Sarawak Malaysia Butuh 200 Ribu Ton Beras, Bulog Kirim Perdana 1.000 Ton

4 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebutuhan beras Malaysia yang mencapai 1,5 juta hingga 1,7 juta ton per tahun membuka peluang besar bagi eksportir Indonesia. Sebagai langkah awal, 1.000 ton beras premium dikirim ke Malaysia menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

General Manager Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd, Jumaat bin Ibrahim mengatakann pengiriman perdana ini menjadi langkah promosi untuk memperkenalkan beras Indonesia di pasar Sarawak, wilayah yang kebutuhan berasnya sekitar 200 ribu ton per tahun.

"Untuk Sarawak kita membutuhkan lebih kurang 200 ribu ton untuk setahun. Sebanyak 1.000 ton sebagai langkah kita untuk mempromosikan beras-beras Indonesia ke Sarawak khususnya dan Malaysia pada umumnya," ujar Jumaat.

Menurut dia, kerja sama dagang ini bukan semata soal bisnis, juga momentum mempererat hubungan dua bangsa serumpun yang memiliki kedekatan budaya dan sejarah panjang.

Pengiriman perdana direncanakan melalui jalur perbatasan Entikong, Kalimantan Barat, yang dipilih sebagai simbol kedekatan geografis antara Sarawak dan Kalimantan Barat.

"Untuk pertama kita akan order 1.000 ton dahulu dan kita akan menggunakan border Entikong untuk simboliknya untuk penghantaran yang pertama," katanya.

Dari sisi harga, kesepakatan dagang ini di kisaran 3,9 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 17 ribu per kilogram. Bila volume ekspor ditingkatkan hingga 200 ribu ton sesuai kebutuhan Sarawak, nilai perdagangan diperkirakan mencapai sekitar Rp 3,39 triliun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut baik permintaan pasar Malaysia ini. Ia memastikan pasokan dalam negeri aman untuk mendukung ekspor, dengan stok beras di Bulog saat ini mencapai 5,2 juta ton, termasuk surplus 2 juta ton yang telah disiapkan gudang penyimpanan tambahan.

‘’Kita sudah swasembada beras, stok kita 5,2 juta ton sampai dengan hari ini. Bahkan kita sudah sewa gudang, 2 juta ton kita surplus," katanya dalam keterangan, Sabtu (25/8/2026).

Menurut dia, berdasarkan estimasi BPS, produksi beras nasional pada 2026 lebih tinggi dibandingkan 2025 sehingga peluang memenuhi permintaan besar dari Sarawak dan Malaysia secara keseluruhan terbuka lebar tanpa mengorbankan kebutuhan domestik.

"Kalau ekspor ini kalau bisa minggu ini diberangkatkan 1.000 ton secara bertahap karena kebutuhan Sarawak saja 200.000 ton. Dan untuk satu Malaysia 1,5 juta sampai 1,7 juta ton per tahun," ujarnya.

Amran mengatakan permintaan pasar Malaysia dibahas langsung dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Mohamad Sabu, yang menyatakan apresiasi dan kesiapan mempercepat serta memperbesar volume impor dari Indonesia.

"Baru saja kami bicara dengan Menteri Pertanian Malaysia, Bapak Datuk Seri Mohamad Sabu. Beliau mengapresiasi dan beliau akan mempercepat dan memperbanyak ekspor dari Indonesia ke Malaysia," katanya.

Ia memastikan kualitas beras yang dikirim ke Malaysia memenuhi standar pasar tujuan, dan menegaskan terbukanya permintaan ekspor ini menjadi peluang langsung bagi kesejahteraan petani melalui perluasan pasar dan harga yang kompetitif. "Nah justru inilah langkah kesejahteraan petani karena kita ekspor," tegasnya.

Amran menyampaikan apresiasi kepada petani, penyuluh pertanian, TNI, Polri, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, BUMN, hingga masyarakat yang mendorong peningkatan produksi pangan nasional, serta dukungan Presiden Prabowo Subianto melalui berbagai kebijakan penguatan pangan nasional yang memungkinkan permintaan besar dari pasar Malaysia ini dapat dipenuhi. "Ini bukan kerja saya, kerja kita bersama sebagai anak bangsa," ujarnya.

Dengan permintaan pasar Malaysia yang jauh melampaui volume pengiriman perdana, pelaku usaha di Sarawak melihat pengiriman 1.000 ton ini sebagai pintu masuk bagi kerja sama dagang beras yang lebih besar antara kedua negara ke depannya.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |