Dokter: Deteksi Dini Kunci Cegah Komplikasi Diabetes

19 hours ago 10

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak masyarakat baru mengetahui dirinya mengidap diabetes setelah penyakit tersebut menimbulkan komplikasi. Padahal, diabetes dapat dikendalikan apabila dikenali sejak dini dan ditangani secara konsisten.

Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, mengatakan rendahnya literasi kesehatan masih menjadi salah satu penyebab masyarakat terlambat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. "Kenapa masyarakat kita datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah terlambat? Karena literasi kesehatan kita belum merata. Banyak orang juga masih menunda atau bahkan menyangkal (denial) meski memiliki faktor risiko," kata dr. Ida Ayu dalam diskusi media bertajuk End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang yang digelar PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Senin (4/8/2026).

Menurut dia, sebagian orang merasa dirinya baik-baik saja karena rutin berolahraga atau merasa tidak memiliki keluhan yang berat. Padahal, gaya hidup sehat saja tidak selalu meniadakan risiko diabetes, terutama jika terdapat riwayat penyakit dalam keluarga atau faktor risiko lainnya.

Karena itu, dr. Ida Ayu mengingatkan masyarakat untuk tidak berhenti hanya pada hasil pemeriksaan gula darah. Setelah mengetahui angkanya, seseorang juga perlu mengevaluasi faktor risiko lain, seperti riwayat diabetes dalam keluarga, berat badan, pola hidup, hingga kondisi kesehatan penyerta.

"Ketika selesai memeriksa gula darah dan mendapatkan angkanya, jangan berhenti di situ. Pahami apakah angkanya masih normal atau perlu perhatian lebih lanjut. Lihat juga faktor risikonya, termasuk riwayat keluarga," ujarnya.

Ia menjelaskan gejala diabetes tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian mengalami keluhan yang jelas, tetapi ada pula yang hanya merasakan perubahan ringan sehingga kerap diabaikan.

Salah satu gejala yang perlu diwaspadai adalah rasa haus yang berlebihan disertai sering buang air kecil, terutama pada malam hari. Kondisi tersebut terjadi karena kadar gula darah yang tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras sehingga tubuh kehilangan banyak cairan.

"Kalau seseorang sering buang air kecil pada malam hari karena gula darah tinggi, itu sudah menjadi tanda peringatan," kata dr. Ida Ayu.

Gejala lain yang cukup khas adalah rasa lapar yang terus-menerus meski sudah makan, namun berat badan justru menurun. Selain itu, penderita juga dapat mengalami tubuh yang mudah lelah tanpa penyebab yang jelas.

"Jangan terus mencari alasan atau menganggap itu hal biasa. Kalau tubuh memberikan sinyal yang berbeda dari biasanya, apalagi memiliki faktor risiko, segera cari tahu penyebabnya," ujarnya.

Menurut dr. Ida Ayu, pengelolaan diabetes tidak cukup mengandalkan obat atau teknologi kesehatan. Edukasi yang berkelanjutan menjadi fondasi agar pasien memahami penyakitnya dan tetap patuh menjalani terapi serta perubahan gaya hidup.

"Keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya ditentukan oleh obat. Pasien perlu memahami penyakitnya agar mampu menjalankan tata laksana medis secara konsisten. Edukasi yang berkelanjutan membantu meningkatkan kepatuhan terapi sekaligus mencegah komplikasi," katanya.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan lebih dari 20 juta penyandang diabetes. Sementara Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes mencapai 11,7 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas. Meski demikian, kepatuhan menjalani pengobatan dan pemeriksaan rutin masih tergolong rendah, terutama pada kelompok usia produktif.

Karena itu, dr. Ida Ayu menekankan bahwa deteksi dini, edukasi, serta pendampingan jangka panjang menjadi kunci agar penyandang diabetes dapat mengendalikan penyakitnya dan terhindar dari komplikasi seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, hingga kerusakan saraf.

Dalam Media Discussion Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, dr. Selvinna, M.Biomed. mengatakan diabetes bukan penyakit yang dapat dikelola dengan terapi sesaat. Penyandang diabetes membutuhkan pendampingan sejak memahami faktor risiko, menjalani deteksi dini, memulai terapi, hingga mengelola penyakit dalam jangka panjang.  

“Kami percaya, tidak ada penyandang diabetes yang seharusnya menjalani perjalanan penyakitnya sendirian. Pada saat yang sama, keberhasilan pengelolaan diabetes juga memerlukan kepatuhan pasien dalam menjalankan tata laksana medis sesuai anjuran tenaga kesehatan," tambahnya.

Pendekatan tersebut juga relevan dalam praktik klinis sehari-hari. Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, Sp.PD, Subsp. E.M.D., FINASIM, menjelaskan bahwa tantangan terbesar sering muncul setelah pasien menerima diagnosis diabetes. Banyak pasien menghadapi kesulitan mempertahankan kepatuhan terapi dan perubahan gaya hidup dalam jangka panjang. 

Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya komplikasi apabila tidak diikuti pendampingan yang berkesinambungan. "Dalam praktik sehari-hari, kami melihat banyak pasiendatang ketika komplikasi sudah mulai muncul. Kondisi tersebut sering terjadi karena diabetes terlambat terdeteksi atau terapi tidak dijalankan secara konsisten. Padahal, kepatuhan terhadap tata laksana medis merupakan kunci mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi. 

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |