Dokter Geriatri: Terlalu Melindungi Lansia Justru Bisa Menurunkan Kualitas Hidup

12 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak keluarga mengira bentuk kasih sayang terbaik kepada orang tua yang telah lanjut usia adalah membatasi aktivitas mereka agar tidak cedera. Padahal, sikap yang terlalu protektif justru dapat membuat lansia kehilangan kemandirian dan kualitas hidupnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Geriatri RSCM, Dr dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD-KGer, FINASIM, mengatakan salah satu miskonsepsi yang masih banyak ditemui di Indonesia adalah anggapan bahwa lansia harus selalu dibantu dan tidak boleh banyak beraktivitas.

"Orang sering berpikir menghadapi orang tua itu mudah. Yang penting sayang dan peduli. Padahal, itu belum cukup. Pada lansia yang dibutuhkan bukan hanya kasih sayang, tetapi juga ilmu agar tindakan kita benar," ujar Edy, saat ditemui di kegiatan pelatihan perawatan lansia yang digelar oleh Geriatri-ID.

Edy yang juga salah satu penggagas Geriatri-ID mengatakan banyak keputusan keluarga yang didasari niat baik justru berdampak kurang baik karena tidak memahami kebutuhan lansia. Salah satu contohnya adalah melarang orang tua beraktivitas setelah pernah mengalami jatuh.

"Secara logika memang benar, supaya tidak jatuh lagi akhirnya orang tua tidak boleh ke mana-mana atau tidak boleh melakukan aktivitas. Tetapi yang sering dilupakan adalah bagaimana mereka tetap memiliki kualitas hidup yang baik," katanya.

Edy menjelaskan, perlakuan yang keliru terhadap lansia tidak selalu terjadi karena kesengajaan. Justru, sebagian besar muncul akibat kurangnya pengetahuan keluarga mengenai proses penuaan.

"Sering kali terjadi mistreatment atau perlakuan yang tidak tepat bukan karena anaknya tidak sayang, tetapi karena tidak tahu. Tanpa disadari, seseorang bisa menjadi pelaku kekerasan atau abuse terhadap orang tuanya sendiri," ujarnya.

Karena itu, ia menilai edukasi mengenai perawatan lansia perlu diperluas, tidak hanya bagi tenaga kesehatan, tetapi juga keluarga yang sehari-hari menjadi pendamping utama orang tua. Menurut Edy, keluarga sebaiknya tidak terburu-buru mengubah seluruh kebiasaan lansia hanya karena faktor usia. Lansia yang mampu mencapai usia 60, 70, bahkan 80 tahun, umumnya telah memiliki pola hidup yang sesuai dengan kondisi tubuhnya.

"Kalau seseorang sudah mencapai usia lanjut, itu sebenarnya sebuah prestasi. Artinya, ada gaya hidup yang selama ini cocok untuk dirinya. Tugas keluarga bukan langsung melarang ini dan itu, tetapi memfasilitasi agar kebiasaan baik yang masih bisa dilakukan tetap dapat dijalankan," katanya.

Pendekatan terhadap lansia, lanjut Edy, tidak bisa disamakan dengan orang dewasa yang lebih muda. Misalnya pada pengaturan pola makan penderita diabetes. Pembatasan makanan yang terlalu ketat justru bisa membuat lansia kehilangan nafsu makan hingga mengalami penurunan berat badan.

"Tidak semua aturan yang berlaku pada orang muda bisa diterapkan pada lansia. Kita harus lebih bijaksana. Yang dilihat bukan hanya penyakitnya, tetapi juga kualitas hidupnya," ujar dia.

Edy juga mengingatkan keluarga untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi bertambahnya usia orang tua. Dengan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia, kebutuhan akan pengetahuan mengenai perawatan lansia akan semakin besar.

"Jangan hanya berdoa agar orang tua panjang umur. Kalau doanya dikabulkan, kita juga harus siap merawat mereka dengan benar. Ajak berolahraga, dampingi, dan pahami apa yang mereka butuhkan," katanya.

Terkait olahraga, Edy menegaskan tidak ada kata terlambat bagi lansia untuk mulai beraktivitas fisik, termasuk latihan kekuatan (strength training). Namun, latihan harus dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

"Tidak ada kata terlambat untuk melatih otot dan menjaga fungsi tubuh. Yang penting dilakukan bertahap, sesuai kemampuan, dan bila perlu berkonsultasi dengan dokter. Jangan langsung melihat lansia mengangkat beban, tetapi lihat proses latihannya," ujarnya.

Ia menambahkan, kemampuan tubuh lansia memang lebih sulit dipertahankan dibandingkan saat masih muda. Karena itu, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin menjadi salah satu cara penting untuk menjaga fungsi organ, kekuatan otot, serta mempertahankan kemandirian di usia lanjut.

Selain berolahraga, keluarga juga diharapkan aktif mencari informasi dari sumber tepercaya mengenai kesehatan lansia. Dengan pemahaman yang tepat, keluarga dapat memberikan pendampingan yang tidak hanya penuh kasih sayang, tetapi juga benar secara medis sehingga lansia dapat menjalani masa tuanya dengan lebih sehat, mandiri, dan berkualitas.

Pada Selasa, 4 Agustus 2026, dan Rabu, 5 Agustus 2026, Geriatri-ID menggelar workshop terkait perawatan lansia. Beragam topik dibahas dengan menghadirkan pakar sebagai narasumbernya.

Topik tersebut di antaranya mengenai karakteristik lansia dan proses penuaan, prinsip latihan gerak dan aktivitas fisik pada lansi, praktik ambulasi pada lansia, dengan alat bantu seperti tongkat, kursi roda, dan lainnya.

Lalu topik lainnya, prinsip perawat lansia di rumah apa yang boleh dan tidak, pengawasan obat, dan tanda gawat darurat. Kemudian nutrisi seimbang dan hidrasi untuk lansia, latihan menyusun menu seimbang serta hidrasi dan ramah tekstur untuk lansia, latihan memberi makan dan minum pada lansia. Lanjut dengan praktik mengisi buku lansia dan melakukan pemeriksaan tekanan darah serta pemeriksaan gula darah, belajar dari kasus serta sesi konsultasi.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |