Sungai Rhine Mengering, Nadi Ekonomi Eropa Terancam Kemarau Panjang

7 hours ago 9

Kamis 06 Aug 2026 20:00 WIB

Debit air Sungai Rhine terus menyusut hingga mendekati level terendah dalam sejarah.

Red: Edwin Dwi Putranto

Penampakan debit air Sungai Rhine yang menyusut di Bacharach, Jerman, Kamis (6/8/2026). Gelombang panas dan kemarau berkepanjangan yang melanda Eropa membuat debit air Sungai Rhine terus menyusut hingga mendekati level terendah dalam sejarah pengamatan. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

Sebuah kapal penumpang melintasi Kastel Pfalzgrafenstein di Sungai Rhine di Kaub, Jerman, Kamis (6/8/2026). Permukaan Sungai Rhine yang biasanya ramai dilalui kapal kini tampak menyusut. Kemarau panjang dan gelombang panas mengubah salah satu sungai tersibuk di Eropa menjadi potret rapuhnya alam di tengah perubahan iklim. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

Hungerstein, atau Batu kelaparan, sebutan penanda hidrologis yang berasal dari tahun 1857, terlihat di Sungai Rhine yang menyusut di Worms, Jerman, Kamis (6/8/2026). Rhine bukan sekadar sungai. Selama berabad-abad, aliran airnya menjadi nadi perdagangan yang menghubungkan Swiss, Jerman, Prancis, hingga Belanda. Kini, denyut itu mulai melambat. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

Gelombang panas yang berkepanjangan membuat debit air terus menurun. Para pelaku industri, operator pelayaran, hingga petani merasakan dampak langsung dari sungai yang kehilangan sebagian alirannya. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

Di sepanjang tepian Rhine, hamparan batu dan pasir yang biasanya tersembunyi kini muncul ke permukaan. Pemandangan yang indah sekaligus menghadirkan kegelisahan tentang masa depan sumber daya air Eropa. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

Penampakan Kastel Pfalzgrafenstein di Sungai Rhine, Kaub, Jerman, Kamis (6/8/2026). Kemarau yang berkepanjangan tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga mengancam keseimbangan ekosistem sungai. Habitat satwa air dan kualitas lingkungan ikut tertekan oleh berkurangnya debit air. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

Para peneliti menilai kondisi ini menjadi peringatan bahwa sungai-sungai besar di Eropa semakin rentan terhadap perubahan iklim. Upaya pengelolaan sumber daya air, pengurangan emisi, hingga adaptasi terhadap cuaca ekstrem menjadi langkah penting agar jalur transportasi, ekosistem, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada Sungai Rhine tetap terjaga di masa mendatang. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

Di balik surutnya Sungai Rhine tersimpan pesan yang lebih besar: menjaga bumi berarti menjaga aliran kehidupan. Sungai yang dahulu menjadi simbol kemakmuran kini mengajak dunia untuk lebih serius menghadapi perubahan iklim. (FOTO : EPA/RONALD WITTEK)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, JERMAN -- Gelombang panas dan kemarau berkepanjangan yang melanda Eropa membuat debit air Sungai Rhine terus menyusut hingga mendekati level terendah dalam sejarah pengamatan. Kondisi tersebut tidak hanya mengubah bentang alam sungai yang menjadi urat nadi perdagangan Eropa, tetapi juga mengganggu aktivitas pelayaran, industri, hingga pasokan logistik di sejumlah negara.

sumber : EPA

Berita Lainnya

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |