Sanad di Tengah Zaman Instan

6 hours ago 13

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di negeri yang sekarang lebih mudah menemukan “ustaz viral” daripada tukang tambal ban, bermuncul fenomena baru: pelatihan baca Al-Fatihah bersanad. Sebagian orang heran. “Lho, baca Al-Fatihah saja pakai sanad?”

Mereka mungkin terbiasa hidup di zaman serba instan: kopi instan, mi instan, bahkan kesimpulan agama pun maunya instan. Tinggal buka video pendek tiga menit, lalu merasa sudah setingkat Imam Ghazali.

Padahal, dalam tradisi Islam, ilmu itu bukan gorengan pinggir jalan yang bisa dicomot sembarang tangan. Ilmu itu diwariskan. Dijaga. Dipastikan kemurniannya. Ada jalurnya. Ada gurunya. Ada sanadnya.

Sekarang bahkan dibuat sertifikat sanadnya. Lengkap. Tinggal dibingkai, dipasang di ruang tamu, bersama foto wisuda. Tak cuma untuk al-Fatihah, tapi juga tahfiz al-Qur’an bersanad.

Di tengah dunia yang ribut dengan algoritma media sosial, cukup menarik bahwa salah satu tokoh publik yang konsisten berbicara tentang sanad justru seorang menteri aktif: Nusron Wahid.

Ia tampil bak akademisi yang tak cukup mengambil teks dari sitasi. Ia berbicara soal sanad bukan sekali dua kali. Terakhir, ia tampil dalam Pengajian Majlisul Ilmi Persatuan Ummat Islam (PUI) di Jakarta.

Di situ, antara lain, ia menegaskan bahwa “agama itu nasihat, tapi pertanyaannya: dari mana kita mengambil sanadnya?” Ia mengingatkan bahwa sanad adalah kunci menjaga kemurnian ilmu.

Sebelum itu, di Haul Guru Tua Alkhairaat di Palu, Sulawesi Tengah, ia mengingatkan bahaya belajar agama tanpa sanad, misalnya hanya dari media sosial seperti pengajian ustadz tak jelas di Youtube.

Bahkan di Kajian Tarawih Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok, ia mengaitkan sanad dengan etika kepemimpinan publik: bahwa keputusan tanpa rujukan yang jelas sama bahayanya dengan fatwa tanpa sanad.

Ini menarik. Sebab biasanya pejabat sekelas menteri kalau bicara di podium sibuk membahas hilirisasi, digitalisasi, industrialisasi, atau minimal revitalisasi.

Tetapi Nusron justru membicarakan sanad. Seolah ia menteri ahli sanad. Itu mungkin karena ia lahir dari kultur pesantren, tradisi yang memang sejak awal berdiri hidup dari mata rantai keilmuan.

Dalam tradisi pesantren, seorang kiai bukan sekadar orang yang pintar bicara. Ia harus jelas “ngajinya ke siapa”. Kitab apa, dipelajari dari siapa. Harus jelas.

Bahkan doa dan wirid, ijazahnya mesti jelas dari siapa. Sebab dalam tradisi ulama, ilmu tanpa sanad ibarat uang miliaran rupiah tanpa nomor seri: tampak meyakinkan, tapi belum tentu asli.

Maka jangan heran bila di pesantren, sanad bisa lebih penting daripada gelar akademik. Doktor bisa banyak. Profesor bisa berjejer. Tetapi sanad adalah soal kesinambungan ruh ilmu.

Dalam tradisi pesantren klasik, keulamaan seseorang sulit diterima bila jalur keilmuannya tidak jelas. Sebab sanad bukan sekadar daftar nama. Ia mekanisme verifikasi peradaban Islam sejak berabad-abad.

Imam Abdullah bin al-Mubarak asal Turkmenistan sampai berkata: “Al-isnādu minad-dīn. Lawlā al-isnādu la qāla man syā’a mā syā’a.” Sanad itu bagian dari agama. Kalau tidak ada sanad, orang akan bebas berkata sesukanya.

Dan benar saja. Hari ini orang memang berkata sesukanya. Baru membaca satu utas media sosial, langsung merasa sudah mujtahid. Baru menghafal dua hadis, sudah berani membid’ahkan kampung sebelah. Baru belajar bahasa Arab dari aplikasi, langsung merasa layak mengoreksi Imam Nawawi.

Inilah zaman ketika Google dianggap lebih sakti dari guru. Padahal Google itu gudang data, bukan gudang hikmah. Ia bisa memberi jawaban cepat, tapi tidak bisa memberi adab. Mesin pencari bisa menampilkan ribuan fatwa, tetapi tak bisa menanamkan kehati-hatian spiritual.

Karena itu, tradisi sanad lahir sebagai benteng peradaban ilmu. Dalam Islam, menurut Nusron, sanad memiliki beberapa bentuk penting.

Pertama, sanad nasab (dam) atau sanad keturunan. Ini terutama berlaku pada jalur Ahlul Bait, keturunan Rasulullah SAW. Dalam tradisi Islam klasik, nasab bukan sekadar kebanggaan biologis, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual.

Karena itu, jalur keturunan Nabi dijaga sangat ketat melalui ilmu nasab. Bahkan banyak kitab khusus yang menelusuri silsilah Ahlul Bait hingga Rasulullah SAW. Bukan untuk feodalisme darah, tetapi untuk menjaga amanah sejarah.

Kedua, sanad talaqqī, terutama dalam al-Qur’an. Inilah yang sekarang ramai dalam pelatihan baca al-Fatihah atau tahfiz al-Qur'an bersanad. Seorang qari belajar langsung dari guru, guru itu belajar dari gurunya lagi, terus bersambung hingga Rasulullah SAW.

Jadi ketika seseorang membaca “Māliki yaumid-dīn” dengan panjang tertentu, ada jalur periwayatan bacaannya. Ada verifikasi makhraj, tajwid, bahkan irama bacanya. Tidak asal baca, karena ia sadar bacaan al-Fatihah menentukan sah-tidaknya salat.

Al-Qur’an sejak awal memang diturunkan dengan metode talaqqī: dibaca langsung, didengar langsung, dikoreksi langsung. Bukan sekadar PDF yang diunduh lalu dibaca sendiri sambil rebahan.

Ketiga, sanad keilmuan. Ini mencakup fikih, tafsir, hadis, usul fikih, hingga berbagai disiplin ilmu Islam. Seorang murid belajar kitab kepada guru yang memiliki jalur transmisi ilmu jelas sampai kepada para imam besar, lalu kepada sahabat, lalu kepada Rasulullah SAW.

Maka ketika seorang ulama berbicara, sebenarnya di belakangnya berdiri ribuan ulama lain yang menjadi mata rantai ilmu. Itulah sebabnya otoritas ulama klasik begitu kuat. Mereka tidak berbicara sendirian. Mereka membawa sejarah panjang ilmu.

Keempat, sanad awrād dan kesufian. Dalam tradisi tarekat, wirid tidak boleh asal comot seperti diskon marketplace. Ada ijazahnya. Ada adabnya. Ada kesiapan ruhaniahnya. Sebab dzikir bukan sekadar pengulangan bunyi, melainkan proses penyucian jiwa.

Karena itu awrād diwariskan dari mursyid kepada murid secara berjenjang. Dari satu generasi ke generasi lain. Banyak tarekat besar seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah, semuanya hidup melalui sanad ruhani yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

Kelima, sanad mushāfahah. Ini mungkin yang paling halus tetapi paling menggetarkan. Yakni sanad melalui pertemuan langsung, jabat tangan, kedekatan, khidmah kepada ulama dan para wali.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |