara harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik investor. Namun, tingginya minat pasar justru memungkinkan perseroan memperoleh tingkat bunga yang kompetitif.
"Kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka meminta yield premium yang sangat tinggi. Ini tidak mereka minta, bahkan kita lihat yield-nya sangat kompetitif," ucapnya.
Selain itu, Rosan menambahkan, kepercayaan investor juga tercermin dari komposisi pembeli obligasi yang didominasi investor asal Amerika Serikat dan Eropa. Untuk obligasi tenor lima tahun, sebanyak 38 persen investor berasal dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21 persen dari Asia. Sementara pada tenor 10 tahun, investor Amerika Serikat mendominasi dengan porsi 52 persen, diikuti Eropa dan Timur Tengah sebesar 31 persen, serta Asia 17 persen.
Menurut Rosan, kondisi tersebut berbeda dibandingkan tren historis penerbitan obligasi Indonesia yang umumnya lebih banyak diminati investor Asia.
"Justru peminat terbesarnya adalah dari Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar global terhadap Indonesia sangat baik," kata Rosan.
Dengan permintaan yang mencapai 4,6 miliar dolar AS, tingkat imbal hasil yang kompetitif, serta tingginya partisipasi investor dari Amerika Serikat dan Eropa, penerbitan obligasi global perdana Danantara menjadi sinyal bahwa akses pendanaan Indonesia di pasar internasional masih kuat di tengah tantangan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.

10 hours ago
11















































