REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam ajaran Islam, terdapat sejumlah golongan hamba yang mendapat perhatian, perlindungan, dan pembelaan khusus dari Allah SWT. Ketika Allah telah menjaga dan membela seorang hamba, tidak ada satu pun makhluk yang mampu mencelakakannya tanpa izin-Nya. Karena itu, umat Islam diingatkan agar tidak menyakiti orang-orang yang dicintai dan dibela oleh Allah SWT.
Salah satu golongan yang mendapatkan perlindungan tersebut adalah orang yang istiqamah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Mereka menjalankan salah satu tugas mulia dalam Islam, yakni mengajak manusia kepada jalan yang benar serta mengingatkan dari perbuatan yang menyimpang. Orang-orang yang menunaikan tugas ini dengan ikhlas dijanjikan pertolongan Allah dari berbagai upaya buruk musuh-musuhnya.
Golongan berikutnya adalah orang yang jujur. Kejujuran merupakan salah satu akhlak utama yang sangat dicintai Allah SWT. Orang yang senantiasa berkata dan bertindak jujur akan memperoleh pertolongan serta pembelaan dari Allah. Karena itu, siapa pun yang berbuat zalim kepada orang yang jujur sesungguhnya sedang berhadapan dengan kemurkaan Allah SWT.
Adapun golongan ketiga adalah anak yatim. Alquran berulang kali memerintahkan umat Islam untuk memuliakan, menyantuni, dan menjaga hak-hak anak yatim. Memuliakan anak yatim dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan hidupnya, memperhatikan pendidikannya, menjaga perasaannya, serta memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Sebaliknya, menyakiti anak yatim termasuk perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
Dalam Surah Al-Ma'un, Allah SWT bahkan menyebut orang yang menghardik anak yatim sebagai bagian dari mereka yang mendustakan agama. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk berhati-hati dalam memperlakukan anak yatim dan menjauhi segala bentuk tindakan yang dapat melukai hati mereka.
Ketiga golongan tersebut disebutkan dalam sebuah wasiat Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA yang diriwayatkan dalam kitab Wasiyatul Musthafa karya Imam Asy-Sya'rani:
يَا عَلِيُّ، مَنْ أَمَرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ أَرْغَمَ اللهُ أَنْفَ عَدُوِّهِ وَمَنْ صَدَقَ فِيْ أُمُوْرِهِ غَضِبَ اللهُ لِغَضْبِهِ، وَإِذَا بَكَى الْيَتِيْمُ اِهْتَزَّ الْعَرْشُ فَيُقَالُ يَا جِبْرِيْلُ وَسِعَ النَّارُ لِمَنْ أَبْكَاهُ وَوَسِعَ الْجَنَّةُ لِمَنْ أَضْحَكَهُ
Yā 'Aliyyu, man amara bil-ma'rūfi wa nahā 'anil munkari arghamallāhu anfa 'aduwwihi, wa man shadaqa fī umūrihi ghadhiballāhu lighadhabihi, wa idzā bakal yatīmu ihtazzal 'arsyu fa yuqālu yā Jibrīlu wassi'in nāra liman abkāhu wa wassi'il jannata liman adh-hakahu.
"Wahai Ali, barang siapa menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, maka Allah akan menghinakan musuhnya. Barang siapa jujur dalam berbagai urusannya, maka Allah murka karena kemurkaannya. Dan apabila seorang anak yatim menangis, maka bergetarlah Arasy. Lalu dikatakan, 'Wahai Jibril, luaskanlah neraka bagi orang yang membuatnya menangis dan luaskanlah surga bagi orang yang membuatnya tersenyum'."
Pesan tersebut menunjukkan besarnya perhatian Islam terhadap dakwah, kejujuran, dan perlindungan terhadap anak yatim. Ketiganya bukan hanya akhlak mulia yang dianjurkan, tetapi juga menjadi sebab datangnya pertolongan dan pembelaan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya.

4 hours ago
11















































